BAB 4

1836 Kata
“Itu sudah cangkir ketiga hari ini,” tegur Natha. Alaric menyengir. Hari ini ia sudah meneguk tiga cangkir kopi. Tapi itu tak berhasil membuat matanya lebih terbuka. Kantuk hebat menyerangnya. “Semalam sampai jam berapa?” “Jam empat.” “Pantesan.” “Rosi itu hot banget. Bodinya seksi, kissing-nya jago.” Alaric terkekeh. “Hati-hati.” “Nggak apa kan. Menikmati sepuluh hari terakhir kebebasan gue. Setelah itu gue harus jadi suami yang baik hahaha ... Pernikahan sialan.” Alaric lalu menceritakan betapa b*******h ia dan Rosi semalam. Natha hanya mendengarkan sambil menghabiskan makan siangnya. Sebenarnya Natha tidak setuju dengan hobi Alaric berkunjung ke dunia malam dan berkencan dengan cewek-cewek random. Memang tidak ada ikatan, hanya having fun, dan setahu Natha yang Alaric dan cewek-cewek itu lakukan paling jauh hanya berciuman. Tapi tetap saja Natha tak setuju. Apalagi kini Alaric sudah menikah. Ya, bagaimanapun pernikahan itu sudah terjadi. Jadi Alaric berstatus menikah dan menurut Natha ia harus memikirkan perasaan Luna. “Gue baru ingat, ada yang disebut pembatalan pernikahan. Bisa dong ya? Kan gue nggak bercerai, hanya membatalkan pernikahan. Luna juga belum gue apa-apain. Lo tahu nggak prosesnya gimana?” Natha menghentikan suapannya dan menatap Alaric. “Lo mau batalin pernikahan?” “Yup.” “Di saat undangan sudah naik cetak? Di saat kebaya Luna lagi dijahit? Di saat pesta pernikahan lo tinggal hitungan hari? Di saat orang tua lo sedang berbunga-bunga hatinya? Lo tega ngancurin hati nyokap lo?” cecar Natha tajam. “Ya, bukan gitu! Maksud gue ...,” Alaric tergagap. Kalau sudah berhubungan dengan ibunya, Alaric akan berubah menjadi sangat lembut dan sebisa mungkin tidak mengecewakan hati ibunya. “Lagipula, yang akan lo tinggalin bukan cewek sembarangan. Ini Luna. Gue ulangi, Luna!” tandas Natha. Alaric terdiam. “Lo sebaiknya pikir baik-baik,” ucap Natha lalu berdiri dan meninggalkan Alaric yang masih terdiam di kursi. *** Besok malam pesta pernikahan akan digelar. Semua persiapan berjalan lancar sesuai rencana. Rumah yang akan mereka tempati bahkan sudah di-touch up atas ide Bu Baratajaya dengan menambahkan sentuhan pink di sana-sini. “Supaya kamu semakin betah di rumah,” ujar Bu Baratajaya waktu itu. Luna sangat terharu dengan perhatian ibu mertuanya. Bu Baratajaya bahkan tidak membedakannya dengan Mbak Erin yang datang dari Swedia bersama suami dan kedua buah hatinya. “Duh, yang besok resmi jadi Nyonya Alaric Baratajaya,” goda Fanya. Luna sengaja meminta Fanya menginap untuk menemaninya di malam terakhir ia menyandang status gadis. Sebenarnya Luna sendiri bingung. Ia kan sudah menikah. Tapi cara mereka menikah yang tidak biasa membuat ia merasa masih gadis dan baru besok ia dan Alaric resmi jadi suami-istri. “Ternyata rasanya tetap deg-degan.” “Lucu juga ya. Biasanya orang deg-degan saat akan akad nikah, ini malah saat akan resepsi,” Fanya tertawa kecil. “Menurut lo, gue bisa nggak ya jadi istri?” “Ya bisalah. Kenapa lo jadi mikir kayak gitu?” “Gue belum jago masak, kalau Alaric nggak suka masakan gue gimana?” “Menjadi istri kan ukuran bisa atau nggaknya bukan dari memasak. Yang penting lo selalu menjadi pendukung setia suami lo dalam keadaan apa pun. Emangnya lo nggak pakai asisten?” “Rumahnya mungil kok. Gue rasa sih masih bisa ngerjain sendiri. Lagian gue nggak biasa pakai asisten, nyokap gue juga bisa nggak pakai asisten.” “Ya udah kalau gitu. Urusan makanan kan bisa beli.” “Tapi gimana ya kalau gue sama Alaric tetap nggak akur?” “Eh, mulai besok panggilnya Mas Alaric lho. Yang mesra, Mas Alaric,” goda Fanya. Luna terbahak. “Ih, geli banget manggil Mas Alaric.” “Lho harus itu. Supaya mesra dan jadi akur.” Luna terbahak lagi. Sementara Luna sibuk dengan segala kekhawatirannya, Alaric tengah bersantai di salah satu klub malam ternama. Dipeluk dan diciuminya dengan penuh gairah seorang perempuan cantik bertubuh sintal. Alaric tak peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Ia dan Cindy, nama perempuan itu, terus saling berpelukan erat di atas sofa. Alaric hanya ingin merayakan malam terakhir kebebasannya dengan perempuan mana pun yang mau. Alaric ingin sejenak mengosongkan pikirannya dari segala hal yang membuatnya pusing. Mulai besok ia akan menjadi pria rumahan dan tak mungkin lagi berkunjung ke klub malam, apalagi mencumbui perempuan lain seperti sekarang. Mulai besok, statusnya berubah, segalanya berubah, hidupnya berubah. Baiklah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, ia memutuskan meneruskan pernikahannya dengan Luna. Di antara semua pertimbangan itu, pertimbangan terpenting nomor dua adalah ia tak ingin mengecewakan hati mamanya, apalagi sampai membuat perempuan yang melahirkannya itu meneteskan air mata. Mama sepertinya menjadi salah satu orang yang paling bahagia dengan pernikahan ini. Biarlah Mama terus bahagia. Lalu apa pertimbangan yang paling penting? Luna. Itu pertimbangan utama ia mau meneruskan pernikahan ini. Baiklah Luna, aku Alaric Baratajaya memilihmu menjadi pendamping hidupku, mulai esok dan seterusnya. Bukankah tiap orang berhak mendapatkan kesempatan bahagia? Itulah yang akan ia lakukan. Memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk bahagia. Tapi untuk saat ini, biarlah aku menikmati kebebasanku untuk kali terakhir. Dentuman musik bertempo cepat makin membakar gairah Alaric dan Cindy. Mereka terus b******u dan berciuman panjang hingga pagi menjelang. *** So, today is the day. Sejak pagi Luna gugup. Padahal semua persiapan tidak ada yang terlewat. Pesta pernikahan yang digelar di ballroom salah satu hotel berbintang itu tinggal hitungan jam. Saat ini Luna sudah berada di kamar hotel yang sama untuk dirias. Sampai di hotel, ia sempat singgah ke ballroom untuk melihat dekorasi ruangan. Luna takjub memandangi ballroom yang disulap jadi begitu indah dengan dekorasi bernuansa pink dan putih dengan bunga indah di sana-sini. Photo booth yang disediakan bagi tamu juga sudah terpasang dengan rapi di depan pintu ballroom. Sedangkan untuk makanan, Luna yakin tak ada yang perlu dikhawatirkan mengingat kelas dan reputasi hotel ini. Mamanya dan Bu Baratajaya sudah mengatur semua dengan sempurna. “Sudah siap untuk dirias?” tanya penata rias. Luna mengangguk. Dengan patuh diikutinya semua arahan penata rias. Luna akan mengenakan gaun semi-kebaya warna putih yang sangat indah. Bagian ekornya menjuntai menyapu lantai. Bagian leher berkerah sabrina dan berhias taburan kristal mewah. Gaun itu dijahit khusus untuknya. Sungguh Luna tidak berani bertanya berapa harga gaun itu. Sepatu yang akan ia kenakan juga tak kalah indah. Sepatu pengantin berhak sepuluh sentimeter dengan taburan kristal berkilauan. Sepanjang dirias, Luna tidak menghadap cermin. Menurut penata rias itu supaya ia sendiri nanti pangling. Luna menurut saja. Setelah dirias selama kurang lebih dua jam, akhirnya ia berganti busana, memakai sepatu, dan mengenakan tiara pada rambut. Lengkap sudah penampilannya. Luna berdiri menghadap ibu dan ibu mertuanya yang sedari tadi menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ibunya mendekat dan berkata, “Lihat dirimu, Nak. Kamu cantik sekali.” Luna memutar diri menghadap cermin besar yang sudah disiapkan. “Ya Tuhan!” Luna nyaris tak percaya dirinya bisa secantik itu. Dilihatnya setiap bagian tubuhnya mulai dari kepala hingga kaki. Ya Tuhan, penampilannya tanpa cela. Ia kini berdiri bak seorang putri yang siap menyambut pangerannya. Riasannya sama sekali tidak menor. Wajahnya dirias tidak terlalu tebal namun juga tidak terlalu tipis. Pas sekali, membuat ia pangling dengan diri sendiri. Tata rambut dan tiara yang disematkan di rambut semakin membuat ia terlihat anggun. Belum lagi gaun indah dan sepatu mewah yang ia kenakan. Kini Luna merasa benar-benar telah menjelma menjadi Cinderella. “Alaric pasti kagum melihatmu,” ujar Bu Baratajaya. “Ayo kita ke ballroom, Alaric sudah menunggu. Kamu pasti juga sudah kangen.” Luna tersipu. Iya, ia merindukan Alaric. Sudah tiga hari mereka tidak diizinkan untuk bertemu. Hanya tiga hari tapi kenapa terasa lama sekali. Pintu kamar dibuka, Alaric dan keluarga lainnya berdiri di depan pintu. Luna nyaris tak berkedip melihat Alaric yang tampak begitu gagah mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Aku masih nggak percaya sekarang kamu adalah suamiku, ucap Luna dalam hati. Tanpa Luna sadari, Alaric juga terpesona melihat kecantikan Luna. Kenapa melihat Luna sekarang membuat ia lupa kepada Cindy, Rosi, Tari, Mila, dan semua perempuan yang pernah ia kencani? Dibandingkan Luna, mereka tidak ada apa-apanya. Perempuan-perempuan di klub malam memang cantik dan seksi, tapi Luna ... Alaric tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan Luna. She’s so beautiful. No. She’s just ... perfect! Untuk sesaat mereka berdua saling berpandangan tanpa mengucap sepatah kata. Keduanya sama-sama merasakan desiran halus yang menghinggapi d**a diiringi detak jantung yang tiba-tiba menjadi cepat. Keduanya sama-sama terpesona. Yang Luna lihat hanya Alaric. Yang ada di depan mata Alaric hanya Luna. Yang lain terlihat seperti adegan dalam film-film lama yang telah usang; semua samar, semua kabur. Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Tidak maju, tidak pula mundur, hanya diam di situ. “Ciyeee ... yang jadi pengantin baru, lupa sama ‘kita-kita’,” goda Mbak Erin. Semua yang hadir tertawa menggoda. Luna dan Alaric tersipu malu. “Ayo kita ke ballroom, para tamu sudah menunggu. Nanti malam kalian bisa puas saling memandang,” celetuk Pak Baratajaya. Semua kembali tertawa. Luna bisa melihat wajah Alaric memerah. Andai saat ini ia memandang cermin, tentu ia bisa melihat wajahnya sendiri juga merona. Rasa hangat menjalari kedua pipinya. “Bunganya jangan lupa,” ujar Mbak Erin. Oh, ya, saking terpesona, Alaric hampir lupa menyerahkan buket lili merah jambu untuk Luna. Luna menerima bunga itu sambil tersenyum lembut lalu menunduk. Alaric membalas senyum itu dan kemudian juga menunduk. Ya Tuhan, dia tersenyum, ucap Luna dalam hati. Suamiku yang tampan akhirnya tersenyum. Detak jantung Luna makin bertambah cepat. “Digandeng dong istrinya. Luna sudah jadi istri lho sekarang,” goda Mbak Erin lagi. Alaric dan Luna sama-sama tersenyum dengan pipi memerah. Yang lain kembali tertawa. Dengan malu-malu Alaric mengulurkan lengannya. “Sebentar,” ujar Luna. Luna membalikkan badan dan memeluk bergantian papanya, mamanya, kemudian papa Alaric, lalu mama Alaric. “Terima kasih. Alaric dan Luna mohon restu,” ucapnya haru. Keempat orang tuanya memeluk Luna erat. Papanya tampak menahan tangis melepas anak perempuan satu-satunya. Sedangkan mamanya dan Bu Baratajaya malah sudah sibuk menyusut air mata dengan tisu. Selesai berpelukan, Luna melingkarkan tangan ke lengan Alaric. Dengan mantap dipeluknya lengan kekar suaminya. Mereka berjalan masuk ballroom yang sudah dipenuhi tamu. Semua mata tertuju ke arah mereka berdua. “Flashlight” Jessie J yang diaransemen indah mengalun menambah syahdu suasana. Luna melirik Alaric, Alaric menatapnya. Mereka saling tersenyum dan kemudian meneruskan langkah. Sepanjang menuju pelaminan, tak henti-henti Luna mengucap syukur dalam hati: Terima kasih Tuhan, terima kasih telah mempertemukanku dengan Alaric Baratajaya, terima kasih untuk pernikahan indah ini, dan terutama terima kasih telah menyatukan kami berdua. Luna mengalami perasaan bahagia luar biasa, bahagia yang tak terungkap dengan kata. Hanya bahagia. Itu saja. Di lubuk hati kecilnya Luna melantunkan doa agar perasaan bahagia ini dapat mereka nikmati untuk selamanya. I got all I need when I got you and I I look around me, and see a sweet life I'm stuck in the dark, but you're my flashlight You're gettin' me, gettin' me through the night Kick start my heart when you shine it in my eyes Can't lie, it's a sweet life I'm stuck in the dark, but you're my flashlight You're gettin' me, gettin' me through the night 'Cause you're my flashlight You're my flashlight, you're my flashlight …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN