bc

Love After Turbulence

book_age18+
13
IKUTI
1K
BACA
reincarnation/transmigration
HE
age gap
forced
opposites attract
heir/heiress
drama
rejected
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Seruni se-hopeless itu akan asmaranya, setelah dua kali tersakiti sebelumnya. Yang terakhir paling parah, sang mantan yang merupakan seorang pilot itu selingkuh dengan teman dekat Seruni yang sama-sama pramugari. Teman seperjuangan masuk maskapai Daruga.

Patah hati, karirnya Seruni malah naik. Dia naik kelas ke penerbangan internasional. Seruni tak lagi terbang bersama mantan yang masih menjadi pilot dalam penerbangan domestik.

Siapa sangka, penerbangan pertama Seruni bertemu dengan adik dari temannya yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Tanpa Seruni tahu, adik dari temannya itu menyimpan rasa padanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 — Chat Intim
Seruni's PoV "Lo nggak mau ambil?" tanya Vania yang sepertinya bisa membaca keraguanku saat kami berdua sama-sama mendapatkan penawaran naik kelas ke penerbangan internasional. Kami berdua saat ini tengah berada di sebuah kamar hotel, bersiap menuju bandara kira-kira setengah jam lagi. Jika terbang bersama Vania, kami selalu satu kamar berdua. Menjadi pramugari pada salah satu maskapai ternama Indonesia dan dapat kesempatan untuk terbang ke luar negeri, siapa yang tidak mau? Itu tawaran yang sangat dinantikan kebanyakan pramugari, begitu juga denganku. Namun, aku agak ragu karena ada rencana untuk menikah pada tahun ini. Aku yang diam-diam menjalin asmara dengan seorang pilot dari maskapai yang sama juga. Satu-satunya yang tahu hanya Sita, teman dekatku satu lagi selain Vania. Aku dan Sita sudah mengenal sejak awal masuk ke sini jauh sebelum Vania bergabung. Aku dan Sita training sama-sama di Daruga Center hingga metode survival juga. "Mau banget sebenarnya. Tapi ada hal yang harus gue pertimbangkan." Aku tersenyum tipis, tak ingin dulu bercerita mengenai rencanaku kepada Vania. Nanti saja kalau semuanya sudah ditentukan waktunya—mendekati lamaran. Tak ada yang tahu rencana pernikahan ini, Sita sekali pun. "Gue mau bicarain dulu sama adek dan tante gue, minta pendapat mereka gimana-gimananya. Kalau di sini kan ada apa-apa, masih satu negara. Entah, lihat gimana nanti aja." Aku dibantu oleh tanteku setelah kedua orang tuaku meninggal saat aku duduk di bangku SMP, aku ditinggal dengan kedua adikku berusia 2 tahun dan 8 tahun di bawahku. Tante yang merupakan adiknya mama memang tinggal di rumah kami, hingga dia menikah baru pindah. Tanteku agak telat menikah demi kami semua. Baru menikah setelah aku lulus kuliah, diterima menjadi pramugari. Sangat bersyukur baru lulus kuliah, bisa langsung bekerja. Aku berterima masih sekali kepada tanteku yang telah membantu membesarkan—menjaga kami semua saat kami masih butuh-butuhnya kasih sayang orang tua. "Iya... iya. Lo omongin dulu aja gimana baiknya, masih ada waktu untuk berpikir." Aku mengangguk. Sebenarnya adikku tak ada masalah, yang menjadi permasalahan adalah rencana dan kekasihku yang ingin menikah pada tahun ini. Aku akan membahasnya nanti dengan calon suamiku—Mas Malik, apa kah aku boleh tetap bekerja dengan penerbangan ke luar negeri yang merupakan impianku? Kami pernah membahas perihal bagaimana nanti aku setelah menikah. Mas Malik menyarankan agar aku resign saja dan biaya adikku yang bontot masih kuliah akan dibantu olehnya. Tapi, terbang ke luar negeri ini adalah sesuatu yang aku impikan. Agak sayang rasanya menolak kesempatan itu. Sempat ada kepikiran barusan untuk menunda rencana pernikahan kami, apa Mas Malik akan setuju? Setidaknya satu atau dua tahun saja, baru setelahnya aku resign. "Lo sendiri gimana, Van? Yakin enggak mau ambil?" Vania tak mengambil kesempatan tersebut. Vania menggeleng sembari tersenyum. "Gue fokus mantau usaha gue aja, biar banyak waktu buat suami—rumah tangga kami nanti. Dia sebenarnya enggak ada maksa gue untuk nurutin keinginannya, cuma dari gue sendiri yang memilih jalan ini." Vania ini berasal dari keluarga berada, berbeda denganku. Dia telah memiliki usaha cafe, walau tak begitu besar. Dan dalam waktu dekat, dia akan menikah dengan seorang pilot juga yang merupakan