Luna berdiri mematung di depan pintu kayu kamar Alaric. Jantungnya bertalu tidak beraturan, menciptakan simfoni kecemasan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Sudah berminggu-minggu rumah ini terasa seperti museum—dingin, sunyi, dan penuh dengan barang-barang yang menyimpan kenangan tanpa nyawa. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberaniannya, Luna akhirnya mengetuk pintu itu. Pelan, namun cukup tegas untuk memecah kesunyian koridor lantai atas rumah mereka. Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat, disusul suara gerendel yang diputar. Alaric membuka pintu. Pria itu tampak sedikit berantakan dengan kaus rumahan yang sedikit kusut dan rambut yang tidak rapi, seolah ia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melamun di dalam kegelapan kamarnya. “Y

