Harum bunga lili putih yang memenuhi ballroom mewah Hotel Grand Astoria seharusnya menjadi aroma surga bagi Zella.
Hari ini, di usianya yang ke-22, ia mengenakan gaun pengantin rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh rampingnya. Namun, saat musik pengiring pengantin mulai melambat, sebuah langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa menghancurkan simfoni kebahagiaan itu.
Pintu besar ballroom terbuka. Seorang wanita dengan gaun hamil yang ketat, rambut berantakan, dan wajah sembab oleh air mata berlari ke arah altar. Di depan ratusan tamu undangan kelas atas, wanita itu jatuh berlutut di bawah kaki Zella.
Mata indah Zella yang biasanya memancarkan keceriaan seketika membeku. Ia mengenali wanita itu. Sangat mengenalnya.
"Amel? Ngapain kamu berlutut di depan aku?" suara Zella bergetar, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.
Amel mendongak, air mata buayanya jatuh membasahi lantai marmer. "Maafkan aku, Zee... Aku terpaksa. Aku tidak bisa membiarkan anak ini lahir tanpa ayah. Aku... aku telah hamil anak Ridwan!"
Duar!
Bagaikan petir di siang bolong, dunia Zella seolah runtuh seketika. Ia menoleh ke arah pria di sampingnya, Ridwan, calon suaminya yang selama ini ia puja sebagai pria paling setia.
"Apa maksudnya ini, Ridwan?" bisik Zella lirih, berharap ini hanya lelucon konyol. "Jadi laki-laki yang selama ini kau sembunyikan, Amel... adalah Ridwan? Calon suamiku sendiri?"
Amel terisak semakin keras, memegang ujung gaun pengantin Zella. "Maafkan aku, Zee! Ridwan selalu datang merayu aku. Dia bilang dia kesepian karena kamu terlalu sibuk dengan duniamu yang kuno. Kami sering bersama... dan alhasil, ini anak dia, Zee! Dia darah daging Ridwan!"
Zella tertawa getir. Tawa yang lebih menyakitkan daripada tangisan. Sahabat terbaik yang ia anggap saudara, dan pria yang akan ia beri janji suci, telah bersatu menusuknya dari belakang.
"Tak aku sangka," desis Zella dengan tatapan tajam yang menghunus. "Wanita yang aku anggap sahabat sendiri, bisa hamil dengan calon suamiku! Kau sungguh luar biasa, Amel. Benar-benar aktris pemenang Oscar."
Namun, yang membuat jantung Zella benar-benar berhenti berdetak adalah reaksi Ridwan. Pria itu tidak berlutut meminta maaf. Ia justru melangkah maju, melepaskan bunga di sakunya dengan kasar, dan menatap Zella dengan tatapan penuh jijik.
"Hentikan dramamu, Zella!" suara Ridwan menggelegar melalui mikrofon yang masih menyala, membuat seluruh tamu undangan terkesiap. "Kami saling mencintai. Kau pikir kenapa aku mau bertahan dengan gadis cupu dan kuper sepertimu? Kau membosankan! Kau bahkan tidak tahu cara memuaskan pria!"
Zella mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Ridwan... apa yang kau katakan?"
Ridwan menyeringai iblis. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari balik jasnya. "Hari ini, Papa aku sudah menyerahkan seluruh dokumen pengalihan warisan kakekmu padaku. Kau sudah menandatanganinya minggu lalu, ingat? Dokumen yang kau pikir adalah izin pembangunan yayasan? Itu adalah surat penyerahan seluruh aset keluargamu!"
"Kau... kau menipuku?"
"Tepat sekali. Kini setelah hartamu menjadi milikku, saatnya aku membuang sampah seperti mu! Hari ini, di depan semua orang, aku batalkan pernikahan ini dan aku menceraikanmu bahkan sebelum kita sah!" teriak Ridwan dengan lantang.
"Dasar b******n! Kau permainkan putriku!" sebuah teriakan histeris terdengar dari barisan depan. Mama Ambar, ibu Zella, berdiri dengan wajah merah padam, memegang dadanya yang tampak sesak.
"Mama!" Zella berlari menghampiri ibunya yang mulai limbung.
"Kau... kalian manusia terkutuk..." Ambar terengah-engah, matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa di jantungnya. Tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Zella.
"Mama! Mamaaa! Bangun, Ma! Jangan tinggalkan Zee! Tolong! Panggil ambulans!" teriak Zella histeris, air matanya kini tumpah tak terbendung.
Dokter Santoso, dokter keluarga mereka yang kebetulan hadir, segera berlari memeriksa denyut nadi Ambar. Suasana ballroom berubah menjadi kekacauan total. Ridwan dan Amel hanya berdiri di sana dengan senyum kemenangan, seolah nyawa manusia tidak ada harganya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti ribuan tahun, Dokter Santoso menatap Zella dengan tatapan penuh duka. Ia menggeleng lemah.
"Maaf nona... mama Anda sudah meninggal dunia. Serangan jantung fatal."
"APA!"
Pandangan Zella seketika mengabur. Oksigen di sekitarnya seolah menghilang. Dunianya gelap. Ibunya meninggal, hartanya dirampas, harga dirinya diinjak-injak di hari yang seharusnya paling bahagia. Tubuh Zella lemas, ia jatuh pingsan di samping jenazah ibunya yang masih hangat.
Para tamu undangan mulai berhamburan pergi, tidak ingin terlibat dalam skandal berdarah itu. Ballroom yang mewah kini menyisakan kesunyian yang mencekam dan bau kematian.
Saat itulah, pintu besar ballroom kembali terbuka dengan dentuman keras.
Langkah sepatu kulit yang mahal berderap tegas di atas lantai marmer. Seorang pria dengan setelan jas hitam pekat, tubuh tinggi tegap, dan aura yang sangat mengintimidasi masuk. Wajahnya yang sangat tampan namun sedingin es membuat siapa pun yang tersisa di sana menahan napas.
Ia adalah Hanzel. Miliarder misterius yang ditakuti di dunia bisnis, adik tiri dari Mama Ambar yang sudah bertahun-tahun menghilang di luar negeri.
Mata elangnya menatap lurus ke arah tubuh Zella yang tergeletak tak berdaya. Amarah yang tenang namun mematikan terpancar dari sorot matanya saat melihat Ridwan masih berdiri di sana.
Hanzel mengabaikan semua orang. Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang protektif, ia mengangkat tubuh Zella ke dalam gendongannya. Aroma parfum maskulin yang mahal dan hangat menyelimuti tubuh dingin Zella.
Hanzel menatap Ridwan dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Kau menyentuh milikku, Ridwan. Dan kau akan memohon untuk mati setelah ini."
Hanzel menunduk, mengecup kening Zella yang tak sadarkan diri sambil berbisik dengan suara berat yang menggetarkan.
"Baby, wake up. Uncle is back. Dan takkan kubiarkan satu iblis pun menyentuhmu lagi."
Pria itu mengulangi lagi dalam gendongan dia, dekat di telinga Zella.
"Sayang, bangun. Paman kembali," bisiknya dengan suara bariton yang dalam, bergetar di telinga Zee yang tidak sadar. Ia mengecup kening Zee Lama, sebuah ciuman yang bukan sekedar kasih sayang paman kepada keponakannya, melainkan mencium seorang pria yang telah menemukan kembali hartanya yang hilang.
Hanzel melangkah pergi meninggalkan pemikiran pernikahan itu, membawa Zee menuju dunianya yang gelap namun penuh perlindungan, tanpa memedulikan harta yang telah dirampas, karena dia, Zee adalah satu-satunya warisan yang ia inginkan.
Serentak anak buahnya yang memakai jas hitam mahal langsung membereskan kekacauan dan menuju ke ruangan kantor administrasi untuk membayar total kerugian akibat huru hara yang tidak diinginkan itu tanpa perintah.
Sebab hal itu sudah menjadi tugas mereka setiap kali ada kekacauan apapun di sekitar boss mereka.
Siapa yang mengusik tuan mereka akan langsung masuk ke daftar hitam yang mengerikan di atas meja si penguasa dunia atas dan bawah.
"Laksanakan tugas selanjutnya! Aku akan berikan laporan pada Tuan Muda." perintah Owl tangan kanan Hanzel yang sangat setia.