Tiga minggu sudah berlalu sejak acara pernikahan. Sejauh ini rumah tangga Luna dan Alaric baik-baik saja. Alaric tetap ketus dan sinis, tapi dia cukup baik dan pengertian sebagai suami. Dia selalu mencuci piring tiap selesai makan dan membantu mengepel. Alaric juga membantu Luna menjemur. Pekerjaan rumah tangga lainnya dikerjakan oleh Luna. Tidak ada masalah kecuali Alaric sulit bersikap manis. Setidaknya belum ada masalah.
Oh ya, mereka masih tidur terpisah—entah sampai kapan. Luna sudah bosan tiap hari harus merespons pertanyaan Fanya dengan jawaban samar. “Sudah?” kata Fanya. Luna tahu arah pembicaraan itu akan ke mana. Jangankan “sudah”, mencium pipi Luna saja Alaric tidak pernah. Tapi ia tidak pusing soal itu. Bukan itu tujuan Luna menikah. Alaric pasti canggung. Pernikahan mereka kan serba mendadak.
Tapi bukannya lelaki ibarat kucing garong dan perempuan ibarat ikan asin? Kenapa Alaric tidak begitu? Benarkah bagi Alaric, Luna masih belum mahram? Atau jangan-jangan Alaric anggota LGBT? Jangan-jangan selama ini persahabatannya dengan Natha hanya kedok? Hiii ... Luna merinding.
Padahal andai Alaric tahu, diam-diam Luna suka curi-curi pandang sewaktu dia sedang makan atau menyetir. Luna sudah lama mengagumi wajah rupawan suaminya, bahkan sejak kali pertama mereka bertemu. Hanya saja Luna tak pernah berani untuk menunjukkan rasa itu. Alaric tak pernah tahu Luna sudah lama menjadi fansnya. Alaric juga tak sadar tiap hari Luna harus menahan napas sewaktu ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk dililitkan ke pinggang. Lengan Alaric yang kekar dan d**a Alaric yang bidang hasil keranjingan nge-gym terekspos indah. Mau tidak mau Luna jadi berpikiran macam-macam. Ingin sekali-sekali ia pura-pura kepleset supaya ditahan oleh Alaric. Jadi, ia bisa merasakan bersandar di d**a Alaric atau memeluk lengannya yang kekar itu. Tapi ya kalau ditahan, kalau dibiarkan jatuh? Melihat cara Alaric bersikap selama ini, rasanya kemungkinan kedua yang akan terjadi. Walhasil Luna membatalkan niatnya pura-pura kepleset.
“Sudah?” kepala Fanya muncul dari balik pintu.
“Apanya yang sudah? Tiap hari tanya melulu,” decak Luna. Siapa yang tidak kesal tiap hari ditanya “sudah?” sedangkan Fanya tidak tahu betapa susah menahan diri untuk tidak ngeces.
“Hahaha ... maksud gue, sudah mau pulang?”
“Bentar lagi.”
“Lo benar nggak mau bareng gue?”
“Nggak, gue naik taksi aja. Gue mau langsung ke restoran itu.”
Malam itu keluarga Baratajaya makan malam bersama di sebuah restoran karena besok Mbak Erin dan keluarganya akan pulang ke Swedia. Luna tiba di restoran bersamaan dengan Alaric. Agar terlihat normal, Alaric menggandeng tangan Luna dan mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai di hadapan keluarga. Alaric menggenggam tangan Luna dan Luna menggenggam tangan Alaric—lebih erat lagi. Rasanya nyaman sekali. Andai bisa tiap hari seperti ini. Luna pernah membaca, kalau seorang lelaki menggenggam tangan seorang perempuan dan perempuan itu merasa berdebar-debar atau excited, lelaki itu bukanlah jodohnya. Tetapi jika terasa hangat dan nyaman, sang perempuan merasa aman, makalah itulah lelaki yang diciptakan Tuhan untuknya. Saat Alaric menggenggam tangannya seperti ini, Luna merasa begitu hangat dan nyaman. Apakah itu berarti Alaric adalah lelaki yang diciptakan Tuhan untuknya? Sebab, meski mereka sudah menikah, Luna masih merasa ada jarak yang sampai kini belum kunjung terjembatani.
Tampak semua keluarga Baratajaya sudah berkumpul, termasuk Reza dan Rin, kedua buah hati Mbak Erin. Reza berusia 5 tahun dan Rin baru berusia 2 tahun. Sejak Reza berusia 1 tahun, Mbak Erin pindah ke Swedia mengikuti tugas suaminya dan menetap di sana hingga sekarang.
“Sedih deh sudah mau berpisah lagi sama cucu-cucu, rasanya baru sebentar,” ucap Bu Baratajaya.
“Nanti kalau ada kesempatan kamu pulang lagi. Atau Opa-Oma aja yang ke Swedia,” usul Mbak Erin.
“Mau nengok cucu aja jauhnya ya. Coba ada cucu yang dekat.”
Luna dan Alaric saling pandang. Sebentar lagi trending topic “mama minta pulsa” akan digantikan oleh “mama minta cucu”.
“Eh Luna, jangan salah sangka, Mama bukan minta kalian cepat-cepat punya anak,” ujar Bu Baratajaya. Ia merasa tidak enak hati kalau-kalau Luna merasa terbebani.
“Kalian kan baru menikah. Dinikmati saja dulu. Lagi pula Papa dan Mama sudah bersyukur akhirnya Alaric punya pasangan hidup. Tentang anak, nanti kalau sudah waktunya, pasti dikasih,” tambah Pak Baratajaya dengan bijak.
Luna tersenyum sementara Alaric hanya diam. Bagaimana mau punya cucu, pikir Luna sedih. Ia juga ingin punya anak suatu hari nanti. Tapi dengan kondisi mereka yang seperti ini, entah kapan itu bisa terjadi.
Keluarga Baratajaya lalu melanjutkan obrolan sambil menikmati makan malam diselingi canda dan gurau. Kebanyakan mendengarkan cerita bagaimana kehidupan di Swedia dan kegiatan Reza dan Rin sehari-hari. Mbak Erin tidak bekerja kantoran. Sebagaimana kebanyakan orang yang tinggal di luar negeri, anak diurus oleh ibunya sendiri. Di sana tidak lazim punya asisten rumah tangga apalagi baby sitter, beda dengan di Indonesia. Kadang kalau capek sudah memuncak, kata Mbak Erin, ingin sekali ia pulang ke Indonesia supaya ada yang membantu mengurus anak-anak. Tapi gara-gara mengurus anak sendiri, badan Mbak Erin jadi tetap langsing meski makan banyak.
Ketika sedang asyik mengobrol, Alaric menangkap bayangan yang ia kenal. Sosok itu berdiri di kejauhan dan melambai kepadanya.
“Permisi, mau ke toilet sebentar,” pamit Alaric.
Melihat suaminya pergi, ada sebersit perasaan tidak enak melintas di hati Luna. Ia pun lantas pamit untuk ke toilet dan mengikuti langkah Alaric dari jauh. Dilihatnya Alaric tidak pergi menuju toilet tetapi keluar menuju pintu restoran. Di pintu restoran, seorang perempuan sudah menunggu Alaric. Perempuan itu cantik. Penampilannya menunjukkan bahwa ia seseorang yang punya selera tinggi dalam berbusana. Alaric menahan tangan perempuan itu lalu mereka berbicara. Mereka berdua tampak sangat akrab. Temannya Alaric? Kalau teman, kenapa harus berbicara sembunyi-sembunyi? Apakah ada yang dirahasiakan? Luna bersembunyi di balik tetumbuhan dalam pot besar yang terletak di sebelah pintu masuk restoran. Pelan tapi pasti dapat ia dengar percakapan suaminya dengan perempuan cantik tadi.
“Jadi ini istri kamu?”
“Ya ... begitulah.”
“Not bad. Tapi ... “
“Apa?”
“Apa dia jago kissing kayak aku?” perempuan itu tertawa sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Alaric.
Alaric ikut tertawa.
“Apa dia bisa bikin kamu betah kissing berjam-jam tanpa henti seperti aku?”
“Kalau soal itu sih, dia nggak bisa dibandingin sama kamu.”
Luna berusaha menahan diri ketika mendengar kata-kata itu. Siapa perempuan itu? Mantan pacar Alaric? Atau malah pacar Alaric? Siapa pun dia! Yang pasti mereka berdua pernah berciuman. Ternyata ini arti perasaan tidak enak tadi. Perasaan istri memang lebih sensitif.
“I’ve been wondering, apa kamu masih kangen kissing sama aku?”
Alaric tertawa mendengar ucapan perempuan tadi. Luna tak tahan lagi, tak sanggup mendengar yang akan Alaric ucapkan. Terlebih ia tak sanggup jika harus melihat Alaric berciuman dengan perempuan lain. Bagaimanapun Alaric suaminya. Luna pergi dari tempat itu dan menuju toilet. Pandangannya kini kabur karena air mata. Di toilet Luna tersedu-sedu. Ia baru sadar betapa bodoh ia. Kenapa ia tak pernah bertanya apakah Alaric punya kekasih sewaktu mereka tiba-tiba harus menikah? Jika iya, berarti ia telah memisahkan dua orang yang saling mencintai. Saat itu ia hanya fokus pada rasa bahagia yang sedang ia rasakan tanpa peduli soal Alaric. Hati Luna terluka membayangkan Alaric berciuman dengan perempuan itu berjam-jam. Padahal belum lama tadi ia sungguh merasa amat bahagia sewaktu Alaric menggenggam tangannya dan ini kali pertama mereka berdua pergi ke tempat umum bersama-sama setelah acara pernikahan mereka.
Handphone Luna berbunyi. Nama Alaric muncul di layar. Luna segera keluar dari toilet dan menatap diri di wastafel. Wajahnya berantakan. Ia usap wajah itu dengan tisu agar tak kelihatan baru saja menangis. Handphone-nya terus berbunyi. Luna menekan ikon hijau.
“Di mana?”
“Di toilet. Sebentar lagi selesai.”
Luna memutus panggilan dan kembali ke meja tempat keluarga Baratajaya berkumpul dengan pandangan sendu.
“Lama banget sih ke toilet aja,” ujar Alaric dengan nada ketus seperti biasa. Luna tak menjawab.
“Kamu kok pucat begitu?” tegur Bu Baratajaya, “Kamu sakit?”
Luna menggeleng.
“Tapi beneran pucat lho ini,” timpal Mbak Erin. “Jangan-jangan Luna hamil.”
Luna menengadah ke atas agar air matanya tak jatuh. Hatinya pedih. Aku nggak hamil, Mbak. Bagaimana mungkin aku hamil kalau suamiku tidak pernah menganggap aku ada dan malah mencium perempuan lain.
“Beneran nggak apa-apa?” Alaric ikut bicara.
Luna hanya diam.
“Mungkin sebaiknya kalian pulang. Luna tampak tidak sehat,” ujar Pak Baratajaya.
Yang lain mengiyakan. Maka Luna dan Alaric pun berpamitan. Di mobil Luna hanya diam. Ia malas bicara. Ingatannya tertuju pada cara perempuan tadi memeluk leher Alaric. Ia saja yang berstatus istri belum pernah memeluk Alaric seperti itu. Rasa sakit di hati Luna kembali mendera. Sesampai di rumah Luna tak dapat menahan diri untuk tak bertanya.
“Kenapa sampai hari ini kamu nggak pernah menyentuh aku? Jangankan itu, menciumku saja nggak pernah.”
Alaric menoleh dan menatap Luna dengan pandangan heran. Tidak biasanya Luna membahas hal ini.
“Ngomong apa sih,” Alaric malas menanggapi.
“Kenapa kamu nggak pernah mencium aku?”
Alaric melirik Luna dengan pandangan malas.
“Kenapa kamu nggak mau mencium aku? Bagaimana kamu bisa tahu aku jago kissing atau nggak kalau kamu nggak pernah mencium aku sekali pun,” kata Luna berapi-api.
“Lo kenapa sih?”
“Aku mau kita ciuman, sekarang!”
Alaric mengangkat alisnya dengan pandangan meremehkan. “Sori ya, gue nggak nafsu sama lo!”
Alaric kemudian pergi masuk ke kamarnya meninggalkan Luna yang berdiri terpaku dengan air mata membasahi pipi.