bc

The Perfect Disaster

book_age18+
220
IKUTI
1.6K
BACA
HE
opposites attract
drama
sweet
bxg
city
secrets
like
intro-logo
Uraian

Niatnya cuma jadi bestie suportif nemenin sahabat stalking gebetan, eh Luna malah kena apes! Gara-gara insiden narik kemeja di jam malam, dia berakhir nikah dadakan di kantor kepala desa dengan saksi bapak tukang sate. Like, seriously?!

Suaminya? Alaric Baratajaya. Ganteng banget tapi kaku mirip lembar kerja Excel. Bagi Alaric, Luna itu malapetaka estetik yang ngerusak hidup sempurnanya. Sekarang Luna terjebak di rumah mewah yang dinginnya ngalahin kutub utara karena sikap Alaric yang hobi silent treatment.

Mampukah Luna meluluhkan si "Mr. Perfect" ini, atau mereka bakal selamanya jadi orang asing di bawah satu atap?

Karena ternyata, takdir paling manis sering kali bermula dari kejadian yang paling nggak banget!

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Luna menatap cincin di jari manis itu dengan berbunga-bunga campur geli. Lingkar platinum mata satu itu pas sekali di jarinya sekalipun tanpa grafir nama dan tanggal pernikahan. Letupan rasa bahagia membuncah sewaktu Luna membayangkan cincin yang sama juga dikenakan Alaric. Ah, ini seperti mimpi. Alaric Baratajaya, laki-laki tampan nan angkuh itu kini jadi suami Luna. Yang lebih ajaib, mereka mendadak harus nikah karena digerebek hansip. Tawa Luna meledak mengingat itu. Ia tertawa sejadi-jadinya hingga keluar air mata. Luna ingat betul ekspresi panik campur kesal Alaric sewaktu mereka tertangkap basah oleh hansip dua malam lalu. Mereka sebenarnya tak melakukan hal yang melanggar susila. Waktu itu Luna sedang menemani Fanya, temannya, menguntit gebetannya, Natha, yang tak lain sahabat Alaric. Fanya sedang dimabuk cinta oleh Natha. Ia menjadi over kepo dan selalu ingin tahu hal yang dilakukan Natha. Sore itu Natha bersama Alaric berburu foto. Memang hobi dua sahabat itu adalah fotografi. Acap kali mereka hunting foto bersama. Fanya mengajak Luna untuk menguntit mereka karena ia ingin melihat Natha yang menurutnya terlihat sangat ganteng saat beraksi dengan kamera. Rupanya setelah selesai dengan urusan potret-memotret, Natha dan Alaric tak langsung pulang, melainkan bercengkerama di suatu warung sate sambil makan malam dan dilanjutkan ngopi. Fanya yang mengamati dari dalam mobil bersama Luna jadi tak sabar dan memutuskan untuk turun menyapa mereka berdua. Luna yang kaget dengan kenekatan Fanya ikut turun dan berusaha mencegah temannya itu. Tepat berbarengan Natha dan Alaric keluar dari warung, dan mereka sama-sama terkejut melihat Fanya dan Luna. Fanya hanya terdiam kaku di tempat, sementara Luna malu bukan main dan memutar otak agar bisa mengeluarkan alasan yang masuk akal. Untunglah Natha dengan ramah dan hangat menyapa mereka berdua meskipun ia tidak bisa menutupi rasa bertanya-tanya yang tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan Alaric, seperti biasa, hanya menunjukkan sikap angkuh dan dingin. Lalu tanpa mereka sadari, jam sudah menunjuk pukul 21.00 dan mereka berempat lupa bahwa mereka tengah berada di daerah yang menerapkan hukum wajib nikah bagi lelaki dan perempuan yang berduaan di atas pukul 21.00. Mereka kaget sewaktu pemilik warung sate mengingatkan. Lalu semua panik dan segera berlari ke mobil masing-masing. Tepat saat itu dua orang hansip tampak dari kejauhan. Sialnya, Luna terjatuh dan refleks ia menarik Alaric yang berada di depannya sehingga laki-laki itu ikut terjatuh. Yang terjadi selanjutnya, Luna dan Alaric harus pasrah digiring ke rumah kepala desa dan dinikahkan malam itu juga dengan wali nikah modin setempat, saksi dua orang hansip, dan mahar sebesar Rp100.000,00 yang dikeluarkan Alaric dari dompet dengan ekspresi seolah selembar uang itu bernilai 1 miliar. Segala bantahan dan pembelaan