“Gue denger lo kaya orang gila dan terus gangguin Egin yang lagi hamil. Sekarang giliran gue?” tanya Afika pada Ammar yang sudah menunggunya di depan TK tempatnya bekerja. “Kita belum kenalan.” Ammar mengulurkan tangannya, namun apa daya? Afika tidak meliriknya sama sekali. “Lo bilang kalo lo tim horenya gue, ‘kan?” tanya Ammar menarik tangannya lagi kemudian memasukkannya ke dalam kantong celana. Sialan, ini cowok punya otak bagus. “Ehem..” deham Afika sambil ber-dadah ria pada muridnya yang sudah dijemput oleh orang tua masing-masing. “Gue tim hore elo selama Amira mau sama lo. Kalau Amira berhenti, gue juga berhenti.” “Afika Dyatmika Bahir, lo mending kooperatif atau lo terima akibatnya.” “Hooo.. gitu? Silahkan.. biarin gue rasain akibat yang lo maksud dulu biar gue berubah pikiran

