“Jadi gitu ya, lo nggak apa-apa kan?” tanya Alaric sambil matanya tetap lurus menatap jalanan. “Nggak apa-apa,” sahut Luna. “Sampai kapan project-nya?” “Ya belum tahu, baru aja mau dimulai. Paling lama enam bulan. Tapi kalau cepat ya bisa tiga atau empat bulan.” “Kok lama?” “Kan gue nggak bisa setiap hari ngurusin project-nya. Kalau setiap hari mungkin dua bulan juga sudah selesai. Emang lo mau ditinggal setiap hari?” Luna menggeleng. “Jadi seminggu berapa kali kamu pulang malam?” “Dua atau tiga kali.” Luna mengembuskan napas membayangkan dua atau tiga kali dalam seminggu ia harus berada di rumah sendirian sepulang kerja karena Alaric akan disibukkan oleh proyek baru bersama teman lamanya. “Sampai jam berapa?” “Paling jam sepuluh malam sudah sampai rumah. Kenapa? Lo takut send