yang mereka lakukan patah dengan telak. Aturan pun ditegakkan: siapa pun yang tertangkap basah sedang berduaan di atas pukul 21.00 dinikahkan paksa tanpa pandang bulu. Lalu di manakah Fanya dan Natha? Mereka sudah di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing tanpa pernah menyangka dua teman mereka malam itu tiba-tiba harus mengucapkan janji suci pernikahan di bawah paksaan dengan dihadiri oleh bapak pemilik warung sate yang berbaik hati menyumbangkan beberapa porsi sate dagangannya sebagai syukuran pernikahan kecil-kecilan. Mengingat itu semua, Luna tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh lucu mengingat Alaric mati-matian berusaha mengajukan pembelaan. Alaric yang biasa mendapatkan apa pun yang dia mau, malam itu tak berkutik di depan hansip dan kepala desa, apalagi setelah diancam jika tidak mau dinikahkan terpaksa akan diadukan ke jalur hukum. Sementara Luna pasrah saja. Menikah dengan lelaki sekeren Alaric Baratajaya, siapa yang tidak mau? “Luna, kenapa kamu tertawa sendiri?” tegur satu suara. Luna menoleh dan tersenyum ke arah mamanya yang muncul di pintu. Ia lalu mengusap matanya yang basah karena tertawa terlalu kencang. “Alaric dan orang tuanya sudah datang. Ayo kamu siap-siap dan segera temui mereka.” Luna membenahi riasan wajahnya yang sedikit berantakan karena air mata, lalu berjalan ke luar kamar. Di ruang tamu ia lihat papanya sudah duduk bersama kedua orang tua Alaric yang tampak berwajah ceria. Sedangkan Alaric duduk di samping orang tuanya dengan raut masam. Luna merasakan desiran halus di dadanya tatkala beradu pandang dengan Alaric. Ya Tuhan, laki-laki tampan itu kini sudah jadi suaminya. Andai sekarang mereka hanya berdua, tentu Luna sudah menarik lengan Alaric seperti dua malam lalu di depan warung sate. Tanpa sadar Luna tertawa geli. “Apa yang lucu? Dasar perempuan aneh,” Alaric berkomentar sinis. “Alaric, sopan sedikit. Kita sedang bertamu,” tegur Pak Baratajaya. Alaric mendecak kesal. Luna berusaha menahan tawa. Alaric yang ia kenal memang begitu: dingin, angkuh, sinis. Yang mengherankan, itu hanya dilakukan Alaric kepadanya entah kenapa. Dengan orang lain Alaric ramah. Malam ini orang tua Alaric bertandang ke rumah keluarga Luna untuk membicarakan pesta pernikahan yang menurut mereka harus segera digelar. Meski Alaric tak mau, kehendak orang tuanya tak bisa ia bantah. Maklum, Alaric berasal dari keluarga cukup terpandang dan punya banyak kolega. “Jadi sebaiknya kita segera menentukan kapan pestanya akan digelar,” Pak Baratajaya memulai pembicaraan. Semua yang dibahas dan disepakati kedua besan hanya dijawab Alaric dengan kata “terserah”, sementara Luna hanya tersenyum mengangguk. Bu Baratajaya tampak sudah tak sabar mengajak Luna ke butik langganannya untuk memesan kebaya. Orang tua Alaric memang terlihat sangat bahagia atas pernikahan mereka, sekalipun itu harus terjadi dengan cara digerebek hansip terlebih dahulu. Bu Baratajaya akhirnya lega setelah selama ini khawatir lantaran Alaric lebih sering bersama Natha daripada bersama teman perempuan. “Akhirnya punya menantu juga,” ucap Bu Baratajaya ketika kali pertama tahu Alaric dan Luna sudah menikah. Sementara orang tua Luna, meski semula kaget, juga menyambut bahagia pernikahan itu karena Luna sudah lama tidak mengenalkan satu laki-laki pun kepada orang tuanya. Kesimpulannya, pernikahan dadakan ini menjadi semacam durian runtuh bagi kedua pasang orang tua, tapi menjadi malapetaka untuk Alaric dan hadiah manis untuk Luna. “Kalau empat ribu undangan cukup?” tanya Bu Baratajaya. Alaric yang mendengarnya langsung terbelalak. “Nggak bisa keluarga aja yang diundang, Ma? Buat apa sebanyak itu?” protes Alaric. “Ya, nggak bisa dong! Kolega Papa Mama kan banyak, belum lagi undangan dari pihak Luna,” kilah Bu