"Astagfirullah." "Kenapa?" Altarik bangun dan mengucek mata, lalu menguap lebar, Rahee melihat itu. Ibaratnya, kepala Alifia bisa masuk ke sana. Bicara-bicara, dalam kondisi terburuk sekalipun jika sudah jadi suami istri, maka hal itu akan terlihat, sesuatu sejenis garuk p****t saja bisa ditampakkan tanpa gengsi. "Tamu bulanan aku datang nggak pake salam. Nggak ada akhlak banget, kan? Pantes boboknya nggak nyaman." Karena nggak ada pintunya, alias sedang tidak pakai celana, apalagi dalaman. Kan semalam Rahee dibuat buka-bukaan. Malas berpakaian, cuma asal selimutan. Mr. Altarik menatap pada Rahee yang rempong menutupi tubuh dengan selimut, lalu menarik seprai setelah memintanya untuk cepat menyingkir. "Yaaah, tau gini ... semalam kita jadi aja ya, Ra, bikin baby." Altarik mengeluh

