Zee menatap Ridwan melalui lubang topengnya. Ia bisa melihat keringat dingin mulai muncul di dahi mantan tunangannya itu. Zee tidak mengulurkan tangan. Ia hanya mengangguk kecil, memberikan kesan arogan yang sempurna. "Senang bertemu denganmu, Tuan Ridwan," suara Zee keluar, rendah dan penuh getaran yang tidak biasa. Ia sengaja mengubah intonasi suaranya agar terdengar lebih berat. "Aku sudah banyak mendengar tentang 'pencapaian' luar biasamu akhir-akhir ini." Ridwan menelan ludah. "Suara Anda... terdengar familiar." "Benarkah?" Zee terkekeh, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan sutra yang mahal. "Mungkin kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya. Atau mungkin, dalam penyesalanmu." Amel, yang merasa diabaikan dan terancam oleh aura Zee, mencoba masuk ke dalam percakapan. Ia mem

