Bab 3 Gaun Hitam dan Janji Berdarah

1300 Kata
Cahaya fajar menyelinap di antara celah gorden beledu berwarna arang, menyentuh kelopak mata Zella yang membengkak karena terlalu banyak menangis. Saat kesadarannya kembali utuh, rasa sakit itu menghantamnya lagi lebih keras, lebih nyata. Hari ini adalah hari pemakaman Mama Ambar. Hari di mana ia benar-benar harus melepaskan satu-satunya pelindung yang ia miliki sejak kecil. Zella mencoba bergerak, namun ia merasakan tubuhnya masih terkurung dalam dekapan yang sangat posesif. Hanzel tidak bergeser sedikit pun sepanjang malam. Pria itu masih di sana, memeluknya dari belakang seolah-olah jika ia melepaskan sedetik saja, Zella akan hancur berkeping-keping. "Jangan bergerak dulu, Zee," bisik suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur. Napas hangat Hanzel menerpa tengkuk Zella, membuat saraf-sarafnya yang tegang tiba-tiba meremang. Zella memejamkan mata, membiarkan punggungnya merasakan kerasnya d**a bidang Hanzel. "Aku harus bersiap, Hanzel. Mama... ini hari terakhir aku bersamanya." Hanzel melepaskan pelukannya, namun hanya untuk membalikkan tubuh Zella agar mereka saling berhadapan. Di bawah cahaya pagi yang remang, wajah Hanzel terlihat begitu maskulin dan dominan. Rahangnya yang tegas tertutup bayangan janggut tipis yang memberikan kesan sangat jantan. Matanya yang gelap menatap Zella dengan intensitas yang tidak bisa dijelaskan ada duka di sana, namun ada juga gairah yang ia tekan dalam-dalam. "Aku sudah menyiapkan segalanya. Pakaianmu, kendaraan, hingga keamanan di pemakaman," ucap Hanzel. Jemarinya yang kasar namun hangat menyapu rambut Zella yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhan itu bertahan sedikit lebih lama di leher Zella, ibu jarinya mengelus kulit halus di sana dengan gerakan melingkar yang membuat jantung Zella berdetak lebih cepat. Hanzel bangkit dari tempat tidur, memperlihatkan tubuhnya yang atletis di balik kemeja hitam yang kini sudah sangat berantakan. Ia berjalan menuju walk-in closet yang luas dan kembali membawa sebuah kotak besar berwarna hitam dengan logo desainer ternama. "Pakai ini," perintah Hanzel lembut namun tak terbantahkan. Zella membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun hitam berbahan lace premium dengan potongan yang sangat elegan namun sopan. Hanzel sendiri yang memilihnya. Pria itu tampaknya sangat tahu bagaimana cara menonjolkan kecantikan Zella bahkan dalam suasana duka. "Aku akan membantumu," ucap Hanzel saat melihat Zella hanya diam menatap gaun itu. "Hanzel, aku bisa sendiri..." "Zee," potong Hanzel, langkahnya mendekat hingga mereka hanya berjarak beberapa inci. Hawa panas dari tubuh Hanzel seolah menguapkan kedinginan yang dirasakan Zella sejak kemarin. "Biarkan aku melakukannya. Aku ingin memastikan kau berdiri tegak hari ini. Jangan biarkan b******n itu melihatmu rapuh." Zella tidak punya kekuatan untuk membantah. Ia berdiri dengan gemetar saat Hanzel mulai membantunya melepaskan sisa-sisa gaun pengantin yang masih ia kenakan. Saat kain putih itu jatuh ke lantai, Zella hanya mengenakan pakaian dalam tipis. Ia merasa sangat telanjang di bawah tatapan Hanzel, namun anehnya, ia tidak merasa terancam. Tatapan Hanzel tidak melecehkan, tapi itu adalah tatapan pemujaan yang lapar, seolah pria itu sedang menatap karya seni paling berharga di dunia. Tangan Hanzel yang besar menyentuh kulit bahu Zella saat ia memasangkan gaun hitam itu. Sentuhan itu terasa membakar. Zella bisa merasakan ujung jari Hanzel yang dingin bersentuhan dengan kulit punggungnya saat pria itu perlahan menarik ritsleting gaunnya ke atas. Gerakan Hanzel sengaja dibuat lambat, seolah ia menikmati setiap detik sentuhan fisik itu. Saat ritsleting mencapai tengkuk, Hanzel tidak menjauh. Ia justru berdiri di belakang Zella, meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Zella dan menarik tubuh gadis itu agar bersandar pada tubuhnya. Hanzel merunduk, menempelkan bibirnya di ceruk leher Zella, memberikan kecupan hangat yang lama di sana. "Kau sangat cantik, Zee. Hitam adalah warnamu," bisik Hanzel rendah. "Hari ini kau akan mengubur masa lalumu, dan mulai saat ini, kau hanya akan melihat ke arahku." Zella menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak aneh di perutnya. "Terima kasih, Hanzel." ***** Pemakaman berlangsung di bawah langit mendung yang seolah ikut berduka. Zella berdiri kaku di depan nisan Mamanya yang masih basah. Air matanya sudah kering, menyisakan kekosongan yang amat dalam di dadanya. Di sampingnya, Hanzel berdiri tegap dengan setelan jas hitam sempurna, kacamata hitam menutupi matanya, namun aura dominannya tetap terpancar, membuat orang-orang yang hadir segan untuk mendekat. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari area pemakaman. Ridwan turun dari mobil, disusul oleh Amel yang kini mengenakan gaun hamil berwarna cerah pilihan warna yang sangat menghina suasana duka. Ridwan berjalan mendekat dengan senyum meremehkan, seolah ia baru saja memenangkan lotre. "Turut berduka, Zella. Sayang sekali Mama Ambar tidak sempat melihat betapa kayanya aku sekarang setelah mengambil alih aset keluargamu." Zella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang tadinya terkubur duka kini meledak. "Kau tidak punya malu, Ridwan! Pergi dari sini!" "Oh, Zee, jangan galak begitu," timpal Amel sambil mengelus perutnya. "Kami hanya ingin memberikan penghormatan terakhir. Lagipula, tanpa harta Mama-mu, kau sekarang hanyalah gelandangan, bukan? Kasihan sekali." Ridwan tertawa kecil, melangkah maju hendak menyentuh dagu Zella. "Kalau kau mau, aku bisa menjadikanmu simpananku, Zee. Kau masih lumayan cantik untuk—" Bugh! Belum sempat tangan Ridwan menyentuh kulit Zella, sebuah hantaman keras mendarat di rahangnya. Ridwan tersungkur di atas tanah becek, memegang wajahnya yang seketika berdarah. Amel menjerit ketakutan. Hanzel berdiri di depan Zella seperti tembok raksasa yang tidak tertembus. Ia menarik napas pelan, mengibaskan tangannya seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor. "Berani kau menyentuhnya dengan tangan busukmu, akan aku pastikan tangan itu tidak akan pernah bisa digunakan lagi seumur hidupmu," suara Hanzel terdengar sangat tenang, namun nada di dalamnya mengandung ancaman yang mematikan. Ridwan mendongak, matanya membelalak ketakutan saat mengenali siapa pria yang berdiri di depannya. "Han... Hanzel? Tuan Hanzel?" "Pergi. Sekarang. Sebelum aku kehilangan kesabaran dan menjadikan makam ini tempat peristirahatanmu juga," desis Hanzel. Ridwan tidak berani membantah. Ia segera bangkit, menarik Amel yang masih gemetar dan lari menuju mobil mereka seperti pecundang. Zella menatap punggung Ridwan dengan napas terengah-engah. Rasa sesak kembali menghimpit dadanya. Namun, sebelum ia jatuh dalam serangan panik, Hanzel berbalik dan langsung menarik Zella ke dalam pelukannya. Ia menyembunyikan wajah Zella di dadanya, menghalangi pandangan dunia dari kehancuran gadis itu. "Sstt... sudah, Baby. Mereka tidak akan pernah menyakitimu lagi," bisik Hanzel. Ia membelai kepala Zella dengan lembut, namun matanya tetap menatap tajam ke arah mobil Ridwan yang menjauh. Di dalam dekapan Hanzel, di tengah aroma maskulin yang kini menjadi candu baginya, Zella merasa sedikit kekuatan kembali. Ia meremas kemeja Hanzel, mencari pegangan. "Hanzel... mereka mengambil segalanya. Rumahku... kenangan Mamaku..." isak tangisnya pecah seketika. Hanzel menjauhkan sedikit tubuh Zella, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Ia menatap lurus ke dalam mata Zella yang basah. "Dengarkan aku baik-baik, Zella. Mereka hanya mengambil benda mati. Mereka tidak bisa mengambil nyawamu, karena nyawamu adalah milikku sekarang." Hanzel merunduk, menempelkan keningnya pada kening Zella. "Aku akan merebut kembali semuanya. Setiap inci tanah, setiap rupiah yang mereka curi, akan aku kembalikan kepadamu dengan bunga berupa darah mereka. Tapi untuk itu, kau harus patuh padaku. Kau harus tetap berada di sampingku. Mengerti?" Zella mengangguk pelan, seolah terhipnotis oleh otoritas Hanzel. "Aku mengerti." "Anak pintar," gumam Hanzel. Ia mengecup bibir Zella sekilas hanya sebuah sentuhan singkat yang panas dan menuntut, sebelum membimbingnya menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu. Saat pintu mobil tertutup, mengisolasi mereka dari dunia luar, Hanzel menarik Zella ke pangkuannya. Di ruang sempit dan mewah itu, ketegangan seksual kembali meningkat. Hanzel melingkarkan lengannya di pinggang Zella, sementara tangannya yang lain mulai mengusap paha Zella yang tertutup kain gaun hitam. "Mulai hari ini, kau bukan lagi Zella yang lemah," bisik Hanzel di telinga Zella, lidahnya menyentuh cuping telinga gadis itu dengan berani, membuat Zella mendesah pelan. "Aku akan membentukmu menjadi senjata yang mematikan. Dan saat waktunya tiba, kau sendiri yang akan menarik pelatuknya untuk mereka." Zella memejamkan mata, membiarkan sentuhan-sentuhan posesif Hanzel menenangkan jiwanya yang terluka. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah masuk ke dalam dunia Hanzel, dunia yang penuh dengan gairah berbahaya, kekuasaan mutlak, dan dendam yang membara. Dan anehnya, di sinilah, di bawah perlindungan nyaman sang "Paman"-nya yang penuh obsesi, Zella merasa paling hidup dan damai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN