Di dalam ruang kantor yang luas dan mewah, Darren Adrian Mahendra menatap dokumen yang baru saja ditandatanganinya. Namun, peringatan Aryan membuat alisnya sedikit berkerut. Ia menutup pena, lalu mengangkat wajahnya menatap Aryan dengan tajam. "Apa maksudmu?" tanya Darren dengan nada rendah, tapi cukup tajam untuk membuat suasana sedikit menegang. Aryan, asisten setia yang sudah bekerja dengannya bertahun-tahun, tetap tenang. Ia tahu harus berbicara hati-hati. "Maaf, Tuan. Saya hanya merasa ada beberapa angka yang tampak tidak wajar dalam anggaran ini. Apakah Tuan yakin ingin menyetujui pencairan dana sebesar ini tanpa meninjaunya lebih lanjut?" Darren menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya yang mahal, lalu menatap ke arah Riko, sepupu istrinya yang juga menjabat sebagai kepala proyek