bc

Private Kiss di Ruang 517

book_age18+
506
IKUTI
1.9K
BACA
BE
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
campus
highschool
like
intro-logo
Uraian

Bagi Cindari Aruby Sarasvathi, Ruang 517 hanyalah ruang produksi kampus tempat Artbeat menyiapkan event. Sampai suatu malam, ruangan itu berubah jadi saksi - saat Kairav Mahasagara, ketua produksi Artbeat yang terkenal tampan, sedikit arogan, dan memikat, menjadi "tutor" ciumannya.

.

Yang awalnya hanya perjanjian rahasia perlahan menjelma jadi permainan perasaan yang tak bisa mereka kendalikan. Dan ketika batas antara latihan dan kesepakatan memudar, Ruang 517 bukan lagi tempat rahasia, melainkan ruangan panas di mana mereka kehilangan kontrol dan saling menginginkan tanpa tahu bagaimana cara bicara.

.

Namun, akankah ciuman itu menuntun mereka pada kebersamaan?Atau justru berakhir sebagaimana perjanjian itu dimulai?

.

“Jangan coba-coba buat nyari orang lain,” desisnya saat melepas ciuman itu. Matanya menajam, tapi nadanya nyaris bergetar.

.

“Dan cuma gue yang boleh cium lo. Ngerti?”

.

---------------

.

All Right Reserved

Copyright 2025 by

Velvoura_nee

.

[Dilarang keras mengambil sedikit, sebagian, bahkan seluruh isi cerita tanpa seizin penulis!]

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Prologue
Ruang 517 Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Cendrawasih Lampu-lampu di lantai lima sudah banyak yang padam. Koridor panjang itu hanya disinari cahaya kuning pucat dari ujung tangga darurat, menciptakan bayangan yang bergerak setiap kali angin malam menyelinap lewat ventilasi. Di tengah sunyi kampus yang sudah hampir kosong, hanya satu ruangan yang masih terang: Ruang 517. Tempat di mana Artbeat—tim produksi kebanggaan fakultas—biasanya menghabiskan malam-malam menjelang acara besar. Di dalamnya, meja-meja berantakan dengan gulungan kabel, kertas konsep, dan botol kopi dingin. Musik pelan dari speaker mini terdengar samar, bercampur dengan bunyi ketikan laptop dan denting mouse. Udara lembur khas anak produksi—yang menolak pulang meski berada di antara rasa kantuk dan tegang—menjadi pelengkap malam panjang yang seakan tak ada ujungnya itu. Cindari Aruby Sarasvathi menatap layar laptopnya lekat-lekat. File layout yang seharusnya jadi kebanggaan malah berantakan di hadapannya. Warna meleset, format pecah, dan template yang ia pikir sempurna justru nggak terbaca di proyektor. Satu kesalahan, dan rapat sore tadi berakhir dengan wajah merah serta suara dingin Kairav Mahasagara di depan semua orang. “Desain kayak gini bisa ngerusak seluruh konsep panggung,” komentarnya. Sebuah bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan. Tentu saja. Aruby tahu itu. “Gue nggak ngerti deh, kenapa warna latar ini malah neon magenta?” Nada suara Kairav terdengar datar, tapi semua orang di ruangan tahu kalau itu versi paling sopan dari kalimat ‘siap-siap aja kena semprot’. Suasana rapat produksi mendadak kaku. Layar proyektor menampilkan konsep desain panggung untuk event tahunan Artbeat. Di pojok kanan, nama pembuat layout masih terpampang jelas; Cindari Aruby Sarasvathi. Aruby berusaha menahan napas, tangannya mencengkeram buku kuat-kuat. “Soalnya... lighting-nya bakal main di tone ungu–biru, Kai. Kalau base-nya magenta, efeknya bisa—” “Overpower,” potong Kairav tanpa menatap ke arah Aruby. “Dan ngerusak gradasi panggung. Lo udah lihat mock-up-nya belum?” “Udah, tapi—” “Kalau udah, kenapa lo tetep pilih warna itu?” Nada suaranya naik sepersekian oktaf, bukan marah membentak, tapi cukup membuat seisi ruangan kontan diam. Baskara yang duduk di ujung meja langsung pura-pura sibuk dengan laptopnya. Shaila dan Anasera saling melirik, seperti hendak berkata ‘siapa pun tolong hentikan sebelum Kairav murka!’ Aruby menarik napas panjang, menatap balik dengan sengit. “Karena gue pengen nuansa yang nggak generik, Kai. Kita Artbeat, bukan panitia pensi SMA. Lo aja yang nggak berani ambil risiko.” Sekilas, seisi ruangan tampak kaget. Di tempatnya, Baskara sampai terbatuk pelan. Lain dengan Shaila yang justru nyengir kecil, sarkastis. Kairav berhenti mengetuk meja, beralih menatap Aruby dengan sorot yang tajam. Tatapan itu tidak berarti ia marah, melainkan... terpicu. “Lo baru semester empat, By. Gue nggak masalah lo punya ide liar, tapi lo harus ngerti konteks produksi. Kita bukan ngejar ‘beda’, tapi ngejar ‘nyatu’. Kalau lo pengen bereksperimen, jangan di panggung utama.” “Berarti lo nggak percaya sama desain gue?” “Gue percaya lo niat. Tapi niat doang nggak bikin visual kita selamat.” Keheningan menggantung di udara. Menyisakan suara kipas tua di pojok ruangan yang berderit-derit. Sembari menarik napas berat, Kairav menutup laptop pelan. “Rapat hari ini cukup. Besok revisi dibahas ulang. Gue nggak mau liat warna itu nongol lagi. Ngerusak mata!” katanya masam. Tanpa menunggu tanggapan, dia keluar dari ruangan. Separuh kemejanya keluar dari celana, rambut agak berantakan, dengan aura pemimpin yang sangat kental. Sementara di tempatnya Aruby cuma bisa duduk diam, wajahnya panas karena rasa malu dan … sedikit tertantang. Begitu pintu tertutup, Shaila langsung bersuara, setengah berbisik, “Lo gila, By! Lo berani ngelawan Kairav di depan semua tim? Bocah stres!" “Biarin,” gumam Aruby pelan. “Dia bukan Tuhan,” imbuhnya, jengkel. Garvi yang sejak tadi diam ikut menyahut, “Tapi lo tahu betul kalau dia emang Raja-nya Artbeat, By. Semua ide yang lo bikin tetap butuh restu dia,” ujarnya mengingatkan. Aruby tidak membalas, hening menyeruak hingga satu per satu meninggalkan ruangan. Kembali ke situasi sekarang. Aruby menaikkan bahu, mengucek mata, lalu menghela napasnya dalam. Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 namun ia masih tertahan di ruang 517. Di meja panjang itu, laptop Aruby masih menyala, menampilkan file desain yang sama—base warna magenta yang tadi diperdebatkan. “Ngerti konteks produksi, gak?” gumamnya lirih, menirukan nada bicara Kairav sore tadi dengan ekspresi sebal. “Gue juga ngerti kali, senior sok jenius.” “Iiiiiih nyebelin banget sih Kairav! Gue kira nyebelinnya cukup di SMA, tapi nyampe kampus sama juga!” kesalnya. Pasalnya, Kairav memang bukan sekedar seniornya di kampus, tapi juga senior Aruby saat di masa-masa SMA. Mereka sempat satu sekolah, satu jurusan bahkan satu organisasi. Aruby pikir ia tidak akan kembali bertemu dengan Kairav di belahan dunia mana pun, tapi ternyata manusia memang tidak boleh lebih berbangga diri daripada takdir. Kembali ia satu universitas, satu fakultas, bahkan satu UKM dengan Kairav Mahasagara. Sungguh garis tangan yang tidak dapat diduga. Kalau kata gen Z sekarang sih, nyangka gak lo pada? Yah, kira-kira seperti itu. Ia menyeruput kopi yang sudah dingin, mengetuk-ngetuk jari di meja. Sampai pintu ruangan berderit pelan. Aruby spontan menoleh. Dan seperti yang ia takutkan—atau mungkin tunggu diam-diam— sosok itu benar-benar berdiri di ambang pintu dengan satu tangan masih memegang handle pintu. “Gue kira lo udah pulang,” ujar Kairav datar. Ia berjalan memasuki ruangan lalu menaruh tas di kursi belakang. “Belum,” jawab Aruby tanpa menatap lama-lama. “Masih revisi warna. Takut ‘visual-nya nggak selamat’.” Nada sarkasmenya tipis tapi cukup untuk bikin Kairav melirik sekilas. Ada senyum kecil di ujung bibirnya, sungguh bukan mengejek, lebih seperti menahan geli. “Gue nggak nyuruh lo ngerjain malam-malam juga.” “Gue nggak ngerjain karena lo. Gue ngerjain karena gue benci salah.” Hening. Suara klik mouse dan dengungan komputer jadi satu-satunya irama yang menemani mereka. Kairav berjalan pelan ke sisi meja, melipat lengan baju sampai siku, lalu berdiri di belakang Aruby diikuti aroma aftershave khas Kairav yang seolah langsung mengisi udara. Dari sudut mata, Aruby bisa lihat urat di lengannya menegang tiap kali dia mencondongkan tubuh untuk memperhatikan layar. “Warnanya udah lo ubah?” “Udah.” “Boleh gue liat?” Aruby bergeser sedikit, tapi jarak di antara mereka masih terlalu dekat. Kairav sedikit menunduk hingga bahunya hampir bersentuhan dengan pundak Aruby. Suara napasnya terasa, pelan tapi stabil. “Hmm…” gumamnya, tatapannya fokus pada layar. “Lebih aman. Tapi lo kehilangan nyawanya.” “Nyawanya?” Aruby menoleh spontan. Dan tanpa sengaja, jarak wajah mereka nyaris bertabrakan. Detik itu, waktu seolah melambat. Tatapan Kairav turun perlahan ke bibir Aruby—hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk bikin jantung Aruby berdetak tak karuan. Ia buru-buru menarik diri, menyembunyikan semburat panas yang menjalari pipi. “Gue ganti lagi deh nanti.” “Enggak perlu.” Suara Kairav terdengar lebih pelan dari biasanya. “Kadang, lo nggak harus bener biar bisa dibilang bagus.” Aruby kembali menatap, kali ini benar-benar menatap. Sisi wajah Kairav yang diterpa cahaya layar laptop membuat garis rahangnya terlihat tajam, mata hitamnya dalam, memantulkan warna ungu dari desain yang tadi mereka perdebatkan. Entah kenapa, di antara tumpukan kabel, bunyi kipas, dan file revisi yang belum kelar, sesuatu di d**a Aruby bergetar samar. Bukan karena marah. Bukan juga karena malu. Tapi karena … dia merasakannya. Dan malam itu, tanpa satu pun dari mereka tahu, Ruang 517 pelan-pelan mencatat peristiwa pertama. Awal mula dari segala kisah seorang ketua produksi dan juniornya yang mulai kehilangan batas antara rekan kerja, rahasia, dan rasa yang tak pernah mereka duga. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
6.0K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.7K
bc

After We Met

read
188.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook