Bab 6 Metamorfosis Sang Dewi Balas Dendam

1144 Kata
Suara deru napas yang memburu memenuhi ruangan pusat kebugaran pribadi di sayap timur mansion. Zella tersungkur di atas matras, keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di kulit yang kemerahan. Rasa sakit di otot-ototnya mulai terasa, namun itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya yang masih menganga lebar. "Bangun, Zee. Musuhmu tidak akan menunggumu pulih hanya karena kau lelah," suara Hanzel terdengar dingin, namun ada nada serak yang menunjukkan bahwa ia pun sedang menahan diri. Hanzel berdiri di depannya, mengenakan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh dan dipenuhi urat-urat yang menonjol. Pria itu tampak seperti predator yang sedang melatih anak didiknya untuk menjadi pembunuh yang sama efektifnya. Zella mendongak, menatap mata Hanzel dengan kilatan tekad. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri kembali, meski kakinya terasa goyah. "Lagi," tantangnya singkat. Hanzel menyeringai tipis. Ia melangkah maju, sangat cepat, dan sebelum Zella bisa bereaksi, tangan besar Hanzel sudah melingkar di pinggangnya, menarik tubuh Zella hingga menempel tanpa celah pada tubuhnya yang panas. Hanzel memutar posisi mereka, menyudutkan Zella ke dinding kaca yang menampilkan pemandangan hutan pinus di luar. "Pertahananmu masih terbuka di bagian sini," bisik Hanzel. Tangannya yang lain merayap turun, menekan pinggul Zella dengan kuat, sementara dadanya yang bidang menghimpit d**a Zella yang naik-turun karena napas yang sesak. Zella bisa merasakan panas tubuh Hanzel menembus pakaian olahraga tipis yang ia kenakan. Jantungnya berpacu, bukan lagi karena kelelahan, melainkan karena kedekatan fisik yang sangat intens ini. Wajah Hanzel hanya berjarak beberapa inci darinya. Aroma keringat Hanzel yang entah bagaimana tetap beraroma maskulin dan menggoda memenuhi indra penciumannya. "Kau terlalu fokus pada tanganmu, tapi kau lupa bahwa tubuhmu adalah senjata utamamu," Hanzel merunduk, bibirnya menyentuh cuping telinga Zella, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Gunakan kecantikanmu untuk mengalihkan perhatian lawan, lalu hancurkan mereka saat mereka terbuai." Hanzel mengecup leher Zella yang basah oleh keringat, lidahnya menyapu permukaan kulit halus itu dengan gerakan yang sangat provokatif. Zella mendesah, tangannya yang semula mengepal kini mencengkeram bahu kokoh Hanzel. Hasrat yang liar mulai membakar akal sehatnya. Di bawah lindungan paman tirinya ini, Zella merasa seperti sedang bermain dengan api yang siap menghanguskannya, namun ia tidak ingin berhenti. "Hanzel... cukup," rintih Zella pelan, meski tubuhnya justru semakin merapat pada pria itu. Hanzel melepaskan dekapannya secara tiba-tiba, membuat Zella hampir jatuh karena kehilangan tumpuan. "Cukup untuk latihan fisik pagi ini. Sekarang, waktunya untuk mengubah penampilanmu. Aku tidak ingin melihat Zella yang berkacamata dan berpakaian seperti pustakawan lagi. Dunia harus melihat wanita yang kusembunyikan di mansion ini." ***** Tiga jam berikutnya adalah siksaan sekaligus keajaiban bagi Zella. Tim penata rias, penata rambut, dan desainer pribadi yang didatangkan Hanzel bekerja dengan sangat detail. Kacamata besar yang selama ini menjadi tameng Zella dibuang jauh-jauh. Rambut hitamnya yang panjang kini dipotong sedikit dan ditata menjadi gelombang besar yang jatuh dengan elegan di bahunya. Wajahnya dirias dengan gaya bold namun tetap terlihat natural. Eyeliner tajam membuat mata indahnya tampak lebih mengintimidasi, sementara lipstik berwarna merah darah memberikan kesan sensual yang kuat. Puncaknya adalah saat desainer itu memberikan sebuah gaun sutra berwarna hitam pekat dengan potongan backless yang sangat rendah hingga memperlihatkan lekuk punggungnya yang mulus. Bagian depannya memiliki belahan d**a yang berani namun tetap berkelas, menonjolkan bentuk tubuh Zella yang ternyata sangat menggoda jika dibalut pakaian yang tepat. Saat Zella keluar dari ruang ganti, Hanzel sudah menunggu di ruang tengah sambil memegang segelas wiski. Pria itu terdiam selama beberapa detik. Gelas di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera mempererat genggamannya. Matanya yang gelap menyapu setiap inci tubuh Zella dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan. "Zee..." suara Hanzel terdengar sangat rendah dan berat. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekati Zella dengan langkah lambat, seperti singa yang mendekati mangsanya. Hanzel berdiri di depan Zella, menatap bayangan gadis itu di cermin besar. Ia berdiri di belakang Zella, meletakkan kedua tangannya di bahu Zella yang terbuka. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat Zella sedikit gemetar. "Siapa gadis di cermin itu, Hanzel?" tanya Zella dengan suara yang jauh lebih percaya diri dari sebelumnya. "Dia adalah maut yang terbungkus dalam sutra," jawab Hanzel. Ia memutar tubuh Zella agar mereka berhadapan. "Dia adalah wanita yang akan membuat Ridwan menangis darah karena telah membuangnya. Dan dia adalah wanita yang membuatku hampir gila karena harus menahan diri setiap detiknya." Hanzel menarik pinggang Zella, membawa tubuh mereka bersentuhan kembali. Tangannya yang besar merayap di punggung terbuka Zella, menekan kulit halus itu hingga Zella mengeluarkan desahan kecil. Hanzel menunduk, mencium bibir Zella dengan sangat dalam. Ciuman itu tidak lagi mengandung rasa simpati, itu adalah klaim kepemilikan yang murni. Zella membalas ciuman itu dengan sama liarnya, meluapkan segala emosi yang terpendam di dalam dirinya. Zella bisa merasakan gairah Hanzel yang semakin meningkat, namun pria itu dengan paksa menarik diri. Ia mengatur napasnya yang berat. "Belum waktunya, Baby," bisik Hanzel di depan bibir Zella. "Aku ingin kau menggunakan pesona baru ini untuk langkah pertama kita. Malam ini, ada pesta amal yang diadakan oleh Baskoro. Ridwan dan Amel akan ada di sana untuk memamerkan warisan yang mereka curi darimu." Zella mengepalkan tangannya. "Aku siap. Aku ingin melihat wajah mereka saat menyadari bahwa aku masih hidup dan jauh lebih kuat dari yang mereka duga." Hanzel menyeringai, sebuah senyuman yang tampak sangat kejam. "Mereka tidak akan menyadarinya segera. Kau akan datang sebagai tamuku, sebagai partner bisnis misterius dari Hanzel Group. Gunakan identitas barumu gunakan nama baru dan panggilan baru juga dengan 'Zee Anggara'. Jangan gunakan nama belakang ayahmu untuk saat ini. Biarkan mereka bertanya-tanya siapa wanita cantik yang berdiri di sampingku." Hanzel kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian hitam yang sangat langka. Ia memasangkan kalung itu di leher Zella. Dinginnya berlian itu kontras dengan panas yang ditinggalkan bibir Hanzel di sana. "Kalung ini memiliki alat penyadap dan pelacak kecil di dalamnya. Jika sesuatu terjadi, aku akan tahu. Dan jangan pernah lepaskan kalung ini tanpa seizinku, paham?" perintah Hanzel dengan nada posesif yang kuat. "Paham, Hanzel." "Anak pintar," Hanzel mengecup dahi Zella. "Sekarang, pelajari berkas tentang proyek pelabuhan yang sedang diincar Ridwan. Proyek itu adalah nyawa perusahaan mereka saat ini. Jika kita berhasil menyabotase tender itu malam ini, Ridwan akan kehilangan setengah dari kekayaan yang ia curi darimu dalam waktu semalam." Zella mengambil berkas itu dengan mata yang berkilat dendam. Pelatihan fisiknya mungkin baru saja dimulai, namun transformasi batinnya telah selesai. Gadis cupu yang malang telah mati di altar pernikahan yang hancur itu. Yang ada sekarang adalah Zee, sang dewi pembalas dendam yang siap membakar dunia demi keadilan di bawah bimbingan sang Paman yang terobsesi padanya. Malam itu, saat mereka bersiap berangkat, Zella menatap dirinya sekali lagi di cermin. Ia tersenyum tipis. Ridwan dan Amel mungkin berpikir mereka telah memenangkan perang, namun mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja membangunkan monster yang selama ini tertidur di dalam diri Zella dan monster itu memiliki pelindung yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun di dunia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN