Ammar merasa Amira menatapnya dengan cara yang sedikit berbeda, tapi bukan dalam artian yang menyenangkan. Tidak tau kenapa, Ammar merasa perutnya mulas dilihat seperti itu. “Ra?” panggil Ammar pada istrinya yang tidak berkedip sekalipun sejak beberapa saat yang lalu. “Ya?” Amira kemudian mengedip berkali-kali, menghalau air matanya yang sudah siap untuk tumpah. “Ada yang salah?” tanya Ammar sembari bangkit dari posisi tidurannnya. Akibat gerakannya itu Amira cepat-cepat menarik selimut yang melorot dari tubuhnya. Amira menahan sellimut itu tepat di dadanya kemudian tersenyum lemah pada Ammar sambil menggeleng. Ammar duduk dengan telapak tangan bertumpu pada ranjang, menahan tubuhnya yang condong ke arah Amira. Mencoba mendapatkan konfirmasi dari sang istri. Ammar takut kalau tadi ia m

