Luna melihat jam di meja nakas. Pukul setengah sembilan pagi. Sangat jarang Hayes bangun selarut ini. Kelelahan akibat penerbangan lintas benua, pekerjaan yang menumpuk, dan drama semalam, benar-benar telah merenggut energinya. Luna berdiri di sisi kasur, menatap wajah Hayes. Wajah yang biasanya tegang dan mendominasi kini terlihat damai, bahkan sedikit lebih muda. Luna perlahan-lahan duduk di pinggir kasur, sangat hati-hati agar kasur tidak bergerak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam momen itu—momen yang ia tahu sangat langka: melihat Hayes tanpa perisai. Ia menatap wajah Hayes yang damai. Ia mengangkat tangannya dan, ragu-ragu, mengelus lembut garis rahang Hayes yang tegas. Sentuhan itu terasa seperti tindakan pemujaan rahasia. "Dia pria yang sangat tampan," batin Luna. "Waj

