Pesta Topeng Dan Pertemuan Tak Terduga.

1295 Kata
"Benar, Pak. Dan berdasarkan data GPS yang kami retas dari menara pemancar terdekat, sinyal ponsel Nona Zella terakhir kali terdeteksi bergerak menuju kompleks perumahan elit di wilayah selatan. Itu wilayah kekuasaan Hanzel." Arkan mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih. "Hanzel... paman tirinya dari pihak Mbak Ambar? Si psikopat itu?" "Sepertinya begitu. Nona Zella masuk ke mobil itu, entah dipaksa atau sukarela. Tapi setelah itu, semua jejak digitalnya dihapus secara profesional." Arkan masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan keras. Jantungnya berdegup kencang antara rasa lega karena Zella mungkin masih hidup, dan rasa takut yang luar biasa karena Zella berada di tangan orang seperti Hanzel. "Kita ke kantor pusat Hanzel Group sekarang," perintah Arkan. "Pak, itu berbahaya. Hanzel bukan orang yang bisa diajak bicara baik-baik. Dia punya pasukan keamanan sendiri." "Gue nggak peduli. Kalau Ridwan itu ular, Hanzel itu naga. Dan gue nggak akan biarin naga itu nelan Zella bulat-bulat." Arkan menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet dan pengap. Pikirannya melayang pada sosok Zella yang lembut, yang selalu tersenyum padanya setiap kali ia pulang membawa cokelat dari luar negeri. Zella yang malang, yang dikelilingi oleh pria-pria predator. Ia meraba saku dadanya, tempat ia menyimpan foto kecil Zella saat kelulusan SMA. "Tunggu aku, Zee," gumamnya pelan. "Aku nggak akan gagal ngelindungin kamu kali ini." Mobil Arkan melesat membelah jalanan, meninggalkan rumah penuh dosa itu di belakang. Namun, di dalam kepalanya, peringatan Mama Ambar terus bergema. "Tolong Zella." Arkan tahu, pertempuran melawan Ridwan hanyalah pemanasan. Lawan sesungguhnya adalah pria yang kini menyembunyikan Zella di balik tembok-tembok tinggi kekuasaannya. "Jika Ridwan menyentuh seujung rambutnya, aku akan meratakan bisnisnya," gumam Arkan dengan suara yang begitu dingin hingga supirnya bergidik, "Tapi jika Hanzel yang menyentuhnya... aku akan pastikan dia menyesal pernah lahir ke dunia ini." Ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Jangan mencari apa yang sudah hilang, Arkan. Atau kau akan ikut lenyap. Arkan hanya tersenyum miring, lalu menghapus pesan itu. Ia tidak pernah takut pada ancaman. Baginya, Zella adalah satu-satunya alasan ia masih memiliki nurani. Dan jika nurani itu diambil darinya, maka yang tersisa hanyalah Arkan sang penghancur. "Cek jadwal pertemuan Hanzel minggu ini," perintah Arkan lagi pada asistennya. "Dia akan menghadiri pesta amal malam ini, Pak. Di Grand Ballroom." "Siapkan setelan jas terbaik gue. Kita akan datang ke pesta itu." "Tapi kita nggak punya undangan, Pak." Arkan menoleh dengan tatapan tajam. "Sejak kapan gue butuh undangan buat ngambil milik gue sendiri?" Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel Mulia memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, memantul pada ribuan gelas sampanye dan perhiasan mahal yang dikenakan oleh para tamu. Malam ini adalah Pesta Topeng Amal tahunan, sebuah ajang di mana kemunafikan dibungkus dengan sutra dan renda, di mana wajah-wajah paling berdosa bersembunyi di balik topeng-topeng artistik yang indah. Di sudut ruangan, Ridwan berdiri dengan angkuh, menggenggam gelas kristal berisi wine merah. Di sampingnya, Amel tampak bersinar atau setidaknya, begitulah menurutnya. Amel mengenakan gaun berwarna champagne yang dipenuhi payet, namun perhatian Ridwan justru teralih pada kalung zamrud yang melingkar di leher istrinya. Itu adalah kalung peninggalan Mama Ambar, ibu Zella. Kalung yang seharusnya menjadi warisan Zella, kini melingkar di leher wanita yang mengkhianatinya. "Kau tampak luar biasa malam ini, Sayang," puji Ridwan, meski matanya terus berkeliling ruangan, mencari relasi bisnis yang bisa ia peras. "Tentu saja," sahut Amel dengan nada manja yang dibuat-buat, "Setelah semua stres karena Zella menghilang, aku rasa aku pantas mendapatkan malam yang indah. Tapi, Mas... apa kau tidak merasa orang-orang masih membicarakan kita?" "Biarkan saja mereka bicara," desis Ridwan tajam. "Uang adalah suara yang paling keras di kota ini. Selama kita memegang aset Adiguna, mereka akan tetap mencium kaki kita." Tiba-tiba, suasana riuh di dalam ruangan itu mendadak hening. Seolah-olah ada sebuah gelombang gravitasi yang menarik perhatian semua orang ke arah pintu masuk utama. Musik orkestra yang tadinya mengalun lembut seakan meredup, digantikan oleh bisik-bisik penasaran yang menjalar seperti api di atas jerami kering. Seorang pria melangkah masuk. Hanzel. