Vella sedikit mengeliat, keknya tuh tangan kram karna tadi dijadikan bantal pas nyusui. Vella udah kebiasaan kalau di kost nyusui gini biar dia juga bisa istirahat dan … ya, biasanya akan ketiduran dan bangun di pagi hati. Kali ini dia nggak sadar kalo di samping sana ada Erka. Memasukkan barangnya ke dalam cup, menutup kaos longgarnya lalu kembali memejamkan mata. Vella membuka mata cepat saat menyadari sesuatu. Balkon dan lampu di atas sana, bukan lampu kamar kostnya. Tangan segera membekap mulut yang menganga menatap Erka yang sekarang tidur miring menghadapnya. Lelaki itu hanya diam dengan mata sayu yang begitu serius menatap padanya. Vella mencengkeram kain bajunya saat tatapan Erka ada di bagian dadanya yang belahannya terlihat sangat nyata. “Vell,” panggil Erka. Vella tak menjawa

