1. Mutasi Kerja
Yerin keluar dari ruangan atasannya dengan langkah yang terburu-buru. Telapak tangannya masih terasa dingin, kuku-kuku jarinya tanpa sadar mencengkeram ujung blazer. Ia berjalan cepat menyusuri koridor, matanya lurus ke depan, tak menoleh meski beberapa pegawai lain menyapanya.
Pantry terasa sepi. Hanya suara kulkas yang berdengung pelan. Yerin meraih gelas plastik dari rak, lalu menekan tuas dispenser. Air mengalir, mengisi wadah itu hingga penuh. Ia meneguknya sekali, dua kali, sampai gelas itu kosong. Air dingin mengalir di kerongkongan, tapi tak cukup mendinginkan panas di dadanya.
Ditatapnya gelas kosong itu sejenak. Lalu ia mengembuskan napas panjang, sampai bahunya ikut turun.
Gadis berusia dua puluh enam tahun yang bernama lengkap Yerin Claretta, memejamkan mata sejenak, pikirannya kini berkelebat ke lima belas menit sebelumnya, ketika ia mengetuk pintu hitam di ujung koridor itu.
Lima belas menit sebelumnya.
“Masuk.”
Yerin membuka pintu dan melangkah ke dalam ruangan yang langit-langitnya terasa begitu tinggi. Luasnya dua kali lipat dari kamar kosnya. Udaranya dingin, beraroma kayu dan kertas. Di balik meja besar, atasannya, Arga Wijaya, duduk dengan siku di atas meja, matanya tertuju pada layar komputer.
“Bapak ingin bicara dengan saya?” Suara Yerin terdengar sopan, terkontrol.
Arga mengangkat tangan, memberi isyarat duduk. Baru setelah Yerin duduk di kursi berlapis kulit yang terasa dingin, atasannya itu mengalihkan pandangan dari layar.
“Minggu depan kamu saya mutasi ke kantor pusat. Di Jakarta.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke pangkuan Yerin. Ia merasakan kedua tangannya terkepal kuat. Matanya membelalak, ia berusaha mencerna kata Jakarta yang baru saja disebut.
“Mu-tasi ke Jakarta, Pak?” Suaranya tergagap. Ada yang menyumbat di tenggorokan.
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jangan berpikir yang bukan-bukan, Yerin. Saya sengaja mengajukan nama kamu agar bisa bekerja langsung di kantor pusat.” Ia menekankan kata sengaja. “Percayalah, kamu tidak dibuang. Ini kesempatan kamu untuk menuju karier yang lebih baik.”
Yerin mendengar setiap kata itu, tapi pikirannya sudah terlempar ke tempat lain. Ia membayangkan gedung-gedung tinggi, jalanan macet, suara klakson, dan, ia memotong bayangan itu sebelum sempat merambat lebih jauh.
“Saya lihat etos kerjamu sangat bagus di sini,” Arga melanjutkan, “dan kebetulan sekali di sana sedang kekurangan pegawai yang bertalenta sepertimu.” Ia menjeda. “Ingat kan, tamu dari kantor pusat yang beberapa waktu lalu datang ke perusahaan kita?”
Yerin mengangguk kaku. Iya, ia ingat. Dua orang, laki-laki dan perempuan. Mereka tersenyum ramah, berkeliling, bicara dengan beberapa pegawai. Waktu itu Yerin mengira mereka hanya melakukan kunjungan rutin. Ternyata mereka mengaudit. Ternyata sejak saat itu, namanya sudah terpilih.
Seharusnya ia merasa bangga. Seharusnya ia senang.
Tapi yang ia rasakan saat ini adalah sesuatu yang berat menekan ulu hati, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas dadanya dari dalam.
Kini, berdiri di pantry dengan gelas plastik kosong di tangan, Yerin menatap ubin lantai bermotif abu-abu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar yang tak kunjung reda.
Keputusan sudah dibuat. Ia tidak bisa mengelak.
Jakarta menunggunya dengan paksa, bersama semua yang selama empat tahun ini ia kubur rapat-rapat.
***
Sore itu langit Surabaya berwarna jingga. Yerin melambatkan langkahnya di depan kedai kecil dengan papan kayu bertuliskan Sheila's Kitchen. Dari balik jendela kaca, ia melihat sosok pemiliknya sedang mengelap meja. Tanpa berpikir lama, ia membuka pintu.
Bel pintu berbunyi.
Sheila menoleh, lalu tersenyum. “Wah, baru tiga hari gak mampir, udah kangen aja?”
Yerin menjawab dengan senyum tipis yang langsung pudar begitu ia duduk di kursi favoritnya dekat jendela.
Sheila mengamatinya sebentar sebelum berjalan ke belakang. Tak lama, ia kembali dengan segelas jus semangka yang masih ada embun di permukaan gelasnya dan sepotong cake yang biasa Yerin lahap habis dalam hitungan menit. Diletakkannya kedua menu itu di atas meja.
“Kenapa? Kok keliatannya lesu banget, Rin?”
Yerin mengangkat kepala. Ia berusaha menarik sudut bibirnya ke atas, tapi hasilnya hanya senyum yang terasa berat di pipinya.
Sheila menarik kursi di hadapannya dan duduk. Kedua tangannya bersilang di atas meja, menunggu.
Jari-jari Yerin menggenggam gelas jus itu. Air mengembun membasahi telapak tangannya. “Aku dimutasi kerja, Shel.”
“Ke?”
Yerin menarik napas, menghelanya perlahan. “Jakarta.”
Sheila yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya ke belakang mendadak tegak. Alisnya terangkat.
Empat tahun. Sudah empat tahun Yerin meninggalkan Jakarta. Dulu, begitu sidang skripsi dan wisuda selesai, ia langsung mengemas koper tanpa memberi tahu siapa pun termasuk orangtuanya. Ia memilih Surabaya sebagai tempat persinggahan karena ia butuh kota yang cukup besar untuk menghilang, tapi cukup jauh untuk tidak bisa dijangkau masa lalu. Perceraian orangtuanya juga menjadi tamparan terakhir yang meyakinkannya, ia tidak punya tempat untuk pulang. Ia harus membangun rumahnya sendiri.
Sheila tidak buru-buru menawarkan solusi. Ia tahu bagaimana Yerin berjuang sampai bisa berada di posisi sekarang. Ia hanya mengusap lembut punggung tangan sahabatnya.
“Pikirkan baik-baik, Rin. Mungkin ini panggilan buat kamu pulang. Menemui keluarga kamu di sana.”
Yerin menggeleng. Perlahan. Lemah. “Pulang? Keluarga?” Suaranya nyaris seperti bisikan. Ayahnya sudah memiliki istri baru dan dua orang anak. Ibunya pun sama saja, juga sudah menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Yerin sadar ia bukan anak yang mereka harapkan. Ia adalah peninggalan dari pernikahan yang gagal. Namun, ia bangga dengan hidup yang ia bangun sendiri di Surabaya. Selama empat tahun, ia belajar menjadi cukup untuk dirinya sendiri.
~.~
Arga Wijaya memberinya waktu empat puluh delapan jam. Sekarang tersisa kurang dari enam jam, dan Yerin masih belum bisa memutuskan, ya atau tidak.
Layar komputer di depannya menampilkan laporan yang sama sejak satu jam lalu. Yerin membiarkan pandangannya kabur pada deretan angka-angka yang tak lagi ia baca. Jari-jarinya menggenggam pulpen tanpa digerakkan. Ia sadar ia sedang menunda keputusan yang seharusnya sudah diambil.
“Rin.”
Sebuah tepukan di pundak membuatnya tersentak. Ia menoleh, menemukan Mita berdiri di sampingnya dengan raut terburu-buru.
“Dipanggil Pak Arga. Diminta ke ruangannya sekarang.”
Yerin mengangguk, mengecek jam di layar komputer. “Oke. Makasih.”
Ia merapikan berkas yang sebenarnya sudah rapi, berdiri, lalu berjalan menyusuri koridor. Setiap langkah terasa berat. Ia berhenti di depan pintu hitam itu, pintu yang sama yang tiga tahun lalu ia buka pertama kali dengan perasaan lega karena diterima bekerja. Sekarang pintu yang sama terasa seperti gerbang.
Ia mengetuk.
“Masuk.” Suara Arga terdengar dari dalam.
Yerin menarik napas, mendorong pintu, dan melangkah masuk. Arga sedang memegang telepon, berbicara dengan nada cepat. Ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya untuk menunggu. Yerin berdiri di depan meja, menahan diri untuk tidak menggenggam erat file yang dia bawa.
Arga menutup telepon. Ia menatap Yerin dengan senyum yang terkesan telah tahu segalanya.
“Oke, Yerin. Saya menunggu keputusan kamu hari ini.”
“Saya pikir masih ada beberapa jam lagi untuk—”
“Saya tahu.” Arga menyandarkan tubuhnya di kursi. “Saya sudah memastikan kalau kamu bersedia.”
Yerin terdiam. Matanya membelalak. “Apa? Tapi saya belum memutuskan—”
“Saya paham, dan saya mohon maaf. Tapi di sana mereka sudah menyiapkan tempat untuk kalian.”
Yerin merasakan dadanya sesak. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, mungkin penolakan, mungkin juga sebuah alasan, tapi kata-kata itu luruh sebelum sempat terbentuk. Arga menatapnya dengan tatapan yang mengerti, tapi juga tak memberi ruang untuk tawar-menawar.
Malam itu Arga mengadakan acara perpisahan di sebuah restoran dengan ruang karaoke. Lampu ruangan berwarna temaram, suara tawa dan alunan musik bercampur jadi satu. Yerin duduk di sudut sofa, memegang gelas berisi jus jeruk yang sudah sejak tadi ia biarkan hangat.
Di seberang ruangan, Arga berdiri bersama dua pegawai lain yang juga terpilih. Suaranya terdengar antusias saat menjelaskan mess yang sudah disiapkan perusahaan di Jakarta. “Kalian tidak perlu khawatir untuk tempat tinggal sementara. Setelah tiga bulan, kalian bisa mencari tempat permanen di sana.” Ia tersenyum ke arah mereka bertiga. “Dan saya berharap kita bisa bekerja sama lagi suatu saat nanti.”
Yerin menunduk. Di matanya, semua orang tampak bersemangat. Semua orang menganggap mutasi ini sebagai batu loncatan. Semua orang, kecuali dirinya.
“Hei, Rin.”
Yerin menoleh. Anya, salah satu dari dua pegawai yang akan pindah bersamanya duduk di sampingnya sambil membawa piring kecil berisi potongan kue.
“Persiapan udah beres?” tanya Anya di sela musik yang bertalu.
Yerin mengangguk. Ia tak ingin bicara banyak malam itu. Ia hanya ingin suasana ini berakhir.
~.~
Koper kedua baru saja dirapatkan pukul sebelas malam. Kamar kos Yerin terasa lebih hampa dari biasanya. Lemari pakaiannya setengah kosong, rak bukunya nyaris tak tersisa.
Sheila duduk di lantai, melipat jaket tebal yang Yerin bawa untuk berjaga-jaga di Jakarta. “Udah ini aja dulu?” tanyanya.
“Iya. Nanti kalau udah punya tempat tinggal tetap, aku minta tolong kamu kirimin sisanya.”
Sheila mengangguk. Ia merapatkan ritsleting koper, lalu menepuknya dua kali.
Yerin berdiri di samping dua koper yang sudah siap. Keduanya gelap, polos, seperti ia sengaja memilih warna yang tak ingin menarik perhatian. Ia menatapnya dalam diam.
Sheila mendekat, mengusap punggung Yerin dengan gerakan lembut. “Harus semangat, jangan sedih. Aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini.”
Yerin hanya mengangguk. Matanya masih tertuju pada dua koper itu.
“Kapan-kapan aku akan nengokin kamu di sana.”
Yerin menoleh. Ia tersenyum, senyum yang kali ini tidak dipaksakan, meski masih berat. Ia memeluk Sheila dari samping, menundukkan wajahnya di bahu sahabatnya itu.
Sheila membalas pelukan itu tanpa berkata-kata.
Di luar, angin malam Surabaya bertiup pelan. Esok pagi, Yerin akan meninggalkan kota yang selama empat tahun menjadi tempatnya pulang, dan kembali menuju kota yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan hancur.