4. Melanggar Batasan

1329 Kata
Elisa terbangun dengan perasaan yang tidak dia kenali. Bukan mimpi. Bukan cemas. Lebih seperti sisa kehangatan yang tertinggal di kulit, padahal malam sudah berlalu. Dia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang memantulkan cahaya pagi Jakarta, dan mencoba mengingat napasnya sendiri. Semalam tidak terjadi apa-apa. Justru itu masalahnya. Di kamar mandi, air mengalir di pergelangan tangannya. Elisa menatap bayangannya di cermin, mencari tanda-tanda perubahan. Tidak ada. Namun detak jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Dia teringat jarak di sofa, selimut yang menyentuh, tangan yang terangkat, lalu ditarik kembali. Wira tidak menyentuhnya. Tapi kehadirannya menempel. Tiba-tiba saja ingatannya kembali pada bosnya di kantor yang wajahnya menyerupai pria teman serumahnya. "Mereka sebenarnya kembar atau bukan sih?" gumamnya sambil menangkup kedua pipinya. Di dapur, aroma kopi menyambut. Wira berdiri di sana, seperti biasa, tenang, rapi, seolah malam kemarin hanyalah jeda yang wajar. Pria itu menoleh saat Elisa muncul dengan penampilannya yang sudah rapi. Setelan kerja yang cukup sederhana, tapi sopan. "Pagi," sapanya. "Pagi," jawab Elisa, suaranya terdengar normal. Dia bersyukur. Mereka berbagi ruang tanpa menyentuh. Namun setiap gerakan kecil terasa disadari. Saat Elisa mengambil cangkir, jarinya nyaris bertemu dengan jari Wira. Dia menarik tangannya lebih cepat dari yang dia pikirkan. "Maaf," ucapnya refleks. "Tidak apa-apa," jawab Wira, nada datar. Mereka minum kopi dalam diam. Elisa ingin mengatakan sesuatu, mengenai Wira dan bosnya di kantor, namun kata-kata terasa berisik. Dia memilih menyambar tasnya di kursi sebelah. "Aku berangkat dulu," katanya. Wira mengangguk. "Hati-hati." Fokus Elisa terpecah. Dia membaca baris angka yang sama dua kali, matanya melihat tapi pikirannya menjauh, melayang ke dapur sempit tempat mereka berbagi kopi pagi, pada sofa tempat dunia sempat terhenti, dan ke rintik hujan di jendela yang menyaksikan diam-diam. Dia tidak biasa seperti ini. Tidak biasa membiarkan seorang pria menguasai pikirannya di sela-sela spreadsheet dan rapat. Rapat siang itu memaksanya kembali ke realitas. Saat direksi masuk, udara di ruangan langsung berubah menjadi kaku, terfilter, dan dingin. Elisa menunduk, pena di tangannya bergerak cepat mencatat poin-poin. Namun ketika namanya disebut untuk mempresentasikan progres divisinya, dia mengangkat wajah. Dan sekali lagi, matanya bertabrakan dengan tatapan itu. Tatapan yang dingin. Tertata rapi seperti rambutnya yang tak ada satu helaipun keluar dari tempatnya. Sebuah pandangan yang seharusnya asing, tapi entah mengapa terasa familiar dalam cara yang mengusik. Ada getaran kecil di dalam perutnya, seperti kabel yang tersentrum. Dia menepisnya. Ini hanya gugup. Ini hanya pekerjaan, bisiknya dalam hati. Dengan suara yang berusaha stabil, dia menyelesaikan penjelasan, menerima anggukan singkat yang tidak beremosi dari direksi, lalu duduk kembali. Tapi detak aneh di dadanya tak kunjung reda. Saat makan siang, dia ikut bergabung dengan pegawai lain ke kantin mencoba untuk proses pengakraban diri. Elisa tidak banyak bicara, dia menyimak obrolan, tapi setiap ada yang bertanya dia akan menjawab sekenanya. Ketika mereka kembali ke ruangan kerja, Elisa berjalan bersisian dengan Fani, rekan kerjanya di satu kubikel. "Pak William punya saudara kembar, ya?" tanyanya hati-hati. Fani tampak mengernyit mendengar pertanyaan Elisa. "Enggak, deh. Dia gak punya saudara kembar, tapi dia punya adik perempuan." "Oh, begitu. Kirain ...." "Kok kamu bisa tanya begitu? Apa kamu pernah ketemu sama orang yang mirip Pak Will di Surabaya?" tuduh Fani menyebut kota asal Elisa. "Ah! Bukan itu. Kayaknya aku salah orang," ujar Elisa menggigit bibirnya. "Pak William tidak kembar, dia anak sulung, kok." Fani kembali menegaskan. Elisa mengangguk lagi. Jadi Wira sama sekali tidak ada hubungannya dengan bosnya. Tapi aneh sekali, mereka sangat mirip. ~ Sore hari, Elisa pulang dengan langkah pelan. Rumah sunyi. Dia meletakkan tas, lalu menyalakan lampu. Wira belum pulang. Dia berdiri di ruang tengah, menyadari betapa dia memperhatikan hal-hal kecil, posisi sofa, jam dinding, lampu temaram, seolah ruang ini menyimpan gema. Ketika pintu terbuka, Elisa menoleh terlalu cepat. Wira masuk, melepas sepatu. Tatapan mereka bertemu. Seperti biasa rambutnya acak-acakan seperti diterbangkan angin. Lalu ada jeda, tipis, hampir tak terlihat. Namun Elisa merasakannya di d**a. "Kamu sudah makan?" tanya Wira. "Belum," jawabnya jujur. "Aku akan masak." Mereka bergerak di dapur seperti dua orang yang mempelajari ulang jarak. Elisa memperhatikan punggung Wira saat dia memotong bahan sayuran, tenang, terkendali. Ada keinginan kecil untuk melangkah lebih dekat. Tapi dia tidak melakukannya. Saat makan, Elisa akhirnya bicara. "Soal tadi malam … terima kasih." Wira menatapnya. "Untuk apa?" "Karena sudah menemaniku," katanya, memilih kata aman. Wira mengangguk. "Kapan pun." Jawaban itu sederhana. Namun caranya mengucap pelan dan tertahan membuat Elisa menyadari sesuatu yang membuatnya menelan ludah. Dia tidak hanya merasa aman. Dia merasa diperhatikan. Dan perasaan itu ... berbahaya. Malam itu, di kamarnya, Elisa berbaring dengan mata terbuka. Dia mengakui pada dirinya sendiri, bukan tentang Wira sebagai pria. Melainkan tentang dirinya yang mulai menunggu langkah kaki di lorong, suara pintu, kehadiran yang tidak menuntut apa pun. Dia memejamkan mata. Elisa seolah berpikir jika Wira menyembunyikan sesuatu. Entah apa. "Apa seharusnya aku bertanya saja?" tanyanya bermonolog. "Ah, apa itu penting?" *** Seorang rekan dari divisi lain belakangan ini sering mampir ke mejanya. Namanya Rama. Cara bicaranya ringan, senyumnya mudah. Tidak ada niat yang jelas, hanya obrolan singkat soal pekerjaan, kopi siang, dan keluhan kecil tentang tenggat. Fani mengatakan jika Rama sedang pedekate padanya dan Elisa menyangkal hal itu. Namun suatu sore, Elisa merasakan sesuatu yang berbeda. Udara di koridor seolah membeku. Dia menoleh dan melihat sosok direksi berdiri beberapa langkah dari mereka, setelan rapi dan ekspresi tak terbaca. Tatapannya melintas singkat pada Rama, lalu ke Elisa. Tidak lama. Hanya beberapa detik, tapi Elisa bisa merasakannya. Rama berdeham, tersenyum canggung. "Aku lanjut dulu." Elisa mengangguk, bingung. Saat dia kembali ke mejanya, Elisa menyadari detak jantungnya meningkat, bukan karena Rama, melainkan karena tatapan dingin yang terasa ... terlalu personal. Elisa menggeleng cepat. "Kenapa aku jadi kepedean begini, sih?" Malamnya, rumah terasa lebih sunyi. Wira ada di dapur, berdiri membelakangi pintu, mengaduk sesuatu di panci. Gerakannya lebih kaku dari biasanya. Elisa menaruh tas di meja makan, mendekat pada pria itu. "Kamu pulang cepat," katanya. "Rapat," jawab Wira singkat. Terlalu singkat. Elisa ragu, lalu berkata, "belakangan ini ada teman sekantor yang suka ajak aku ngobrol. Dari divisi lain.” Wira berhenti mengaduk. Hanya sepersekian detik. Namun Elisa melihatnya. "Oh," katanya. "Bagus." Nada itu netral. Terlalu netral. Sehingga Elisa mengurungkan niatnya untuk bercerita lagi. Mereka makan dalam diam. Elisa mencoba membaca wajah Wira, tapi sia-sia. Pria itu seperti dinding yang kembali dipasang rapi. Namun ada ketegangan kecil di rahangnya, di caranya menaruh sendok dan mengambil gelas. Setelah makan, Elisa berdiri untuk membereskan piring. Dia melangkah ke wastafel yang lantainya masih sedikit basah, sisa air dari cipratan, mungkin. Kakinya terpeleset. Waktu menyempit. Elisa terhuyung ke depan. Napasnya tersentak, lalu dua tangan menangkap lengannya dengan cepat. Tubuhnya tertarik ke belakang, menabrak d**a yang hangat dan kokoh. Wira. Satu tangannya mencengkeram pergelangan Elisa. Tangan lainnya menahan pinggangnya. Jarak mereka lenyap. Elisa bisa merasakan napas Wira di rambutnya, d**a yang naik turun, lebih cepat dari biasanya. Sekilas Elisa bisa mencium wangi parfum yang dia kenali, tapi samar. "Kamu tidak apa-apa?" Suara Wira rendah, dekat telinganya. Elisa mengangguk, terlalu lambat. "Iya." Namun mereka tidak langsung menjauh. Jari Wira masih melingkar. Ibu jarinya menekan ringan, seolah tidak sengaja, tidak direncanakan. Elisa merasakan getaran kecil menjalar, membuat lututnya melemah sesaat. Wira menyadarinya. Dia segera menarik tangan, terlalu cepat kali ini. Langkahnya mundur setengah. Wajahnya terkendali, tapi matanya gelap. "Maaf," katanya. Tidak jelas siapa yang meminta maaf, karena tidak tahu siapa yang bersalah. Elisa menelan ludah, menatap Wira. "Terima kasih." Hening, berat dan penuh makna. "Lantainya licin," kata Wira akhirnya. "Hati-hati." "Iya," jawab Elisa pelan. Mereka berdiri berhadapan, jarak aman kembali terpasang, namun tubuh Elisa masih mengingat. Hangat itu tidak hilang begitu saja. Dia memalingkan wajah, membereskan piring dengan tangan yang sedikit gemetar. Wira masih berdiri belum beranjak. Lalu berbalik, meninggalkan dapur. Di kamarnya, Elisa duduk di tepi ranjang, menyentuh pergelangan tangannya sendiri, tempat Wira tadi memegang. Bukan karena sakit. Justru karena tidak. Di sisi lain rumah, William berdiri di lorong, telapak tangannya mengepal lalu membuka kembali. Dia tahu, dia baru saja melanggar batas yang dia buat sendiri. Bukan karena kecelakaan. Melainkan karena keinginannya untuk menahan lebih lama. Dan itu, lebih dari apa pun, membuatnya takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN