Keesokan harinya di mansion Hanzel, Hanzel masih belum puas rasa hatinya jika tidak membuat penampilan Zee tampak lebih luar biasa lagi. Hanzel ingin sesuatu yang benar-benar berbeda.
Bunyi gunting yang beradu dengan helai rambut terdengar seperti melodi kematian di dalam kamar ganti yang luas dan dingin itu. Helai-helai rambut hitam panjang yang dulunya dipuja oleh Ridwan, rambut yang selalu Zella rawat dengan penuh kasih sayang karena Ridwan menyukainya. Kini jatuh berserakan di atas lantai marmer putih seperti bangkai-bangkai kenangan yang tak lagi berharga.
Zella menatap lurus ke arah cermin besar di depannya. Di pantulan kaca itu, ia melihat seorang wanita dengan mata sembab yang perlahan menghilang, digantikan oleh sorot mata yang mendingin sekeras es.
Hanzel berdiri di belakangnya, menyandarkan tubuh tegapnya pada bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memperhatikan setiap inci gerakan penata rambut profesional yang ia datangkan khusus pagi ini. Matanya yang tajam menelusuri bahu Zella yang terbuka, lalu turun ke tumpukan rambut di lantai.
"Buang semuanya," suara Hanzel memecah keheningan, berat dan mutlak. "Jangan biarkan ada satu helai pun sisa dari Zella yang lama di rumah ini."
Zella memejamkan mata saat potongan terakhir jatuh. Ketika ia membukanya kembali, sosok di cermin itu bukan lagi wanita malang yang menangis di bawah guyuran hujan. Rambutnya kini dipotong pendek model textured bob yang membingkai wajahnya dengan tajam, memberikan kesan berani, misterius, dan sangat provokatif.
"Buka matamu, Zella," perintah Hanzel, melangkah mendekat. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu Zella, jemarinya yang dingin menyentuh kulit leher Zella yang kini terekspos. "Lihat dirimu. Apa kau masih mengenali wanita itu?"
Zella menelan ludah. "Tidak. Dia tampak sangat asing."
"Bagus," bisik Hanzel tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Zella meremang, "Karena mulai hari ini, Zella yang rapuh sudah dikubur. Kau adalah Zee. Senjataku. Mahakaryaku."
Transformasi itu tidak berhenti pada penampilan fisik. Selama satu minggu berikutnya, Hanzel mengubah mansion mewahnya menjadi medan pelatihan bagi Zella. Ia tidak hanya memberikan gaun-gaun couture yang memeluk tubuh dengan sempurna atau sepatu tumit tinggi yang membuat langkah Zella terdengar seperti detak jantung yang mengancam. Hanzel memberikan sesuatu yang lebih mematikan: seni manipulasi.
"Pria adalah makhluk visual, Zee. Tapi mereka juga b***k dari ego mereka sendiri," ujar Hanzel suatu sore di ruang tengah yang luas. Di depannya, Zee berdiri mengenakan gaun sutra merah marun dengan belahan paha yang tinggi.
Hanzel duduk di sofa kulitnya, menyesap wiski seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan paling menarik di dunia. "Jangan pernah mengejar. Buat mereka merasa bahwa mereka yang mengejarmu, padahal kaulah yang menarik talinya."
"Bagaimana jika mereka tahu aku berpura-pura?" tanya Zee, mencoba menyeimbangkan tubuhnya di atas stiletto sepuluh sentimeter.
Hanzel meletakkan gelasnya, lalu berdiri dan berjalan perlahan mengitari Zee. "Maka kau harus belajar untuk tidak melibatkan perasaan. Perasaan adalah racun bagi rencana kita. Kau harus bisa menatap mata Ridwan dengan penuh cinta, sementara di dalam kepalamu, kau sedang membayangkan bagaimana cara memotong nadinya."
Hanzel berhenti tepat di depan Zee. Jarak mereka begitu dekat hingga Zee bisa mencium aroma maskulin bercampur tembakau mahal dari tubuh pria itu.
"Sekarang, coba padaku," tantang Hanzel dengan senyum miring yang berbahaya. "Goda aku. Buat aku bertekuk lutut tanpa kau menyentuhku sedikit pun."
Jantung Zee berdegup kencang. Hanzel bukan hanya mentornya dia adalah pria yang menyelamatkannya, paman tirinya yang memiliki aura otoritas yang menindas. Namun, Zee tahu ini adalah ujian. Ia menarik napas dalam, membiarkan kemarahan dan dendamnya menguap, digantikan oleh topeng pesona yang baru ia pelajari.
Zee melangkah satu tindak maju, memperpendek jarak yang sudah tipis itu. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Hanzel yang gelap. Ia membiarkan bibirnya sedikit terbuka, lalu dengan gerakan lambat yang sangat terukur, ia menyisipkan jemarinya ke kerah kemeja Hanzel, merapikannya dengan gerakan yang seolah tidak sengaja namun penuh intensitas.
"Tuan Hanzel," bisik Zee, suaranya kini berubah menjadi serak dan menggoda, jauh dari suara lembut Zella yang dulu. "Apa Anda yakin bisa menahan diri jika aku terus menatap Anda seperti ini?"
Zee bisa merasakan tubuh Hanzel menegang. Rahang pria itu mengeras, dan napasnya mulai memberat. Zee tidak berhenti. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Hanzel, menghirup aromanya, lalu berbisik lagi, "Bukankah Anda yang bilang, jangan biarkan pria lain melihat Zee yang ini? Apa itu artinya... Anda takut kehilangan kendali?"
Tiba-tiba, tangan Hanzel menyambar pinggang Zee dengan kasar, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada d**a bidangnya. Zee terkesiap, tangannya secara insting mencengkeram bahu Hanzel.
"Cukup," desis Hanzel. Sorot matanya kini bukan lagi sorot mata seorang mentor, melainkan seorang predator yang terprovokasi, "Kau belajar terlalu cepat, Zee."
Ada ketegangan yang hampir tak tertahankan di antara mereka. Keheningan di ruangan itu terasa panas. Hanzel menatap bibir Zee dengan intensitas yang membuat Zee merasa seolah-olah ia sedang terbakar. Untuk sesaat, Zee melihat kilasan obsesi di mata Hanzel, sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar keinginan untuk membalas dendam.
Hanzel perlahan melepaskan cengkeramannya, meski matanya tetap terkunci pada Zee. Ia berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sempat goyah.
"Kau sudah siap untuk pesta itu," kata Hanzel, suaranya kembali dingin, meski ada sedikit getaran yang tak bisa ia sembunyikan. "Tapi ingat satu hal. Kau milikku. Semua yang ada padamu adalah hasil karyaku. Jika aku melihat ada pria lain yang menyentuhmu lebih dari yang seharusnya, aku tidak akan ragu untuk menghancurkan mereka, termasuk Ridwan, sebelum waktunya."
Zee merasakan campuran antara rasa aman dan ketakutan. Posesifitas Hanzel adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, itu melindunginya. Di sisi lain, itu adalah penjara baru yang dilapisi emas.
"Aku mengerti, Paman," jawab Zee, sengaja menekankan kata 'Paman' untuk mengingatkan Hanzel pada batasan mereka, meski ia tahu hubungan mereka sudah jauh melampaui itu.
Hanzel menyipitkan mata mendengar sebutan itu. Ia berjalan menuju sebuah kotak beludru hitam yang terletak di atas meja kerja, lalu membukanya. Di dalamnya, tergeletak sebuah kalung berlian yang sangat indah. Berlian utamanya berbentuk tetesan air mata, berkilau sangat terang di bawah cahaya lampu kristal.
"Kemari," perintah Hanzel.
Zee mendekat, membelakangi Hanzel. Pria itu menyisihkan rambut pendek Zee, lalu melingkarkan kalung itu di lehernya. Sentuhan jemari Hanzel yang kasar namun hati-hati di kulit lehernya membuat Zee gemetar.
"Kalung ini cantik sekali," gumam Zee saat melihat pantulannya di cermin.
"Itu bukan sekadar perhiasan," Hanzel berbisik di tengkuknya. "Di dalam berlian utama itu, ada pelacak GPS tercanggih. Ke mana pun kau pergi, aku akan tahu. Apa pun yang kau lakukan, aku akan mendengarnya. Jadi kau punya dua kalung pelacak yang bisa kau sesuaikan dengan suasana yang kau hadapi kelak. Kau paham?" Zee hanya menggangguk tanda dia paham maksud Hanzel.
Zee tertegun. Ia menyentuh berlian dingin itu. Ini bukan hanya hadiah, ini adalah rantai. Hanzel tidak hanya ingin ia membalas dendam, Hanzel ingin memilikinya sepenuhnya, memastikan bahwa Zee tidak akan pernah bisa lari darinya.
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Zee, menoleh sedikit.
Hanzel memutar tubuh Zee agar menghadapnya kembali. Ia memegang dagu Zee dengan ibu jarinya, memaksa wanita itu menatapnya, "Aku tidak percaya pada dunia ini, Zee. Terutama pada pria-pria yang akan melihatmu malam ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah aku selamatkan dari kematian."
Hanzel mengecup dahi Zee dengan lembut, namun penuh dengan klaim kepemilikan. "Sekarang, pergilah bersiap. Malam ini adalah panggung pertamamu. Tunjukkan pada mereka betapa mahalnya harga sebuah pengkhianatan."
Setelah Hanzel keluar dari kamar, Zee kembali menatap cermin. Wajahnya kini tertutup riasan bold dengan lipstik merah menyala yang tampak seperti darah. Ia mengenakan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang dulu selalu ia sembunyikan. Ia tampak kuat, cantik, dan sangat berbahaya.
Zee menggelengkan kepala. Ia tidak boleh goyah. Ridwan dan Amel harus membayar. Setiap tetes air mata yang ia tumpahkan, setiap penghinaan yang ia terima, akan ia kembalikan seribu kali lipat.