BAB 1: Rumah yang Sepi
Bandara Soekarno-Hatta siang itu ramai seperti biasa. Rangga berdiri kaku di antara kerumunan orang yang lalu lalang, matanya tak lepas dari sosok Sari yang menyeret kopernya menuju pintu keberangkatan internasional.
"Enam bulan itu nggak lama, kok," kata Sari, mencoba terdengar yakin, meski matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Rangga erat-erat, seolah ingin menyimpan sentuhan itu untuk persediaan berbulan-bulan ke depan.
"Iya. Nggak lama," Rangga mengulang, meski dadanya terasa berat.
Proyek renovasi hotel di Singapura itu adalah kesempatan besar untuk karier Sari sebagai project manager. Rangga tahu ia tidak berhak melarang, apalagi cemburu pada pekerjaan istrinya sendiri. Tapi tetap saja, membayangkan rumah tanpa suara Sari selama enam bulan penuh membuat sesuatu di dalam dadanya terasa kosong.
"Jangan bikin Ibu khawatir, ya," pesan Sari sekali lagi, kali ini lebih serius. "Temani Ibu makan malam kalau kamu nggak sibuk. Ibu... sebenarnya nggak seketegaran yang keliatan. Sejak Bapak meninggal, dia jarang mau ngomong soal itu, tapi aku tahu dia kesepian."
Rangga mengangguk. "Tenang aja. Aku janji."
Ciuman perpisahan singkat, pelukan yang terlalu cepat berakhir, lalu Sari menghilang di balik pintu boarding. Rangga berdiri sendirian beberapa menit, menatap papan keberangkatan sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju parkiran.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Rangga menyetir dalam diam, radio dimatikan, hanya suara mesin mobil dan deru jalan tol yang menemani. Rumah keluarga Wulan—rumah dua lantai bergaya minimalis modern dengan taman kecil di halaman depan—terlihat sama seperti biasa saat mobilnya memasuki gerbang. Tapi entah kenapa, malam itu rumah itu terasa lebih besar, lebih senyap.
Ia memarkir mobil, lalu duduk sebentar di dalamnya sebelum turun. Enam bulan, pikirnya. Cuma aku dan Ibu Wulan.
Sejak menikah dengan Sari setahun lalu, Rangga memang tinggal di rumah keluarga ini, mengikuti tradisi yang sudah disepakati mereka bertiga—lebih praktis, kata Bu Wulan, daripada rumah itu kosong sementara Sari sendirian butuh teman. Awalnya Rangga sempat ragu, khawatir akan canggung tinggal serumah dengan mertua. Tapi ternyata semuanya berjalan lancar. Bu Wulan orang yang hangat, perhatian tanpa berlebihan, dan menghormati privasi mereka sebagai pasangan baru.
Rangga masuk ke rumah, disambut aroma masakan dari dapur. Bu Wulan sedang berdiri di depan kompor, punggungnya menghadap pintu, rambut panjangnya tergerai lepas—berbeda dari biasanya yang selalu digelung rapi untuk kerja.
"Rangga? Sudah pulang?" Bu Wulan menoleh, tersenyum. "Sari sudah naik pesawat?"
"Sudah, Bu. Barusan."
"Duduk dulu. Ibu masak sup ayam, kebetulan lagi pengin masakan hangat."
Rangga menaruh kunci mobil di meja konsol dekat pintu, lalu berjalan ke ruang makan. Meja yang biasanya diisi tiga piring—Rangga, Sari, dan Bu Wulan—kini hanya disiapkan dua. Ada sesuatu yang aneh melihat jumlah itu berkurang, seolah rumah ini kehilangan satu bagian penting dari dirinya.
Makan malam pertama tanpa Sari berlangsung lebih canggung dari yang Rangga bayangkan. Bukan karena Bu Wulan bersikap aneh—justru sebaliknya, ia tetap ramah seperti biasa, bertanya soal pekerjaan Rangga di kantor arsitek, bercerita ringan soal bisnis propertinya yang sedang berkembang. Tapi kesunyian rumah di sekitar mereka terasa berbeda. Tanpa suara tawa Sari yang biasa memecah keheningan, obrolan mereka terasa lebih intim, lebih personal—dan entah kenapa itu membuat Rangga sedikit gelisah.
"Kamu nggak usah sungkan, ya," kata Bu Wulan di tengah makan, seolah membaca pikirannya. "Anggap aja rumah ini rumahmu sendiri. Ibu juga senang ada teman ngobrol, jujur aja."
"Terima kasih, Bu," jawab Rangga, tersenyum kikuk. "Ibu juga jangan sungkan kalau butuh apa-apa. Saya di sini."
Bu Wulan tersenyum tipis, matanya menatap Rangga sejenak lebih lama dari yang seharusnya sebelum kembali menunduk ke piringnya. "Kamu anak baik, Rangga. Sari beruntung dapat suami sepertimu."
Ada kehangatan di kalimat itu yang membuat d**a Rangga terasa hangat juga—tapi juga sedikit... aneh. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa pujian sederhana dari mertuanya bisa terasa berbeda malam itu.
Setelah makan malam, Bu Wulan menawarkan teh hangat di ruang keluarga sambil menonton berita malam. Rangga awalnya berniat langsung naik ke kamar, tapi entah kenapa kakinya justru mengikuti Bu Wulan ke sofa.
Mereka duduk berjarak sopan, tapi obrolan mengalir lebih lama dari yang direncanakan. Bu Wulan bercerita soal masa mudanya, soal bagaimana ia bertemu mendiang suaminya di kampus, soal bagaimana rasanya membesarkan Sari sendirian setelah suaminya meninggal delapan tahun lalu karena serangan jantung mendadak.
"Delapan tahun itu lama," kata Bu Wulan, suaranya melembut, matanya menerawang ke arah jendela gelap di luar. "Tapi kadang rasanya baru kemarin. Rumah ini... masih terasa kayak nunggu dia pulang kerja."
Rangga tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam, mendengarkan, membiarkan Bu Wulan melepaskan sesuatu yang mungkin jarang ia ceritakan pada siapa pun—bahkan mungkin tidak pada Sari sekalipun.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Rangga akhirnya, suaranya pelan.
Bu Wulan menoleh, dan untuk sepersekian detik, Rangga melihat sesuatu di matanya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—kerapuhan yang biasa disembunyikan di balik sikap tegas seorang pengusaha sukses. "Ibu nggak apa-apa," jawabnya, lalu tersenyum, meski senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Cuma... kadang rumah besar ini bikin kesepian terasa lebih besar juga."
"Ibu nggak sendirian, kok," kata Rangga, menepuk pelan lengan sofa di antara mereka—gestur menenangkan sederhana, seperti yang akan dilakukan siapa saja pada anggota keluarga yang sedang sedih. "Enam bulan ke depan, kita jaga rumah ini bareng-bareng, ya, Bu."
Bu Wulan mengangguk, tersenyum lebih tulus kali ini. "Terima kasih, Rangga. Kamu selalu tahu cara bikin orang lain ngerasa lebih baik."
"Sudah malam, Bu. Saya tidur duluan, ya," kata Rangga, berdiri dan membereskan cangkir tehnya.
"Iya, tidur yang nyenyak," jawab Bu Wulan, suaranya kembali tenang seperti biasa.
Di kamarnya, Rangga berbaring menatap langit-langit dalam gelap, telepon genggam di tangan menampilkan pesan terakhir dari Sari: "Udah landing di Changi. Kangen udah, hihi. Jaga Ibu ya sayang."
Ia mengetik balasan singkat, lalu meletakkan ponselnya di meja nakas. Pikirannya masih memikirkan percakapan tadi—bukan dengan cara yang aneh, tapi dengan semacam kesadaran baru. Selama ini ia menganggap Bu Wulan sebagai sosok yang selalu punya segalanya di bawah kendali: bisnis yang sukses, rumah yang rapi, sikap yang selalu tenang. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari itu—seorang perempuan yang, di balik semua pencapaiannya, masih menyimpan kesepian yang jarang ia izinkan orang lain lihat.
Wajar aja kalau kadang orang butuh ditemani, pikir Rangga, menutup mata. Nggak ada salahnya aku coba lebih perhatian sama Ibu selama Sari pergi.
Ia menghela napas panjang, memejamkan mata, mencoba memaksa dirinya tidur. Enam bulan masih panjang, tapi setidaknya, pikirnya sebelum akhirnya tertidur, ia sudah punya alasan yang jelas untuk memastikan Bu Wulan tidak akan merasa sendirian selama itu.