mantan kekasihnya saat SMA dulu. Cinta lama bersemi kembali, mereka balikan setelah drama yang cukup panjang. Mereka bertemu kembali di maskapai penerbangan ini, setelah sekian tahun berpisah. Vania yang pindah dari maskapai lain ke Daruga sekitar 2 tahun lalu, dan pasangannya—Captain Tama sudah beberapa tahun menjadi pilot di maskapai ini. Captain Tama merupakan salah satu pilot terbaik di Daruga. Aku ikut bahagia untuk Vania. Semoga perjalananku dengan Mas Malik lancar juga sampai waktunya kami menikah nanti. "Lo kapan ini mau nyusul gue? Cari pacar gih! Ah, elo ini, kebanyakan milih-milih. Padahal itu si Mas Hedi udah terang-terangan gitu tertarik sama lo, eh malah dicuekin. Baik dia itu, cakep juga. Dan dengar-dengar dia orang berada juga." Mas Hedi yang Vania maksud adalah co-pilot yang kadang terbang bersama kami. Dia memang sering berkirim pesan padaku, perhatian juga. Sayangnya, aku telah memiliki kekasih dan telah berpacaran selama 3 tahunan. "Dia cuma iseng aja godain gue." Aku terkekeh pelan. "Dah ah, bahas tentang lo sama Captain Tama aja. Mau rencana menikah di mana kalian nanti? Enggak nyangka, akhirnya kalian menikah juga. Padahal elo sempat denial, kayak ogah banget balikan sama mantan." Vania tertawa kecil. "Emm... gimana, ya? Gue udah ditakdirkan bersama dia kayaknya. Beberapa kali pacaran setelah itu, eh diselingkuhin mulu gue. Lo sendiri gimana? Ada pernah tertarik sama pilot nggak? Atau... ada pilot yang pernah dekatin elo? Lo kan cantik, Run. Ayo, ngaku sama gue! Ada pastinya, 'kan?" Aku terkekeh, membantah dengan gelengan kepala. "Enggak ada. Kan pramugari Daruga rata-rata pada cantik, enggak ada apa-apanya gue. Ya... gitu, enggak ada pilot yang lirik gue." Aku berbohong, nanti saja jika sudah tepat waktunya baru cerita kepada Vania. Dulu—beberapa tahun lalu, memang ada yang menyukaiku. Yang tak lain adalah Mas Malik. Lelaki yang berusia 5 tahun lebih tua dariku itu, mendekatiku cukup lama. Pernah aku tolak dua kali, tetapi dia tak pantang menyerah. Nyaris setahun mendekati, baru aku terima. "Cantik begitu, merendah terus elo ini. Heran gue." "Fakta, Van. Emang banyak yang jauh lebih cantik dari pada gue. Apa lagi elo, yang paling-paling di Daruga." Vania itu sangat cantik, banyak yang tertarik kepadanya. Namun, aku tak pernah iri sejak dia bergabung di Daruga. Aku malah cepat akrab dengannya, menghabiskan waktu bersama karena kebetulan sering dapat jadwal penerbangan yang sama. "Hmmm. Eh, lo serius nggak mau pertimbangkan Mas Hedi aja? Dia nggak iseng kali, Run. Kelihatan banget naksir sama elo." "Enggak deh, makasih. Bukan tipe gue juga sebenarnya. Ah, gue ini kayak cantik banget aja sampai milih-milih begitu, ya?" *** Hari ini aku libur, tapi tidak dengan Mas Malik. Kami jarang mendapatkan jadwal penerbangan atau libur yang sama setahun belakangan ini. Tapi, hubungan kami tetap berjalan baik. Memanfaatkan momen yang hanya beberapa jam saja sebelum atau setelah flight. Pagi-pagi, aku berkunjung ke apartemennya sebelum dia berangkat nanti jam 12 siang. Aku tak bilang padanya akan ke sana saat kami teleponan semalam, karena aku baru tengah malam tiba di rumah dan niat awalnya hendak bangun siang. Mas Malik menyewa apartemen yang tak jauh dari bandara 2 tahun belakangan ini. Rumah yang dibelinya, sementara disewakan sampai waktunya kami menikah nanti. Sementara orang tuanya tinggal di Surabaya. Dia sudah 5 tahunan di Daruga, sudah mapan dan memang berasal dari keluarga yang cukup berada juga. Tapi, aku bersyukur keluarganya bisa menerimaku dengan baik. Jam setengah delapan, aku memasuki apartemen Mas Malik yang mana aku juga memiliki kartu aksesnya. Aku tersenyum mendapati apartemennya yang agak berantakan dengan bekas makanan di atas meja dan ada gelas bening berisi sedikit air putih serta cangkir bekas kopi. Sepertinya kekasihku itu belum bangun. Aku meletakkan di atas meja, hendak membersihkan apartemen lelaki itu. Dan setelah ini berniat membuatkan sarapan untuknya. Setelah rapih, aku membuka pintu kamarnya perlahan, sekalian ingin sapu pel juga. Mas Malik tampak masih setia memejamkan mata dan aku tak berniat membangunkannya. Nanti saja, semisal aku telah selesai membuatkan sarapan. Sudut bibirku terangkat