“Aku mau pulang.” Tiara beradu pandang dengan Reno, setelah mendengar ucapan Lita. Ia setuju-setuju saja dengan kepulangan Lita, tetapi Reno tampaknya tidak akan mengizinkan hal tersebut. “Jemput Tirta dulu di rumah Rindu,” sambung Lita sambil menurunkan kedua kakinya satu per satu dari brankar, dengan perlahan. “Ta, kamar inapnya tinggal dimasukin,” ucap Reno yang sempat bengong dengan ulah Lita. “Kenapa harus pulang?” “Kenapa harus dimasukin?” Lita mendesis nyeri dan memegang kepala ketika mencoba berdiri. “Kalau cuma numpang tidur, di rumah juga bisa. Malah lebih enak. Gratis, nggak pake bayar.” “Kita belum visum.” Reno segera menghalangi Lita, meskipun wanita itu belum melangkah ke mana pun. Lita baru meraih tas kecil yang berada di samping bantal, lalu memakainya. “Apa harus Pak