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membalut tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang menindas. Topeng hitam sederhana menutupi bagian atas wajahnya, namun sorot matanya yang tajam dan dingin tetap terasa seperti pisau yang mengiris udara. Namun, bukan Hanzel yang menjadi pusat perhatian utama. Di lengannya, seorang wanita melangkah dengan keanggunan yang hampir tidak nyata. Wanita itu mengenakan gaun backless berbahan lace hitam yang memeluk tubuhnya seperti kulit kedua. Belahan gaunnya yang tinggi memperlihatkan kaki jenjang yang melangkah mantap di atas stiletto perak. Rambut pendeknya ditata dengan gaya wet look yang modern dan tajam. Wajahnya tertutup topeng perak yang dihiasi butiran berlian kecil, hanya menyisakan bibir merah menyala dan sepasang mata yang berkilat misterius. "Siapa itu?" bisik Amel, cengkeramannya pada lengan Ridwan menguat hingga kuku-kukunya menusuk kulit pria itu. "Siapa wanita yang bersama Tuan Hanzel?" Ridwan tidak menjawab. Gelas di tangannya hampir terlepas. Jantungnya berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan. Ada sesuatu dari cara wanita itu berjalan, cara dia mengangkat dagunya, dan yang paling penting... mata itu. Mata yang seolah-olah pernah ia lihat dalam mimpi buruknya. "Zella?" gumam Ridwan tanpa sadar. "Apa!" Amel menoleh tajam pada suaminya. "Mas, jangan gila! Zella itu kusam, membosankan, dan rambutnya panjang seperti hantu. Wanita itu... dia tampak seperti model dari Paris. Tidak mungkin itu Zella!" Zee, begitu dunia akan mengenalnya mulai malam ini, merasakan setiap pasang mata yang menghakiminya. Di balik topeng peraknya, ia menarik napas panjang, menghirup aroma parfum mahalnya yang bercampur dengan aroma kekuasaan Hanzel. Ia bisa merasakan tangan Hanzel yang posesif di pinggangnya, jemari pria itu menekan sedikit lebih keras ke kulitnya yang terbuka, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Tetap tegak, Zee," bisik Hanzel, suaranya rendah dan menggetarkan. "Kau adalah pusat gravitasi mereka malam ini. Biarkan mereka tenggelam dalam rasa penasaran." Zee tersenyum tipis di balik topengnya. "Aku tidak hanya ingin mereka penasaran, Paman. Aku ingin mereka merasa terancam." Mereka berjalan membelah kerumunan. Orang-orang menyingkir secara otomatis, memberikan jalan bagi sang raja industri dan pendamping misteriusnya. Saat mereka melewati Ridwan dan Amel, Zee sengaja memperlambat langkahnya. Matanya menangkap kilauan hijau di leher Amel. Darah Zee mendidih. Itu adalah perhiasan ibunya. Perhiasan yang diberikan kakeknya pada Mama Ambar saat hari pernikahannya. Melihat benda suci itu menempel pada kulit Amel yang kotor terasa seperti tamparan keras bagi Zee. "Tuan Hanzel, kejutan yang luar biasa Anda bisa hadir," sebuah suara menyela. Itu adalah salah satu kolega bisnis Hanzel, namun Zee tidak peduli. Matanya tetap terkunci pada Ridwan yang kini berdiri mematung hanya beberapa meter darinya. Ridwan tampak pucat, seolah-olah ia sedang melihat hantu. Di sisi lain ruangan, di balik pilar besar, Arkan berdiri dengan rahang mengeras. Ia baru saja tiba, dan pemandangan di depannya membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Ia mengenakan topeng hitam yang menutupi identitasnya, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia mengenali postur itu. Ia mengenali lekuk bahu yang dulu sering ia rangkul dengan penuh kasih sayang sebagai paman. "Zella..." bisik Arkan dengan suara serak. "Apa yang kau lakukan dengan pria iblis itu?" Arkan ingin berlari ke sana, menarik Zella keluar dari pelukan Hanzel, dan membawanya pergi jauh. Namun, ia berhenti saat melihat tatapan Zella bukan, wanita itu bukan Zella yang ia kenal. Zella yang ia kenal adalah wanita lembut yang benci konflik. Wanita di depan sana memiliki tatapan predator. Dingin, penuh perhitungan, dan mematikan. Hanzel memimpin Zee menuju meja prasmanan mewah, tempat Ridwan dan Amel berdiri. Ini adalah konfrontasi pertama yang sudah direncanakan. "Ah, Ridwan. Kita bertemu lagi," sapa Hanzel dengan nada yang terlalu ramah untuk menjadi tulus. Ridwan tersentak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Tuan Hanzel. Sebuah kehormatan. Dan... siapa wanita cantik ini?" Hanzel mengeratkan pelukannya di pinggang Zee, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka tak menyisakan jarak. "Perkenalkan, ini Zee. Partner baruku. Zee, ini Ridwan, pria yang... katakanlah, sedang mencoba mengelola aset yang bukan miliknya." Membuat Ridwan tertegun beberapa saat mendengar kata-kata itu. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN