Tadinya, sih, mau pulang saja karena orangnya nggak ada, tetapi saat dipikir-pikir ... mungkin nggak ada salahnya menunggu, sambil Aniska telepon si pemilik laundry-an ini. Sepuluh menit saja, Aniska beri waktu untuk malam itu. Dia batal pergi. Ya, cuma sepuluh menit. Mana tahu kalau ternyata sudah lebih dari itu, Aniska baru sadar ketika dia menyudahi permainan di ponselnya, mengecek jam yang sudah mau pukul sebelas malam. Fix, pulang. Namun, batal lagi. Dengan senyum merekah Aniska melihat batang hidung Pak Topan. Nggak salah dia nunggu. "Tuh, kan ... kamu benar-benar datang, bahkan nunggu saya pulang." Begitu kata gerangan. "Ini bajunya, Pak. Mau aku anterin sampe ke lemarinya sekalian? Aku mahir urusan itu." Jiaaah! Aniska mesem-mesem. "Nggak perlu." Diterimanya buntalan baju