"Mas, kau bentak aku! Aku istrimu yang mengandung anakmu, Mas!" Ridwan bahkan tidak menoleh. Ia melemparkan tas kerjanya ke sofa dan berjalan menuju bar pribadi di sudut ruangan, "Bukan urusanmu, Amel. Aku sedang pusing. Proyek Emerald City sedang di ujung tanduk, dan hanya Zee yang bisa menyelamatkannya." "Zee lagi! Zee lagi!" Amel menghampiri Ridwan dan memutar tubuh pria itu agar menghadapnya. "Kamu pikir aku buta? Kamu mengejarnya seperti anjing kelaparan! Kamu mengabaikan istrimu yang sedang hamil ini demi wanita jalang yang bahkan kita tidak tahu asal-usulnya!" Ridwan menatap Amel dengan mata merah yang penuh kebencian. "Jaga bicaramu! Zee adalah satu-satunya harapan kita agar tidak jatuh miskin. Kalau perusahaan ini hancur, kau mau makan apa? Perhiasanmu, tas-tas mewahmu, semuany

