Kembalinya Arkan

1003 Kata
Di Mansion Hanzel Zee dan Hanzel.sibuk merancang rencana mereka di acara pesta yang diadakan besok malam. Di tempat yang lain, tepatnya di rumah lama Zee dan mamanya, Ambar, tinggal dulu. Seorang laki laki bertubuh tegap dan berwajah tampan mirip dengan ketegasan dan ketajaman mata milik Hanzel tapi berbeda aura, berdiri memandangi bangunan kokoh tersebut. Arkan namanya, dia berdiri di depan gerbang tinggi yang dulu selalu terbuka menyambutnya dengan hangat. Namun, siang ini, cat gerbang itu tampak baru, dan papan nama di depannya telah berubah. Bukan lagi kediaman keluarga Adiguna, melainkan sebuah nama yang membuatnya mual: Ridwan & Amel. Ia menekan bel dengan kasar. Berkali-kali, hingga seorang satpam baru yang tidak ia kenali muncul dengan wajah bingung. "Cari siapa, Pak?" "Buka gerbangnya. Saya pemilik rumah ini," desis Arkan tajam. "Maaf, Pak, ini rumah Pak Ridwan—" "Gue bilang buka!" Arkan menendang pintu besi itu hingga dentumannya menggema. Pintu utama rumah terbuka. Sosok wanita dengan gaun sutra yang tampak terlalu mahal untuk seleranya muncul di ambang pintu. Amel. Ia memicingkan mata, lalu wajahnya berubah pucat saat mengenali siapa yang berdiri di sana. "Mas Arkan?" gumam Amel pelan. Arkan tidak menunggu izin. Saat satpam itu ragu, Arkan merangsek masuk, melangkah lebar melewati halaman menuju teras. Matanya menyapu setiap sudut. Foto besar Zella yang dulu ada di ruang tamu kini lenyap, diganti foto pernikahan Amel dan Ridwan yang memuakkan. "Di mana Zella?" tanya Arkan tanpa basa-basi begitu ia sampai di depan Amel. Amel mencoba mengatur napas, memasang senyum manis yang dipaksakan. "Mas Arkan kapan pulang dari London? Kok nggak kasih kabar? Ayo masuk dulu, Mas, kita minum—" "Gue nggak butuh minum. Gue tanya, di mana Zella?" "Kak Zella... dia pergi, Mas." "Pergi ke mana?" "Kami nggak tahu. Setelah masalah aset itu selesai, dia pergi begitu saja. Mungkin malu, atau stres." Arkan tertawa sumbang. Langkahnya maju satu tindak, membuat Amel mundur ketakutan, "Malu? Stres? Atau lo berdua yang bikin dia hilang?" "Mas, jangan nuduh gitu! Aku ini sahabatnya!" "Sahabat yang tidur sama tunangannya? Sahabat yang tega ngerampas rumah ini?" Arkan menunjuk foto pernikahan di dinding dengan hina, "Mana Ridwan? Suruh pengecut itu keluar." "Siapa yang kamu sebut pengecut, Arkan?" Suara berat itu datang dari arah tangga. Ridwan muncul dengan kemeja kantor yang rapi, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Ia menuruni tangga dengan dagu terangkat, mencoba membangun wibawa yang sebenarnya kosong. "Wah, paman tiri, ( adik dari pihak papa Zella) kesayangan Zella sudah pulang," sindir Ridwan. Arkan langsung menyambar kerah kemeja Ridwan begitu pria itu sampai di lantai bawah. "Lo apain Zella, hah?" "Lepas! Ini rumah gue, Arkan! Gue bisa laporin lo atas perbuatan tidak menyenangkan!" Ridwan meronta. "Laporin aja! Biar sekalian polisi periksa gimana caranya aset Zella bisa pindah ke tangan lo dalam semalam!" Arkan menghempaskan Ridwan hingga pria itu terhuyung ke sofa. "Semua itu sah secara hukum, Mas," potong Amel cepat, mencoba membela suaminya, "Zella sendiri yang tanda tangan. Dia bilang dia nggak sanggup pegang perusahaan." "Zella nggak akan pernah lepasin warisan kakeknya ke tangan parasit kayak lo berdua. Gue kenal dia lebih dari siapa pun di dunia ini!" Arkan menunjuk wajah Ridwan. "Lo kasih dia apa? Ancaman? Obat?" Ridwan merapikan kerahnya, mencoba kembali tenang, "Dengar, Arkan. Gue tahu lo punya perasaan lebih ke keponakan tiri lo itu. Tapi sadarlah, Zella itu rapuh. Dia butuh perlindungan, dan dia milih gue buat urus semuanya sebelum dia... yah, menghilang." "Dia nggak menghilang. Lo yang ngilangin dia." "Jangan sembarangan bicara kalau nggak punya bukti," tantang Ridwan. "Mending lo pergi sekarang. Gue masih hargai lo sebagai bagian dari keluarga besar. Berapa yang lo mau? Gue bisa kasih cek sekarang supaya lo balik ke London dan nggak usah ikut campur." Arkan terdiam sejenak, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel tua yang layarnya retak. "Lo tahu ini apa?" tanya Arkan dingin. Ridwan dan Amel saling pandang, "Cuma HP sampah. Terus?" "Ini HP Mama Ambar. Sebelum beliau drop terakhir kali, dia kirim pesan suara ke gue. Dia bilang, 'Arkan, tolong Zella. Ridwan dan Amel... mereka mau bunuh saya pelan-pelan'. Lo pikir gue bakal diem aja?" Wajah Amel berubah drastis. "Itu... itu, pasti Mama Zella lagi halusinasi karena sakitnya!" "Mbak Ambar nggak pernah halusinasi soal ular yang dia pelihara di rumahnya sendiri," desis Arkan, "Gue kasih lo waktu empat puluh delapan jam. Kasih tahu gue di mana Zella, atau gue serahin rekaman ini dan bukti-bukti transfer gelap yang gue temuin ke jaksa." "Arkan, jangan gila!" Ridwan berdiri, suaranya mulai bergetar, "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Lo mau saham? Oke, gue kasih lima persen. Sepuluh persen?" Arkan meludah ke lantai marmer yang mengkilap itu. "Gue nggak butuh uang haram lo. Gue cuma butuh Zella." "Dia nggak ada di sini, Mas! Sumpah!" Amel mulai menangis histeris, entah akting atau benar-benar takut, "Dia pergi malam itu setelah kami berdebat. Dia bawa mobilnya sendiri dan nggak pernah balik!" Arkan menatap mereka berdua dengan tatapan menghakimi. Ia tahu mereka berbohong, setidaknya sebagian. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah keluar. Ia tidak bisa lama-lama di rumah yang sudah terkontaminasi bau pengkhianatan ini. Di luar gerbang, seorang pria berjaket kulit sudah menunggu di samping mobil Arkan. Itu adalah orang kepercayaannya, seorang mantan intelijen yang ia sewa sejak mendarat di bandara enam jam lalu. "Gimana?" tanya Arkan pendek. "Saya sudah cek CCTV di sekitar area ini untuk malam yang dimaksud," ujar pria itu sambil menyerahkan sebuah tablet. Arkan melihat rekaman buram itu. Tanggalnya tepat dua minggu lalu. Sebuah mobil sedan putih, mobil Zella, terlihat keluar dari gerbang. Namun, beberapa kilometer kemudian, mobil itu berhenti di sebuah jalan sepi. "Lihat ini, Pak," pria itu menggeser video. Dua orang pria turun dari mobil Zella, meninggalkan mobil itu di pinggir jalan. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah dengan kaca gelap berhenti di sana. Seseorang dari dalam mobil hitam itu keluar, tapi wajahnya tidak terlihat jelas. Namun, ada satu hal yang mencolok. "Zoom bagian pintu mobil hitam itu," perintah Arkan. Saat gambar diperbesar, sebuah logo kecil berbentuk huruf 'H' yang dikelilingi rantai terlihat di pintu mobil tersebut. Arkan mengerutkan kening. "Hanzel Group?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN