Kesadaran itu datang seperti hantaman ombak yang dingin dan menyesakkan. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penciuman Zella bukan lagi aroma bunga lili yang memuakkan dari altar pernikahannya, melainkan perpaduan aroma maskulin yang sangat dominan campuran kayu cendana, tembakau mahal, dan sedikit jejak cognac. Aroma itu tidak asing, namun terasa begitu mengintimidasi sekaligus menenangkan secara bersamaan.
Zella mengerang pelan, kelopak matanya terasa seberat timah. Saat ia berhasil membukanya sedikit, ia tidak menemukan langit-langit ballroom Hotel Astoria yang megah. Sebaliknya, ia berada di sebuah ruangan luas dengan pencahayaan temaram yang elegan. Dindingnya berwarna abu-abu arang dengan aksen kayu gelap, memberikan kesan dingin namun sangat berkelas.
"Sudah bangun, Baby?"
Suara itu berat, serak, dan bergetar tepat di samping telinganya. Zella tersentak kecil, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun ia menyadari bahwa ia tidak sedang berbaring sendirian di atas ranjang king size itu. Seseorang sedang memeluknya dari belakang, menyandarkan tubuh besarnya di kepala ranjang sementara Zella didekap erat di d**a bidang pria itu.
Zella menoleh dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Di sana, duduk Hanzel. Paman tirinya itu masih mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit otot dadanya yang keras dan kecokelatan. Tatapan pria itu sangat tajam, mengunci manik mata Zella dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Paman Hanzel?" bisik Zella lirih sedikit isak tangis yang pecah. Namun Tenggorokannya terasa kering dan perih.
Hanzel tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang panjang dan kasar mengusap pipi Zella dengan gerakan perlahan. Ibu jarinya kemudian beralih ke bibir bawah Zella yang tampak pucat, menekannya sedikit hingga bibir itu sedikit terbuka. Gerakan itu sangat intim, jauh dari sekadar perhatian seorang paman kepada keponakan.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu jika kita hanya berdua, Zee," ucap Hanzel dengan nada rendah yang memerintah. Matanya menyapu wajah Zella, seolah sedang memetakan setiap inci kesedihan yang terukir di sana. "Panggil namaku. Hanzel."
Zella terdiam, jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Ingatannya mulai kembali berputar seperti film rusak. Pernikahan yang hancur... pengkhianatan Amel... tawa iblis Ridwan... dan...
"Mama!" Zella tiba-tiba bangkit duduk dengan panik. "Mama di mana? Hanzel, Mama... tadi Mama pingsan di hotel! Aku harus melihatnya!"
Hanzel segera menangkap bahu Zella, menarik tubuh mungil itu kembali ke dalam pelukannya sebelum Zella sempat turun dari ranjang. Zella meronta, namun tenaga Hanzel jauh lebih kuat. Pria itu mengunci tubuh Zella di antara kedua lengan kokohnya, memaksa Zella untuk bersandar sepenuhnya di d**a bidangnya yang hangat.
"Zee, tenanglah," bisik Hanzel, suaranya kini sedikit melunak namun tetap tegas.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku mau ketemu Mama!" jerit Zella, air mata mulai mengalir deras membasahi kemeja hitam Hanzel. "Mama hanya pingsan, kan? Dokter Santoso pasti salah... Mama tidak mungkin meninggalkanku sendirian!"
Hanzel membiarkan Zella memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangan kecil yang lemah. Ia tidak menghindar, bahkan ketika kuku-kuku Zella tanpa sengaja menggores kulit lehernya. Hanzel justru semakin merapatkan pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Zella, menghirup aroma sisa parfum pengantin dan keringat dingin gadis itu yang entah mengapa tetap terasa manis baginya.
"Dengarkan aku, Zee," Hanzel mencium pundak Zella yang terbuka karena gaun pengantinnya yang sudah sedikit melorot. Sentuhan bibir panas Hanzel di kulit dingin Zella memberikan sensasi kejut yang aneh. "Mamamu sudah tenang. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian lagi."
Zella terisak hebat. Kenyataan itu menghantamnya kembali. Ibunya telah tiada. Rumahnya, hartanya, bahkan harga dirinya telah dirampas oleh Ridwan dan Amel dalam satu malam yang terkutuk. Ia benar-benar telah kehilangan segalanya.
"Kenapa mereka jahat sekali, Hanzel?" ratap Zella di sela tangisnya. Tubuhnya menggigil hebat di dalam dekapan Hanzel. "Amel adalah sahabatku... Ridwan... dia bilang dia mencintaiku..."
Hanzel merasakan amarah yang mendidih di dalam dadanya mendengar nama pria b******n itu disebut oleh bibir Zella. Ia menarik wajah Zella agar menatapnya. Dengan gerakan lembut namun posesif, Hanzel menyeka air mata di pipi Zella menggunakan bibirnya, mengecup jejak air mata itu satu per satu dengan penuh pemujaan yang terselubung.
"Mereka bukan manusia, Zee. Mereka adalah hama," desis Hanzel. Matanya yang gelap kini memancarkan aura membunuh. "Dan hama tidak pantas mendapatkan air matamu. Kau tidak perlu memikirkan cara membalas mereka. Biar aku yang akan melakukannya. Aku akan membuat mereka memohon kematian sebagai sebuah anugerah karena telah menyentuh apa yang menjadi milikku."
Zella menatap mata Hanzel, mencari pegangan di tengah badai kehancurannya. Di mata pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya itu, Zella tidak melihat rasa kasihan. Ia melihat obsesi. Ia melihat perlindungan yang bersifat absolut.
"Milikmu?" tanya Zella dengan suara serak yang polos.
Hanzel tidak menjawab secara verbal. Ia justru merunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Napas panas Hanzel yang beraroma mint dan alkohol ringan menerpa wajah Zella, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Ya. Milikku," bisik Hanzel. Tangan kanannya kini merayap turun ke pinggang Zella, menariknya hingga tidak ada celah di antara tubuh mereka. Zella bisa merasakan detak jantung Hanzel yang kuat dan tenang, kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu gila. "Ridwan terlalu bodoh untuk menyadari nilai permata yang ia buang. Dan aku sudah terlalu lama menunggu di kegelapan hanya untuk melihatmu menangis karena pria seperti dia."
Keheningan yang sarat akan ketegangan seksual menyelimuti mereka. Zella merasa tersihir oleh tatapan Hanzel. Di tengah duka yang mendalam, ada sesuatu yang bangkit di dalam dirinya sebuah keinginan untuk dilindungi, untuk disembunyikan dari dunia yang kejam, meskipun itu berarti ia harus masuk ke dalam sangkar emas milik paman tirinya sendiri.
Hanzel mengelus tengkuk Zella, menarik lembut rambut hitam panjang gadis itu hingga wajah Zella sedikit mendongak. "Sekarang, tidurlah kembali. Kau butuh kekuatan untuk hari esok. Besok adalah hari pemakaman mamamu, dan setelah itu... kita akan mulai mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu."
"Tapi hartaku... Ridwan bilang dia sudah mengambil semuanya," lirih Zella, teringat pada surat kuasa yang ia tanda tangani dengan bodohnya.
Hanzel menyeringai tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya namun menawan di wajah maskulinnya. Ia mengecup dahi Zella dengan lama, lalu turun ke kelopak mata Zella yang tertutup.
"Harta itu hanya angka, Zee. Aku bisa memberimu sepuluh kali lipat dari apa yang kakekmu tinggalkan hanya dengan satu jentikan jari," ucap Hanzel penuh otoritas. "Yang penting sekarang adalah kau aman di bawah sayapku. Jangan pernah berpikir untuk pergi, atau mencari bantuan dari orang lain. Kau hanya punya aku sekarang, paham?"
Zella mengangguk lemah, merasa terlalu lelah untuk memikirkan maksud dari nada posesif Hanzel. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hanzel, mencari kenyamanan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Ridwan. Tangan Hanzel terus membelai punggung Zella yang terbuka, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh sarafnya, perlahan membawa Zella kembali ke alam bawah sadar.
Sebelum benar-benar terlelap, Zella merasakan Hanzel berbisik di telinganya, sebuah janji yang terdengar seperti kutukan sekaligus berkat. Bagaikan sebuah Mantra yang indah dan menenangkan.
"Tidurlah, Baby. Saat kau bangun nanti, kau akan menyadari bahwa dunia ini memang kejam, tapi pamanmu jauh lebih kejam bagi siapa pun yang berani melukaimu."
Hanzel menatap wajah tidur Zella yang masih menyisakan jejak duka. Ia memeluk tubuh itu semakin erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zella yang membangkitkan gairah yang sudah lama ia pendam. Baginya, kehancuran hidup Zella adalah kesempatannya untuk memiliki gadis itu sepenuhnya. Pria-pria lain mungkin telah menghancurkan Zella, tapi Hanzel akan menjadi orang yang membentuk kembali Zella sesuai dengan keinginannya.
Di bawah rembulan yang mengintip dari balik tirai jendela mansion, Hanzel bersumpah dalam hati. Ridwan dan Amel tidak akan pernah tahu neraka seperti apa yang sedang ia siapkan untuk mereka. Dan Zella... gadis itu tidak akan pernah bisa lepas lagi dari cengkeramannya.