Baratajaya. “Tapi nggak perlu sampai empat ribu undangan juga kali, Ma. Buat apa?” Alaric tetap tak terima. “Kamu ini gimana? Ini kali terakhir Papa-Mama mantu, dibuat sedikit besar nggak masalah dong. Ini nggak akan terulang lagi.” “Mamamu benar,” lerai Pak Baratajaya. “Pernikahan adalah peristiwa indah sekali seumur hidup! Kalau memang ada rezeki, nggak ada salahnya berbagi kebahagiaan dengan banyak orang.” “Tapi buat saya ini bukan peristiwa indah, ini peristiwa buruk!” Wajah Alaric tampak sangat kesal sehingga Luna nyaris tertawa melihatnya. ‘Kenapa sih Alaric harus se-lebay itu? Tapi meskipun marah-marah, suamiku itu tetap ganteng,’ kikik Luna dalam hati. “Alaric, sopan sedikit,” tegur Pak Baratajaya. Alaric mendengus dan meminum habis minuman yang tersaji di hadapannya. Luna terkikik. Apa perlu ia ambilkan sebaskom air es agar Alaric bisa mendinginkan hatinya yang panas? Tawa Luna terhenti saat Alaric mendelik ke arahnya. “Apa ketawa-ketawa?” “Alaric ...” tegur Pak Baratajaya lagi. “Maaf ya, Pak, Bu. Alaric memang kurang sopan tapi sebenarnya dia anak yang baik. Saya bisa pastikan Alaric akan menjadi suami yang baik dan bisa membahagiakan Luna.” “Kenapa jadi Papa yang berjanji sih?” protes Alaric. “Jadi berapa undangan ya?” sela Bu Baratajaya. *** “Ya, Ma,” Alaric menjawab telepon dengan malas-malasan. “Mama minta nomor handphone Luna dong, Sayang. Mama lupa belum minta.” “Buat apa sih, Ma?” “Masa nggak boleh minta nomor handphone mantu sendiri?” Alaric langsung mual mendengar itu. Ia sebenarnya malas memberikan nomor HP Luna kepada mamanya. Ia tidak mau dua perempuan itu makin akrab. Luna memang perempuan manis yang bisa dengan mudah menarik hati mertua. Sementara mamanya mulai kelihatan amat sayang kepada Luna. Sejak Erin, kakak perempuannya, pindah mengikuti tugas kerja suaminya, Mama jadi kehilangan anak perempuan yang bisa ia ajak bercerita dan berbelanja. Wajar kalau sekarang mamanya terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Luna, yang otomatis juga jadi anak perempuan dalam keluarga. Melihat sifat Luna yang santun, Alaric tidak kaget kalau Luna akan jadi kesayangan orang tuanya. Membayangkan itu semua, wajah Alaric berubah muram. Natha yang sedari tadi duduk di hadapan Alaric keheranan melihatnya. “Kok diam aja, mana nomornya?” tegur suara di seberang sana. “Iya nanti di-WA. Tapi buat apa sih?” “Mama mau ajak Luna ke desainer untuk membuat kebaya. Setelah itu ke toko furniture.” “Toko furniture?” “Iya. Mama mau minta Luna memilih perabotan untuk rumah kalian nanti. Setelah pesta nikah, kalian pindah rumah ya. Papa dan Mama sepakat rumah yang di Jalan Bahagia untuk kalian berdua. Lokasinya kan nggak terlalu jauh dari rumah kita ini. Jadi, kalau Papa Mama kangen bisa sering main.” Alaric mengumpat pelan. Mimpi buruk tahap dua akan segera dimulai. Tidak cukupkah pernikahan di bawah tekanan itu, undangan yang naik ke angka 4.300 lembar, dan sekarang ia dan Luna harus tinggal serumah? Seburuk inikah nasibnya? “Kenapa harus tinggal serumah sih, Ma? Kan cuma nikah main-main.” “Enak aja pernikahan main-main. Ini pernikahan serius meskipun kamu nggak suka caranya. Ingat Alaric, di keluarga kita nggak ada yang bercerai. Semua pernikahan itu seharusnya sekali seumur hidup. Itu namanya komitmen. Sebagai pasangan yang telah menikah, sudah sewajarnya kalian tinggal serumah. Mana nomor Luna? Mama sudah nggak sabar mau belanja sama mantu.” “Iya, segera di-WA,” tukas Alaric lalu menutup telepon. Ia malas mendebat mamanya saat ini. “Kenapa? Kok lo pucat gitu?” tegur Natha. “Kelar hidup gue.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.7K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
11.7K
bc

TERNODA

read
202.2K
bc

Kali kedua

read
222.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook