Flo terbangun dari tidurnya. Sejak tadi ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk. Beberapa pesan dari Bryan dapat Flo baca dari notifikasi melayang, tanpa ia harus membuka pesan itu. Dipijitnya kening yang tiba-tiba saja terasa pening. Ternyata, dikejar-kejar, dipaksa masalah perasaan itu sangat menyiksa. Sangat membuatnya tidak nyaman. Inikah yang Devano rasakan dulu? Bahkan, dulu ia seperti w************n yang lebih rendah dari seorang jalang, ia merayu pria itu. Mengabaikan norma-norma yang ada. Melakukan yang sebenarnya tidak pantas dilakukan. Ya, dia dulu sudah seperti bintang film biru. Berbagai gaya ia praktikkan pada Devano. Sampai akhirnya hanya nafsu yang Devano rasakan ketika bersamanya. Flo masih mengabaikan Bryan. Tidak ingin satu kata pun ia kirim untuk membalas pe