Bab 5 Pelatihan Sang Ratu dan Hasrat yang Membara

1301 Kata
Pagi itu, mentari menyembul malu-malu di balik kabut yang menyelimuti perbukitan di sekitar mansion Hanzel. Bagi Zella, ini adalah pagi pertama dalam hidupnya di mana ia terbangun tanpa sosok Mama Ambar di dunia ini. Rasa sesak itu masih ada, mengendap di dasar hatinya seperti jelaga hitam yang sulit dibersihkan. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah tangan kokoh yang melingkari pinggangnya di balik selimut sutra, memberikan kehangatan yang asing namun sangat ia butuhkan. Zella berbalik pelan, menatap wajah Hanzel yang masih terlelap. Dalam tidurnya, pria itu tampak sedikit lebih manusiawi. Garis-garis keras di wajahnya sedikit melunak, meski rahangnya yang tegas tetap memancarkan kekuatan. Zella memberanikan diri menyentuh ujung hidung Hanzel, lalu turun ke bibir pria itu yang kemarin telah menghisap seluruh tubuh dan napasnya dalam ciuman yang memabukkan. "Menikmati pemandangan, Baby?" Suara berat dan serak itu seketika membuat Zella menarik tangannya kembali. Hanzel membuka mata, menatap Zella dengan binar yang intens. Tanpa aba-aba, ia menarik Zella hingga tubuh gadis itu menindih tubuhnya. Zella bisa merasakan detak jantung Hanzel yang stabil di bawah dadanya, serta kekuatan otot-otot perut pria itu yang mengeras. "Hanzel, kau mengagetkanku," cicit Zella, wajahnya memanas saat menyadari mereka berada dalam posisi yang sangat intim. Hanzel terkekeh rendah, suara yang terdengar seperti getaran di dalam d**a. Ia mengelus punggung Zella yang tertutup kemeja putihnya, tangannya bergerak naik turun dengan ritme yang menggoda. "Kau sudah berjanji semalam, Zee. Kau milikku. Jiwa, raga, dan setiap helai rambutmu. Mengagumi pemilikmu di pagi hari adalah hakmu." Hanzel menarik tengkuk Zella, membawa bibir gadis itu bertemu kembali dengan bibirnya. Ciuman pagi itu terasa lebih lembut, namun penuh dengan kepemilikan. Lidah Hanzel menyapu bibir Zella, meminta izin untuk masuk lebih dalam, dan saat Zella memberikan celah, pria itu segera mendominasi. Zella mendesah pelan, meremas bahu Hanzel saat sensasi panas mulai menjalar ke seluruh sarafnya. Tangannya kembali menyusup dan meremas bagian yang menjadi kesukaannya. "Ouw, Hanzel, jangan pancing aku pagi ini, Oww, Auh...Hanzel," nafasnya terenggah dan dadanya naik turun serta membusung ke hadapan Hanzel yang di bawah tubuh Zella. Memberikan askes lebih luas saat bibir dan lidah Hanzel mulai menghisap dan menjilati pucuk pucuk d**a Zella yang terbuka di balik kemeja putihnya. "Ssshhh, Hanzel." desah Zella lagi dan lagi. Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, Hanzel melepaskan Zella, meski wajah mereka tetap menempel. "Hari ini pelatihanmu dimulai. Aku tidak bisa membiarkanmu hanya diam dan meratapi nasib. Dunia ini tidak ramah pada domba yang terluka, Zee. Kau harus menjadi serigala." ***** Satu jam kemudian, setelah sarapan, Hanzel membawa Zella ke sebuah ruangan yang terletak di lantai bawah tanah mansion. Ruangan itu luas, dengan lantai yang dilapisi matras hitam, beberapa samsak tinju, dan satu dinding penuh dengan layar monitor yang menampilkan data bursa saham serta pergerakan real-time perusahaan-perusahaan besar. "Untuk mengalahkan Ridwan dan Baskoro Wirmantyo, kau butuh dua hal," ucap Hanzel sambil melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya ia gulung hingga ke siku. "Kecerdasan untuk menghancurkan bisnis mereka, dan kekuatan fisik untuk melindungi dirimu sendiri." jelas Hanzel sambil mendekati Zella. Kemudian, Hanzel menyalakan salah satu layar besar. Di sana muncul sebuah video dari media sosial Amel. Wanita itu tampak sedang mengadakan pesta di taman rumah lama Zella. Ia tertawa, memamerkan cincin berlian baru di jarinya sambil mengelus perut buncitnya. Di sampingnya, Ridwan berdiri dengan angkuh, memegang gelas champagne. "Mereka berpesta di atas tanah Mamaku?" suara Zella bergetar karena amarah. Air mata kembali menggenang di matanya. "Mereka bahkan belum mengeringkan air mataku, tapi mereka sudah menari di atas lukaku!" Hanzel berjalan mendekati Zella, berdiri tepat di belakangnya. Ia melingkarkan lengannya di leher Zella, menarik punggung gadis itu agar menempel pada dadanya. "Simpan amarahmu, Zee. Jangan biarkan itu keluar sebagai air mata. Biarkan itu menjadi api yang membakar tekadmu. Amel merasa dia menang karena dia memiliki Ridwan dan hartamu. Tapi dia lupa satu hal, dia tidak memiliki aku di pihaknya." Hanzel memutar tubuh Zella hingga mereka berhadapan. "Mulai hari ini, kau akan belajar bagaimana cara membaca laporan keuangan, bagaimana cara melakukan sabotase pasar, dan yang paling penting, kau akan belajar bagaimana cara memikat tanpa harus menyerahkan hatimu. Kau harus menjadi wanita yang diinginkan setiap pria, namun hanya bisa dimiliki oleh satu orang." "Olehmu?" tanya Zella lirih. Hanzel menyeringai, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya namun menawan. "Hanya olehku. Aku akan menjadi gurumu, pelindungmu, dan jika kau cukup berani, aku akan menjadi pria yang akan membawamu ke puncak kenikmatan yang belum pernah kau bayangkan." Hanzel memberikan sebuah tablet pada Zella. "Ini adalah data aset yang dicuri Ridwan. Secara hukum, surat kuasa yang kau tanda tangani memang sah. Tapi, surat itu memiliki satu celah yang Ridwan tidak tahu. Kakekmu memasukkan klausul rahasia, jika pewaris utama meninggal dalam kondisi tidak wajar, atau ada bukti intimidasi, seluruh aset akan dibekukan selama lima tahun." Zella terbelalak, "Ridwan bilang semuanya sudah miliknya!" "Dia pikir begitu karena dia menggunakan pengacara korup yang hanya melihat tanda tanganmu. Tapi aku sudah mengirim timku untuk menggugat legalitas dokumen itu di pengadilan internasional. Kita tidak akan merebutnya di pengadilan lokal yang sudah disuap oleh Baskoro. Kita akan menyerang mereka dari tempat yang tidak mereka duga," jelas Hanzel. Hanzel kemudian menarik tangan Zella, menuntunnya ke tengah matras. "Sekarang, pelajaran pertama. Pertahanan diri. Jika suatu saat kau terjebak dalam situasi berbahaya, kau harus tahu cara melumpuhkan lawan dalam satu gerakan." Zella mengikuti instruksi Hanzel dengan canggung pada awalnya. Hanzel berdiri di belakangnya, memposisikan kaki dan tangan Zella. Sentuhan fisik itu tak terelakkan. Setiap kali tangan Hanzel menyentuh pinggangnya atau memperbaiki posisi bahunya, Zella merasakan sengatan listrik yang membuatnya sulit berkonsentrasi. "Fokus, Zee," bisik Hanzel di telinganya. Napas pria itu terasa sangat dekat. "Bayangkan aku adalah Ridwan. Serang aku." Zella mencoba memukul, namun Hanzel dengan mudah menangkap tangannya dan memutar tubuh Zella hingga punggung gadis itu membentur matras dengan Hanzel di atasnya. Mereka terengah-engah. Rambut Zella tersebar di atas matras hitam, kontras dengan kulit putihnya yang kini mulai berkeringat. Tatapan Hanzel menggelap saat melihat kancing kemeja Zella sedikit terbuka akibat pergulatan tadi, memperlihatkan lengkungan dadanya yang naik turun karena napas yang memburu. Hanzel menumpukan berat badannya pada kedua tangannya, memerangkap Zella di bawahnya. "Kau terlalu lemah, Baby," gumam Hanzel, suaranya kini terdengar lebih seperti bisikan menggoda daripada instruksi. "Tapi jangan khawatir. Aku menyukai proses melatihmu. Setiap inci dari dirimu adalah kanvas kosong yang akan aku bentuk." Hanzel merunduk, mencium pangkal leher Zella yang berkeringat. Lidahnya menyapu kulit halus itu, membuat Zella membusungkan dadanya dan mengeluarkan desahan tertahan. Hasrat itu kembali meledak, mengaburkan batas antara pelatihan dan gairah. "Hanzel... kita harus... latihan," ucap Zella terbata, meski tangannya justru merangkul leher Hanzel, menarik pria itu lebih dekat. "Ini juga bagian dari latihan, Zee," jawab Hanzel serak. Ia menatap mata Zella dengan tatapan yang sangat posesif. "Latihan untuk mengenal siapa pemilikmu. Kau harus terbiasa dengan sentuhanku, agar kau tidak goyah saat pria lain mencoba mendekatimu nanti di medan perang bisnis." Hanzel kembali mencium Zella, kali ini lebih dalam dan menuntut. Di dalam ruangan bawah tanah yang dingin itu, gairah mereka membakar segalanya. Zella merasa ketakutan dan dukanya perlahan terkikis, digantikan oleh obsesi baru yang ditanamkan oleh Hanzel. Zella menyadari, ia mungkin sedang berjalan menuju neraka pembalasan dendam. Namun, jika iblis yang membimbingnya adalah Hanzel, ia bersedia memberikan segalanya bahkan jika ia harus terbakar dalam api gairah yang pria itu nyalakan. ***** Sore harinya, Hanzel membawa Zella ke sebuah ruangan lain. Di sana telah berdiri seorang penata rias ternama dan seorang desainer yang membawa beberapa koper besar. "Mulai malam ini, dunia akan mengenalmu dengan identitas baru," ucap Hanzel sambil duduk di kursi kebesarannya, memperhatikan Zella dari kejauhan. "Zella yang cupu dan lemah sudah mati bersama Mama Ambar. Yang tersisa hanyalah Zee, wanita misterius di bawah naungan Hanzel Group." Zella menatap bayangannya di cermin. Ia siap untuk bertransformasi. Dengan dendam di hatinya dan Hanzel di sisinya, ia akan mengambil kembali apa yang menjadi miliknya dan menghancurkan siapapun yang berani menghalangi jalannya. "Aku siap, Hanzel, ajari aku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN