"Kamu tinggal di mana, El?" tanya Fani menyela suara sendok yang berdenting di piring mereka. Kantin kantor itu ramai, tapi suara Fani terdengar jelas di telinga Elisa.
Elisa menyebutkan nama daerah dan ciri rumah sewanya. Kata-katanya terjaga rapi, tanpa embel-embel.
"Aku baru tahu rumah itu nyewain," gumam Fani, mengerutkan kening. "Kirain cuma rumah biasa. Pasti mahal, dong?"
"Enggak kok. Aku bayar per enam bulan sekaligus." Elisa menggeser wortel di piringnya dengan garpu.
"Ah, tipikal! Kalau di Jakarta, pemilik suka yang begitu. Takut penyewa kabur diam-diam, makanya mereka gak mau sewa bulanan." Fani menyeringai. "Tapi kamu beruntung dapat harga miring. Sepupuku nyari kost setengah mati nggak dapat-dapat."
"Seingatku masih ada dua kamar kosong lagi di situ." Elisa menawarkan, suaranya pelan.
Mata Fani langsung berbinar. "Serius? Kasih kontaknya dong! Biar sepupuku yang hubungi owner-nya."
Elisa mengangguk, mengambil ponsel dari saku blazernya. Jarinya membuka aplikasi kontak, mencari nomor yang dimaksud. "Aku dapat nomor ini dari HRD waktu interview di Surabaya. Katanya dia punya kenalan."
"Kamu luck-nya gila sih, El!" Fani berseru sambil mencatat nomor itu di ponselnya sendiri. "Dikasih kerjaan enak, dapat kost murah. Semua gampang ya, buat kamu." Dia melirik Elisa sekilas sebelum kembali fokus.
Elisa balas melirik Fani, belum tahu saja, kalau selama satu tahun ini dia kesulitan mencari pekerjaan di Surabaya. Beruntung saja dia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang mengabari jika ada lowongan pekerjaan.
"Oh iya, kamu satu rumah sama siapa aja? Pasti ada penghuni lain, kan?" tanya Fani lagi.
Nafas Elisa tertahan sebentar. "Ada. Satu orang. Laki-laki." Dia berusaha terdengar biasa saja. "Dia juga kerja kantoran, tapi aku enggak tahu detailnya. Karena gak nanya juga."
Fani menyipitkan mata, senyum nakal mengembang. "Waduh, awas cinlok nanti."
Rasa panas langsung merambat ke pipi Elisa. Dia tertawa kecil yang dipaksakan. "Nggak mungkinlah." Tangannya refleks menahan pipi, memalingkan wajah seolah tertarik pada orang-orang di seberang kantin.
"Bisa aja! Kalian cuma berdua di rumah, kan? Lama-lama ...." Fani mengetuk-ngetuk sendok di pinggir piring, mengisyaratkan hal yang tak terucap.
Elisa menarik napas. "Kayaknya dia sudah ada yang punya." Katanya, mencoba mengakhiri.
"Kamu tahu?"
"Nggak juga," jawab Elisa sambil menggeleng pelan. "Cuma ya, dia itu ganteng. Mustahil kan jomblo." Ucapannya terdengar seperti pembenaran yang diulang untuk diri sendiri.
Fani mendecakkan lidah, seolah tidak sepakat dengan ucapan Elisa.
Elisa hanya mengangkat bahu, mencoba tampak acuh. Dalam benaknya, dia membayangkan Wira, rambut berantakan di pagi hari, senyum tipis saat menawarkan kopi, ketenangannya yang justru membuatnya penasaran. Dua minggu. Tidak pernah ada perempuan yang berkunjung. Tidak pernah ada panggilan telepon yang mesra. Tapi di luar sana? Mungkin saja. Mungkin sekali. Bisa saja kan?
Usai makan siang, kantor kembali dijejali ritme kerja yang padat. Getar ponsel, ketikan keyboard, dan langkah kaki di koridor menjadi soundtrack biasa.
"Elisa, tolong revisi ini, lalu difotokopi lima rangkap," pinta atasan Elisa sambil menyerahkan setumpuk kertas.
"Baik, Bu."
Elisa menyelesaikan revisi dengan teliti. Setelah memastikan tak ada kesalahan lagi, dia beranjak ke ruang fotokopi di ujung koridor, dekat pantry. Suara mesin yang sedang bekerja sudah terdengar dari balik pintu.
Di dalam, Rama, rekan dari divisi pemasaran, sedang berdiri di dekat mesin, menunggu dokumennya keluar. Mesin itu mengeluarkan cahaya hijau yang bergerak bolak-balik, disertai suara yang khas.
"Mau sekalian?" tawarnya, menoleh ke arah Elisa.
"Enggak usah, gapapa. Aku tunggu aja," jawab Elisa ramah, sambil mengatur berkas di tangannya.
"Sini, biar aku bantu." Rama mengulurkan tangan dengan senyum ringan, sikapnya bersahabat.
Elisa ragu sejenak, lalu menyerahkan berkasnya. "Terima kasih."
Rama memasukkan kertas itu ke baki mesin dengan gesit. Sambil menunggu, dia menyandarkan badan ke mesin, matanya tertuju pada Elisa. "Kamu weekend ini ada rencana?"
"Eh, belum pasti, sih," jawab Elisa. Jarinya tak sadar memainkan ujung blazer, lalu menyelipkan sehelai rambut yang terlepas ke belakang telinga. Ada keheningan kecil yang tiba-tiba terasa agak pekat.
"Kok belum pasti? Gimana kalau aku ajak keluar?" tanya Rama, suaranya lebih rendah, disertai senyum yang bermain di ujung bibirnya.
Elisa menarik napas halus. "Ini bukan kencan, kan?" tanyanya, mencoba terdengar santai meski suaranya sedikit tercekat.
Rama tertawa kecil. "Kalau memang aku ajak kencan, gak boleh? Atau, jangan-jangan kamu sudah ada yang punya?"
Wajah Elisa memanas. "Itu—"
"Rama."
Suara itu memotong tiba-tiba, dalam, dan berwibawa. Mereka serempak menoleh.
Seorang pria paruh baya yang merupakan Kepala Divisi Keuangan, berdiri di ambang pintu, wajahnya tanpa ekspresi.
"Ada apa, Pak?"
"Langsung ke ruang Direktur. Ada yang perlu dibenahi dari laporanmu tadi."
Rama langsung tegak. "Waduh! Oke, Pak!" Dia buru-buru mengambil hasil fotokopinya sendiri, lalu menyerahkan berkas Elisa yang sudah selesai. "Maaf ya, El, aku duluan!"
Elisa mengangguk, masih terbawa suasana. "Iya, gapapa."
Rama segera menyusul sang kepala divisi yang sudah berbalik meninggalkan ruangan. Elisa berdiri sendiri di dekat mesin yang masih hangat, memegang berkasnya yang sudah rapi. Dari kejauhan, suara langkah Rama yang tergesa terdengar makin menghilang.
~
William duduk di belakang meja kerjanya yang luas, tangan menyilang di d**a. Di seberangnya, Rama berdiri kaku, berkas laporan yang salah tergenggam dalam genggaman berkeringat.
"Kesalahan data di halaman delapan, statistik kuartal ini tidak sesuai dengan laporan penjualan." Suara William datar, tapi setiap kata seperti pisau yang diasah dingin. Matanya menatap laporan, tidak sekalipun mengangkat pandang ke arah Rama.
"Maaf, Pak, saya akan perbaiki se—"
"Dan sikap profesionalisme." William akhirnya menaikkan pandangannya menatap Rama. "Ruang fotokopi bukan tempat untuk mengobrol santai, apalagi mengganggu konsentrasi rekan kerja di jam produktif."
Rama terdiam, tenggorokannya terasa kering. Dia teringat percakapan singkatnya dengan Elisa tadi, yang sialnya diketahui oleh atasan.
"Perusahaan membayarmu untuk bekerja, bukan untuk bersosialisasi yang tidak perlu." William menutup berkas dengan keras. "Pergi. Perbaiki laporan ini dan jangan sampai ada kesalahan lagi. Atau pertimbangan kontrakmu akan saya tinjau ulang."
Rama mengangguk cepat, hampir membungkuk, sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa.
William menarik napas perlahan, menatap pintu yang tertutup. Jari-jemarinya mengepal di atas meja. Kemarahannya rasional, dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Tapi di balik itu, ada api lain yang membara, sikap posesif, tidak logis, dan sama sekali bukan haknya. Dia kenapa?
Rama melintas di koridor dengan langkah cepat, wajahnya seperti topeng tanpa ekspresi. Saat pandangannya tak sengaja bersinggungan dengan Elisa, dia hanya melempar senyum tipis yang terpaksa sebelum segera memalingkan muka. Elisa menangkap pancaran singkat di matanya ada campuran malu dan kekecewaan yang dalam.
"Habis dihajar Pak Will, nih," bisik Fani di sampingnya, suara rendah penuh empati.
Elisa menoleh. "Sampai segitunya?" gumamnya, heran.
Fani mengangguk pasti. "Kalau urusan kerja, beliau nggak main-main. Tegas itu baik, tapi ya ... galak juga sih kadang."
Elisa mengangguk pelan, mencerna informasi itu.
Sore itu, Elisa pulang dengan tubuh lelah dan otot yang mengeras. Dia langsung merebahkan diri di kasur, lalu menghubungi Maya.
"Lagi apa?" tanyanya saat wajah kakaknya muncul di layar.
"Lagi ngepak paket, banyak pesanan hari ini."
"Oh, syukurlah."
"Kerjaan bagaimana, El?"
"Lumayan."
"Masih berduaan aja sama cowok di situ?"
"Oh, iya. Ada sepupunya teman aku yang mau sewa kamar di sini juga, cewek. Jadi aku kasih aja kontaknya, biar aku ada teman."
"Baguslah kalau begitu. Aku bisa tenang."
"Heh, apa selama ini aku bikin kamu khawatir?" tanya Elisa.
"Bagaimana aku gak khawatir, kamu di sana serumah sama laki-laki, mana kamu juga masih gadis dan baru pertama tinggal di Jakarta."
"Aku pasti jaga diri, May. Doakan saja yang baik-baik buat adikmu yang imut ini, May," goda Elisa, menyipitkan mata.
"Iyalah, pasti. Jangan lupa makan, El."
"Iya."
Panggilan teleponnya berakhir. Elisa memilih bermain game sebentar di ponselnya, hingga akhirnya dia melihat juga jam sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Aduh! Aku keasyikan main game." Dia segera mandi.
Selesai mandi dia keluar kamar menuju ke dapur untuk membuat makan malam. Dia tidak melihat Wira, bisa saja pria itu belum pulang, atau masih di kamarnya.
Elisa membuka lemari es, mulai memilih menu apa yang akan dia buat. Akhirnya dia mengambil sayuran saja, dia akan membuat capcay kuah. Elisa berjanji akan mengganti bahan-bahan makanan di lemari es itu jika dia gajian nanti.
Saat sedang memasak. Wira muncul dengan kaus putih longgar, celana training abu-abu, dan rambut basah yang masih berantakan seperti baru diguyur air.
"Aku masak capcay," ucap Elisa, tanpa menoleh, konsentrasi pada wajan. "Kamu suka sayur, kan?"
"Suka."
Kepala Elisa mengangguk. "Sebentar lagi matang."
Wira sudah duduk di kursi meja makan dan hanya memandangi Elisa yang berdiri membelakanginya.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, hanya sesekali disela suara sendok menyentuh piring.
"Oh iya." Elisa memecah diam, setelah menelan suapan. "Ada temanku yang tertarik nyewa kamar kosong di sini. Cewek."
Tangan Wira yang sedang mengangkat sepotong brokoli berhenti di udara. Pria itu diam sejenak, lalu melanjutkan menyuap makanan ke mulutnya. "Oh," gumamnya singkat, netral.
"Masih bisa, kan?" tanya Elisa lagi, mencoba membaca raut wajahnya.
Wira mengangkat bahu, masih mengunyah. "Coba saja hubungi pemiliknya."
***
Keesokan harinya, kantor sudah mulai berdenyut dengan ritme pagi yang biasa. Bunyi keyboard, mesin fotokopi dari kejauhan, dan langkah kaki di koridor.
Elisa baru saja meletakkan tasnya di lantai samping kursi. Dia mengambil tisu basah, mulai membersihkan permukaan mejanya yang sudah tertutup debu halus semalaman. Butiran debu itu beterbangan diterpa cahaya pagi dari jendela.
Fani datang tak lama kemudian, tas selempang masih tergantung di bahu. "Pagi," sapanya riang.
"Pagi, Fan," balas Elisa, masih fokus mengusap noda bekas cangkir di meja. "Gimana, sepupumu sudah hubungi pemilik rumah? Ada kabar?"
Fani mendesah pelan saat dia menurunkan tubuh ke kursi. Dengan gerakan lelah, dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, membuka layar, dan menggeser jarinya beberapa kali. "Nggak jadi, El," ucapnya, menatap Elisa. "Katanya, sekarang rumah itu nggak terima penghuni baru lagi."
Seketika, tangan Elisa berhenti mengusap meja. Dia membeku, tisu basah masih menggantung di jari. "Hah?" Napasnya tersendat. "Kok bisa? Padahal pasti masih ada yang kosong, kan? Aku lihat sendiri dua kamar itu masih kosong."
Fani hanya mengangkat bahu, ekspresinya pasrah. "Aku juga nggak tau alasannya. Cuma dikabarin begitu aja sama sepupuku."
Elisa perlahan melempar tisu bekas ke tempat sampah di kolong mejanya. Pikirannya berputar cepat. Kenapa bisa begitu?
Dia gagal memiliki teman wanita yang serumah dengannya.