Bab 4 Sangkar Emas Sang Miliader

1301 Kata
Mobil Rolls-Royce Phantom itu meluncur mulus melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersetelan hitam. Mansion milik Hanzel terletak jauh dari kebisingan kota, berdiri megah di atas perbukitan dengan arsitektur modern yang didominasi kaca dan baja. Bagi dunia luar, tempat ini adalah simbol kekuasaan mutlak. Namun bagi Zella, saat ia menatap bangunan itu dari balik jendela mobil, tempat itu terasa seperti sangkar emas yang indah namun mengintimidasi. Hanzel masih belum melepaskan dekapannya. Lengan kekarnya melingkar di bahu Zella, sementara jemarinya sesekali mengusap lembut lengan atas Zella yang masih terbalut kain lace hitam. Suasana di dalam mobil begitu sunyi, hanya ada suara deru mesin yang halus, namun ketegangan di antara mereka justru terasa semakin pekat. "Kita sudah sampai, Baby," bisik Hanzel. Suaranya rendah, bergetar di dekat pelipis Zella. Zella hanya mengangguk lemah. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena beban emosional yang menghimpit jiwanya. Saat mobil berhenti sempurna, seorang pengawal membukakan pintu. Hanzel turun lebih dulu, lalu ia tidak membiarkan Zella melangkah sendiri. Ia kembali menggendong Zella, mengangkat tubuh ringan itu ke dalam pelukannya seolah Zella adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. "Hanzel, aku bisa jalan sendiri... kakiku sudah tidak lemas," protes Zella pelan, namun tangannya secara refleks melingkar di leher Hanzel untuk mencari keseimbangan. Hanzel menunduk, menatap Zella dengan tatapan yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang. "Aku tidak ingin kakimu menyentuh lantai yang dingin. Biarkan aku membawamu." Mereka masuk ke dalam mansion. Interior dalamnya sangat maskulin, dengan furnitur dari kulit berkualitas tinggi dan karya seni abstrak yang mahal. Hanzel membawa Zella langsung ke lantai atas, menuju kamar utama yang luasnya hampir menyamai luas rumah lama Zella. Pria itu merebahkan Zella di atas ranjang yang empuk, dengan seprai sutra berwarna gelap yang terasa sangat dingin di kulit. Hanzel tidak langsung pergi. Ia berlutut di depan Zella, lalu dengan telaten melepaskan sepatu hak tinggi yang sejak tadi menyiksa kaki gadis itu. Jemari Hanzel yang besar memijat tumit Zella dengan lembut, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke ubun-ubun. "Istirahatlah sebentar. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untukmu mandi," ucap Hanzel. "Hanzel..." Zella memanggil pelan saat pria itu hendak berdiri. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kita sudah lama tidak bertemu. Kenapa kau tiba-tiba muncul dan... dan bersikap sangat protektif padaku?" Hanzel terdiam sejenak. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Zella, memerangkap gadis itu di atas tempat tidur. Ia mendekatkan wajahnya, hanya menyisakan jarak beberapa milimeter dari hidung Zella. Zella bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap Hanzel seorang gadis yang hancur namun sedang berusaha ditenangkan oleh pria yang sangat berbahaya. "Kau pikir selama aku di luar negeri, aku melupakanmu, Zee?" tanya Hanzel dengan nada yang sarat akan makna tersembunyi. "Aku mengawasimu dari jauh. Setiap langkahmu, setiap pria yang mencoba mendekatimu, aku tahu semuanya. Termasuk saat kau memilih b******n seperti Ridwan. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjemputmu kembali ke tempatmu yang seharusnya." Zella menahan napas. "Tempatku yang seharusnya? Di sini?" Hanzel tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun terlihat sangat posesif. "Di sisiku. Di bawah perlindunganku. Milikku sepenuhnya." Pria itu kemudian merunduk, mengecup leher Zella dengan lembut namun lama. Bibir panas Hanzel seolah meninggalkan jejak permanen di kulit Zella. Zella mendesah pelan, sebuah reaksi tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Ia membenci kenyataan bahwa di tengah duka ini, sentuhan Hanzel justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hanzel menjauhkan wajahnya, ibu jarinya mengusap bibir Zella yang sedikit basah. "Mandi dan ganti pakaianmu. Setelah itu, turunlah ke ruang kerja. Ada sesuatu yang harus kau lihat." ***** Satu jam kemudian, Zella turun dengan mengenakan kemeja putih milik Hanzel yang ia temukan di lemari kamar tamu. Kemeja itu terlalu besar untuknya, panjangnya menutupi hingga pertengahan paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Zella tidak menemukan pakaian lain yang lebih pantas, dan entah mengapa, mencium aroma Hanzel yang tertinggal di kain kemeja itu memberinya rasa nyaman. Zella mengetuk pintu ruang kerja Hanzel yang terbuat dari kayu jati solid. "Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam. Zella masuk dan menemukan Hanzel sedang duduk di belakang meja kerja besar yang penuh dengan monitor dan tumpukan dokumen. Hanzel menoleh, dan matanya seketika menggelap saat melihat Zella mengenakan kemejanya. Pria itu menelan ludah dengan berat, tatapannya menyapu setiap inci tubuh Zella yang hanya terbalut kain tipis itu. "Kau terlihat... sangat menggoda dengan pakaianku, Zee," gumam Hanzel. Ia berdiri, menghampiri Zella dan menarik pinggang gadis itu hingga menempel pada meja kerja. "Aku tidak menemukan baju lain..." cicit Zella, wajahnya merona merah. Hanzel tidak keberatan. Ia justru menyukai pemandangan di depannya. Tangannya yang besar masuk ke bawah kemeja itu, mengelus pinggul Zella yang halus. "Tidak apa-apa. Kau boleh memakai apa pun milikku, karena kau juga milikku." Hanzel kemudian mengambil sebuah tablet dari meja dan menunjukkannya pada Zella, yang masih didudukkan di pangkuannya, "Lihat ini." Di layar tablet, terlihat foto-foto Ridwan dan Amel yang sedang berada di sebuah hotel mewah sesaat setelah pemakaman Mama Ambar selesai. Mereka tampak tertawa, merayakan kemenangan mereka atas harta warisan kakek Zella. Namun, ada satu foto yang membuat Zella terkejut. Ridwan tampak sedang berjabat tangan dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat familiar. "Itu... Tuan Baskoro Wirmantyo?" tanya Zella kaget. "Dia adalah musuh bisnis Papa dulu." Hanzel mengangguk, wajahnya berubah sangat serius. "Baskoro adalah otak di balik semua ini, Zee. Ridwan bukan sekadar pria yang selingkuh. Dia adalah keponakan Baskoro. Mereka merencanakan ini sejak awal. Mendekatimu, membuatmu jatuh cinta, hingga akhirnya merampas seluruh aset keluargamu." Zella merasa mual. Betapa bodohnya ia selama ini. Cinta yang ia agungkan ternyata hanyalah sebuah proyek penghancuran. "Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu," lanjut Hanzel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan dingin. "Baskoro adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menewaskan Papamu sepuluh tahun lalu. Dan dia juga orang yang mengirim pembunuh untuk mencelakai istriku dulu." Zella terpaku. "Istrimu? Kau... kau pernah menikah?" Hanzel memejamkan mata sejenak, sebuah kilatan rasa sakit melintas di wajahnya sebelum berganti dengan kemarahan yang membara. "Itu cerita lama. Dia meninggal demi melindungiku. Sejak saat itu, aku bersumpah akan menghancurkan Baskoro dan seluruh garis keturunannya. Dan sekarang, mereka menyentuhmu. Mereka melakukan kesalahan besar." Hanzel menarik Zella ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh gadis itu dengan tubuhnya. "Ridwan hanyalah pion kecil. Tapi dia sudah mempermalukanmu dan menyebabkan kematian kakakku, Mama kamu Ambar. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja." Zella mendongak, matanya berkaca-kaca, "Apa yang harus aku lakukan, Hanzel? Aku tidak punya apa-apa lagi." Hanzel merunduk, mencium kening Zella dengan penuh janji. "Kau punya aku. Aku akan memberimu kekuatan. Aku akan melatihmu. Kita akan menghancurkan mereka bersama. Tapi ada harganya, Zee." "Apa harganya?" Hanzel menatap bibir Zella dengan lapar. Ia merunduk perlahan, napasnya beradu dengan napas Zella yang mulai memburu. "Kau harus menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku. Hati, jiwa, dan tubuhmu. Tidak boleh ada rahasia di antara kita. Kau harus patuh pada setiap perintahku, meskipun perintah itu terasa sulit bagimu." Zella merasakan gejolak aneh di dalam dirinya. Ini adalah tawaran dari seorang iblis yang tampan. Tapi bagi Zella yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Hanzel adalah satu-satunya jalan menuju keadilan. "Baiklah, Aku mau," bisik Zella mantap. Hanzel tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung melumat bibir Zella dengan ciuman yang sangat intens dan menuntut. Ciuman yang penuh dengan gairah, obsesi, dan klaim kepemilikan. Zella mendesah di dalam ciuman itu, tangannya meremas rambut Hanzel, menyerahkan dirinya pada pria yang kini menjadi dunia dan pelindung teramannya. Di ruang kerja yang remang itu, sebuah aliansi berdarah dan penuh gairah resmi terbentuk. Zella bukan lagi gadis cupu yang bisa dipermainkan. Di bawah tangan dingin Hanzel, ia akan tumbuh menjadi wanita yang akan membawa badai bagi musuh-musuhnya. "Agh, Hanzel, ouh... Kau buat aku jadi terlena, hah... oww... Hanzel," desah Zella makin keras saat tangan besar dan kokoh itu mulai membuka kemeja kebesaran dan mulai merayap di inch tubuh mulus Zella yang polos....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN