PROLOG
“Beib, sudah lama sekali lho berdiri di situ? Enggak pegel? Apa yang sedang kamu pikirkan sih? Tenang ya, ada kita bersamamu.” Teguran itu datang memecah keheningan kamar vila yang sudah ditempatinya beberapa bulan kebelakangan saat perutnya tak lagi bisa ia sembunyikan.
Di depan sebuah cermin besar, seorang wanita berdiri mematung dengan jemarinya yang gemetar bergerak perlahan, mengusap perutnya yang sudah membuncit besar. Hari perkiraan lahir sudah di pelupuk mata. Di dalam rahimnya, ada sebuah kehidupan. Tatapan matanya yang redup menatap pantulan dirinya sendiri. Harus bersembunyi layaknya seorang kriminal.
“Rasanya baru kemarin, gemetar takut, terkejut, tapi terharu mendapati diriku hamil. Sembilan bulan waktu yang sangat singkat sekali.” Ia menarik napas dalam sebelum berbalik menatap orang yang sejak tadi memerhatikannya.
“Semuanya sudah siap,” bisik seorang itu lagi dengan suara kemayu yang hari ini terdengar luar biasa serius dan berat.
“Kalian dapat rumah sakitnya?”
“Ya. Kami dapat RS yang bersedia bekerjasama menjaga privasimu. Kami sudah memastikan enggak akan ada satu pun kamera media, dokumen medis, atau penyusup yang bisa mengendus identitasmu atau kabar melahirkanmu bocor. Kami pastikan steril. Keamananmu dan bayimu adalah prioritas kami.”
Ia memejamkan mata sesaat, merasakan tendangan halus dari dalam perutnya. Detik itu juga, sebuah firasat buruk yang teramat pekat tiba-tiba menghantam dadanya. Instingnya mengatakan bahwa malam ini akan menjadi pertaruhan hidup dan mati.
Ia mencengkeram lengan sahabatnya. Sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik matanya.
“Jika terjadi sesuatu padaku nanti,” suaranya tercekat, ada kepasrahan yang mendalam di sana, “berjanjilah satu hal. Amankan bayiku. Bawa dia pergi sejauh mungkin dari tempat ini. Dari mereka. Pastikan dia tumbuh di tempat yang aman, di mana enggak ada satu pun orang licik yang bisa menjadikannya alat sepertiku. Enggak banyak orang yang bisa kupercaya. Bahkan keluargaku sendiri kecuali kalian berdua.”
Sahabatnya sesaat terpaku. Ini bukan permintaan pertama. Berulang dan makin serius. “Kamu makin ngaco aja ngomongnya.”
“Aku perlu memastikan kamu janji, plis.”
Udara di sekitar mereka seolah membeku. Tanpa perlu wanita itu menjelaskan lebih jauh tentang ketakutannya terhadap kekejaman keluarga dan saudaranya yang serakah, sahabatnya sudah sangat memahami situasinya.
Dengan anggukan mantap dan tatapan mata yang dipenuhi komitmen mutlak, sahabatnya memberikan janjinya. “Aku bersumpah dengan nyawaku. Akan melindungi bayimu. Memastikannya bayimu di tempat paling aman. Tapi, Beib... kamu harus optimis. Semua berjalan lancar dan kamu bisa menjaganya sendiri.”
Dia menggelengkan kepalanya, air matanya jatuh. Bibirnya sudah siap terbuka tetapi ia meringis, bersama cengkeraman erat.
“Beib... kamu—“
“Sepertinya ini waktunya. Aku sudah merasakan kontraksi dari jam tiga pagi tadi.”
***
Beberapa jam setelahnya, ia sudah berada diruang persalinan. Wanita itu berjuang di ambang batas kemampuannya. Ringisan kesakitan, peluh yang bercucuran, dan teriakan perjuangan memenuhi ruangan. Di bawah lampu ruang bersalin, ia mempertaruhkan detak jantungnya demi napas pertama sang buah hati.
“Bayinya telah lahir!” beritahu sang dokter pada tim medis yang membantu di sana.
Suara tangis yang melengking memecah ketegangan. Seorang bayi perempuan yang cantik dan bersih telah lahir ke dunia. Senyum tipis sempat terukir di bibir pucat sang ibu saat mendengar suara itu. Bibirnya bergerak, “put-riku... huh!”
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan satu detik. Kesadarannya mendadak merosot tajam. Dokter berusaha menarik kesadarannya. Sayangnya, kegelapan merenggut pasokan tenaganya, membawanya jatuh ke dalam koma yang dingin.
“Pasien mengalami pendarahan dok!”
“Detak jantungnya melemah!”
Di sudut ruangan, mengabaikan kepanikan para dokter. Bayi itu dibawa menjauh untuk tetap diurus.
“Dok, bagaimana ini? Kondisi pasien makin menurun.” Tanya salah satu perawat pendamping.
“Beritahu keluarganya segera!” Perintah terdengar.
Seorang perawat keluar ruangan dengan wajah pias. Bertugas menemui pendamping pasien tersebut.
“Suster, apa yang terjadi? Bayinya selamat kan?”
“Bayinya selamat, tapi Ibunya...” ia menjeda memberi gerakan kepala yang lemah. Membuat seorang perempuan langsung menangis, memeluk seorang lain yang jadi satu-satunya menemani di sana.
“Apa yang harus kita lakukan pada bayi itu sekarang?” bisiknya sambil mengingat janjinya.
Takdir sang bayi perempuan yang belum sempat diberi nama itu kini berada di ujung dilema. Baru saja menghirup udara dunia, ia sudah dihadapkan pada pilihan yang kejam, kehilangan dekapan ibunya dan dikelilingi oleh manusia-manusia serakah yang siap melenyapkannya dari dunia.
“Kita harus melindungi bayinya. Kita sudah berjanji padanya!”