melihat pemandangan lelaki itu yang sedang tidur, tampak tenang dalam tidurnya. Lelaki yang sedang tertidur itu, aku begitu mencintainya. Dia memang tak setampan Captain Tama, Mas Hedi atau pilot lainnya, akan tetapi bagiku dia adalah segalanya. Si paling baik tempatku berkeluh kesah—paling mengerti akan apa pun rasakan. Dia juga tak pernah aneh-aneh, aku sayang sekali kepadanya. Pandanganku kemudian beralih ke sekitar. Di dinding atas tempat tidur ada lukisan diriku, ada foto kami berdua saat liburan pada bagian dinding lainnya dan juga ada figura kecil di samping nakas. Lelaki itu begitu memujaku, berpacaran lama pun sepertinya tak berkurang rasa cintanya padaku. Aku menunduk ketika melihat amplop di lantai dekat nakas. Aku mengambil amplop dengan logo Daruga tersebut. Tanpa membukanya, aku memasukkan ke dalam laci nakas. Namun, mataku menyipit ketika laci kubuka dan menemukan sebuah ponsel di sana. Mas Malik memiliki dua ponsel? Aku tak pernah melihat ponsel ini sebelumnya, hanya yang saat ini berada di atas nakas saja. Apa ponsel baru? Apa ponselnya yang biasa bermasalah? Entah kenapa, ada dorongan dalam diriku untuk meraih benda pipih tersebut. Saat menyentuh layarnya dan menyala, jantungku berdegup dengan kencang melihat wallpaper pada ponsel tersebut. Fotonya Mas Malik berdua dengan sahabatku, Sita. Foto tersebut Sita tampak seksi menggunakan tank top dan berada duduk di pangkuan Mas Malik yang memeluknya dari belakangan. Foto yang diambil oleh Sita. Aku lemes seketika. Mereka ada hubungan di belakangku? Dengan tangan gemetar dan jantung berdegup kencang, aku menuju aplikasi chat. Dan... aku membekap mulutku begitu melihat last chat mereka yang waktunya semalam, dan itu waktunya Mas Malik teleponan denganku. Tak lama, dia mengakhiri telepon karena katanya mengantuk. Dia chat'an dengan Sita saat teleponan denganku, dan mengakhiri telepon karena ingin melakukan panggilan video dengan Sita? Bebe Photo Cantik dan lebih hot aku dibanding si cupu itu, kan? Video Nanti kita main lagi sepuasnya, mas sayang Ada foto Sita menggunakan pakaian dalam saja dan setelahnya ada video singkat mereka sedang berhubungan badan... dan itu... di kamar ini? Lalu, balasan pesan dari Mas Malik membuatku semakin jijik dengan tangan yang gemetar, pucat. Malik Iya sayang Beuhh kamu ga ada tandingannya be Hotties Duhh, jadi tegang punyaku Photo Vidcall sayang Ga pake apa2 ya! 📞Video call ended 58min Aku menggeleng dengan air mata yang jatuh menetes begitu saja. Rasa sedih, kecewa, marah bercampur satu membaca chat intim serta foto dan video tak senonoh tersebut. Tak lanjut scroll ke atas, pasti akan semakin sakit hatiku nantinya bila kuteruskan. Lelaki yang aku anggap baik dan tahu batasan selama kami berpacaran, ternyata malah main dengan teman seperjuanganku yang telah aku anggap seperti saudara? Kenapa? Dia sangat menjagaku, tapi dia melakukan hal yang menjijikkan dengan perempuan lain. Aku mengusap air mataku dan bersamaan dengan itu Mas Malik terbangun. "Sayang? Kamu nggak bilang mau ke sini?" Mas Malik menguap sambil mengucek matanya. "Ini apa, Mas?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku memperlihatkan layar ponsel di tanganku yang masih terbuka roomchat-nya dengan Sita. Lelaki itu tampak terkejut. "Sayang, a-aku... " "Kamu main belakang sama teman dekat aku sendiri, Mas? Sejak kapan?" "Say— " "Hubungan kita cukup sampai di sini aja." Mas Malik menggeleng. “Enggak, Sayang. Mas akui kalau khilaf, karena dia terus godain Mas. Maaf." "Jangan mendekat!" Aku mengangkat tanganku saat Mas Malik hendak beranjak dari atas kasur terlihat ingin menghampiriku. "Aku jijik sama kamu, Mas." "Sayang... " Aku menggeleng lemah. Lalu, membuka kalung pada leherku yang merupakan pemberiannya saat ulang tahunku 2 tahun lalu. Kulempar kalung itu kepadanya, dilanjut dengan cincin di tanganku juga aku lepaskan dan lempar padanya. "Nggak sudi aku menikah dengan orang menjijikkan seperti kamu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
741.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
974.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
356.4K
bc

Not just, the Beta

read
347.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook