Obrolan yang terlihat serius antara mertua dan menantu itu masih berlanjut. Gibran menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tubuhnya yang semula tegak kini sedikit ia condongkan ke depan, pupil matanya melebar, menatap intens kearah Hilman yang masih saja terdiam di depannya. Batinnya bergolak menerka-nerka apa yang sedang sang mertua pikirkan. Ia semakin tak sabar mendengar jawaban yang keluar dari mulut mertuanya itu. "Jadi, siapa dia sebenarnya, Pa?" "Papa mengenalnya?" Gibran kembali melontarkan pertanyaan yang sama dengan nada yang terdengar tidak sabaran. Hilman yang semula tenang kini berubah menampilkan raut wajah kebingungan, bukan karena takut, tetapi dia sendiri pun tidak tahu tentang orang yang sedang dibicarakan oleh sang menantu. "Maaf, Nak Gibran, Lintang itu siapa Papa