Bab 24: Bidak yang Berkhianat Pelabuhan Hamburg di pagi buta tampak seperti raksasa baja yang menggeliat dalam kabut. Aurora berdiri di tepi dermaga, menatap air laut yang hitam dan berminyak, tempat ia hampir kehilangan dirinya semalam dalam pelukan Aditya. Di dalam sakunya, cincin stempel milik Raden terasa seberat gunung. Micro-film di dalamnya bukan lagi sekadar asuransi; itu adalah belati yang siap ia tancapkan ke jantung kekuasaan Nadia Rahma. "Julian," panggil Aurora saat kembali ke dalam gudang. Suaranya dingin, seolah-olah embun beku di luar sana telah meresap ke dalam pita suaranya. Julian sedang mengemas tas mereka, gerakannya kasar dan penuh amarah yang tertahan. "Kita pergi sekarang, Lara. Aku sudah memesan tiket bus menuju Amsterdam. Dari sana kita bisa menghilang ke pedes

