Ridwan menatap anting itu, lalu menatap Zee. Untuk sesaat, ketakutan melintas di matanya, seolah ia sedang melihat bayangan Zella di balik topeng Zee. Namun, gairah dan keserakahan segera mengubur rasa takut itu. "Tidak... tidak ada. Hanya kebetulan yang aneh," Ridwan menyerahkan kembali anting itu, namun tangannya gemetar. Zee memasang kembali antingnya, memberikan senyuman paling memikat yang pernah ia miliki, "Dunia ini penuh dengan kebetulan, Ridwan. Bukankah kebetulan juga yang mempertemukan kita malam ini, di saat Anda sedang sangat membutuhkan bantuan?" Ridwan terhipnotis. Ia menenggak wiskinya sampai habis, "Ya. Kebetulan yang sangat beruntung." "Saya akan memikirkan proposal investasi Anda," ucap Zee sambil berdiri, menandakan pertemuan berakhir. "Hubungi saya besok pagi. Tapi

