BAB 83

1380 Kata

Luna tertawa mendengar celotehan Kamari. “Kakak lagi minum apa?” Luna mengulangi pertanyaan yang sama untuk kali ketiga. Ia sedang ingin berlama-lama mendengarkan suara centilnya yang menggemaskan. “Tututu,” sahut Kamari. Lagi-lagi Luna tertawa. Si Kakak sekarang punya kepandaian baru, atau lebih tepatnya kegemaran baru, menambahkan kata “ku” pada setiap hal yang disebutnya. Tetapi di lidah kecil si Kakak, bunyi kata “ku” berubah menjadi “tu”. Tututu untuk susuku. Papatu untuk opaku. Mamatu untuk omaku. Bibitu untuk mobilku. Bubutu untuk ibuku, dan tentu saja tatatu untuk ayahku. “Kalau ini yang lagi ngomong sama Kakak siapa?” “Bubutu!” teriak Kamari dengan suara yang cukup kencang sampai Luna harus menjauhkan gagang telepon dari telinganya. “Halo,” suara Bu Wira yang terdengar kemu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN