Hanzel berbalik, matanya berkilat penuh amarah dan kecemburuan yang tidak terkendali. Ia menyambar kedua pergelangan tangan Zee dan menguncinya di atas kepala wanita itu, menekan tubuh Zee ke sandaran kursi kulit yang empuk. "Kau membiarkannya menyentuhmu, Zee," desis Hanzel. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Zee. "Kau membiarkan tangannya yang menjijikkan itu melingkar di pinggangmu. Kau bahkan memberikan senyuman itu padanya!" "Itu bagian dari rencana, Paman! Kau sendiri yang mengatakannya!" bela Zee, meski napasnya mulai terengah karena tekanan tubuh Hanzel. "Aku tidak bilang kau harus menikmatinya!" bentak Hanzel. "Aku melihat caramu menatap Arkan tadi. Apa kau masih mencintainya? Apa kau ingin lari bersamanya dan meninggalkan semua ini?" "Tidak! Aku benci Ridwan

