BAB 1
“Alaric, tatap Pendeta saat janji diucapkan. Jangan biarkan mata kamu terus-menerus mencari bayangan almarhumah di sudut altar,” bisik Ibu Marisa tegas sambil membetulkan posisi kancing jas anaknya yang agak melunglai.
Jova berdiri berjarak dua langkah dari sana. Ia memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar ruang tunggu gereja. Gaun pengantin putih polos yang melekat di tubuhnya tampak begitu sederhana, tanpa payet berlebih atau ekor gaun panjang yang menyapu lantai. Di sampingnya, Alaric hanya berdiri membisu, menatap lurus ke dinding kosong. Pria itu tidak menyahut teguran ibunya. Tangannya terangkat, merapikan letak kacamata berbingkai hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Kacamata itu menyembunyikan sepasang mata yang sembab, sebuah rahasia kecil yang ingin disembunyikan Alaric dari semua orang.
Jova menarik napas pelan. Ia menata detak jantungnya yang berkejaran. Pernikahan ini bukan impian yang dibungkus dengan bunga-bunga segar atau musik romantis. Ini adalah sebuah keputusan mendesak, kesepakatan dua keluarga yang terikat oleh rasa duka dan tanggung jawab.
“Jova, kamu sudah siap?” tanya Ibu Marisa, mengalihkan pandangan padanya. Suaranya melunak, membawa sedikit nada penyesalan yang tertahan.
“Sudah, Bu,” jawab Jova ringkas. Ia mengangguk pelan, berusaha menunjukkan ketenangan yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia rasakan.
“Terima kasih, ya, Nak. Ibu tahu ini tidak mudah untukmu,” kata Ibu Marisa lagi, menepuk lembut lengan Jova.
Alaric akhirnya bergerak. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan mendahului mereka keluar dari ruang tunggu menuju pintu utama sanctuary. Jova menyusul dari belakang, melangkah dengan ritme teratur. Setiap pijakan kakinya terasa berat, seolah karpet merah di lorong gereja itu menahan langkahnya.
Pintu kayu jati berukir itu terbuka perlahan. Suasana di dalam sanctuary terasa begitu lapang dan lengang. Tidak ada puluhan deret bangku yang terisi penuh oleh tamu undangan. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang duduk di barisan terdepan, menyisakan deretan bangku kosong yang membisu. Cahaya matahari siang menembus kaca patri berwarna-warni, membiaskan bayangan temaram di sepanjang lorong menuju altar.
Pendeta sudah berdiri menanti di depan meja altar kayu yang dihiasi rangkaian bunga lili putih. Alaric dan Jova berjalan berdampingan, namun jarak di antara mereka terasa bak jurang yang dalam. Tak ada jemari yang saling bertautan, tak ada lirikan mata yang saling menguatkan.
Di barisan depan, seorang balita berusia dua tahun tampak gelisah di pangkuan pengasuhnya. Oliver, putra tunggal Alaric, bolak-balik memutar tubuhnya. Tangannya yang mungil meremas pinggiran baju, lalu matanya yang membulat menatap ke arah pintu masuk.
“Mami ...” gumam Oliver pelan, memanggil sosok yang tak lagi bisa ia temui.
Suara kecil itu mengudara di tengah kesunyian gereja. Alaric sempat menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengetat, dan tangannya mengepal di samping tubuh sebelum akhirnya kembali melangkah mendekati altar. Jova mendengar bisikan kecil itu dan merasakan desakan sesak di dadanya. Ia tahu persis, anak sekecil itu belum memahami mengapa ibunya tidak lagi hadir di sana.
Pendeta menyambut mereka dengan senyum tenang, lalu memulai prosesi dengan doa pembuka. Alur ibadah berjalan sangat khidmat. Suara instrumen organ melantun pelan, menambah kesan sakral sekaligus sepi yang menyelimuti seluruh ruangan.
Ketika tiba saatnya untuk pengucapan janji nikah, Pendeta membalikkan badan menghadap kedua mempelai. “Alaric Adichandra, apakah engkau bersedia menerima Jova sebagai istrimu yang sah, mencintainya, dan memperlakukannya dengan penuh kasih dalam suka maupun duka?”
Alaric menarik napas panjang. Tenggorokannya bergerak lambat saat ia mencoba bersuara. Matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata hitam itu bergetar.
“Saya ... Alaric Adichandra,” ucapnya dengan suara datar dan agak serak, “menerima Jova sebagai istri saya yang sah. Saya berjanji akan mengasihi dan menghormatinya ... dalam suka maupun duka.”
Tidak ada nada penuh keyakinan di sana. Kalimat itu terucap bagai barisan mantra yang dihafal di luar kepala. Jova menatap profil samping wajah Alaric. Pria di sampingnya ini sedang berdiri di sebuah acara pernikahan, namun sejatinya, hatinya sedang memakamkan separuh jiwanya lagi di tempat ini. Pria itu hadir secara fisik, tetapi pikirannya tertinggal jauh di masa lalu.
Pendeta kemudian beralih menatap Jova. “Jova, apakah engkau bersedia menerima Alaric sebagai suamimu yang sah, menghormatinya, serta mendampinginya dalam suka maupun duka?”
Jova menatap wajah Pendeta, lalu beralih sekilas pada Alaric yang masih membuang muka ke arah meja altar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki.
“Saya, Jova, menerima Alaric sebagai suami saya yang sah. Saya berjanji akan menghormati dan mendampinginya ... dalam suka maupun duka,” tutur Jova lugas. Suaranya terdengar jernih, tanpa keraguan yang menggantung.
Pendeta mengangguk pelan, menyatukan kedua tangan mereka di atas kitab suci. “Berdasarkan janji yang telah kalian ucapkan di hadapan Tuhan dan para saksi, saya menyatakan kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.”
Saat Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala mereka berdua untuk mengalirkan doa pemberkatan, tangisan Oliver mendadak pecah di barisan depan. Anak itu mulai meronta dari pangkuan pengasuhnya, enggan ditenangkan.
“Mami! Mau Mami!” tangis Oliver pecah, suaranya menggema di sudut-sudut gereja yang tinggi.
Ibu Marisa mencoba membujuk cucunya, tetapi Oliver justru makin kencang menangis. Wajah balita itu memerah, air mata membasahi pipinya yang tembam.
Mendengar tangisan itu, konsentrasi Alaric langsung buyar. Ia menggeser tubuhnya hendak menghampiri anaknya, tetapi gerakan Jova jauh lebih cepat. Tepat setelah Pendeta menurunkan tangannya dan mengucapkan kata amin, Jova melangkah mundur dari altar. Ia menghampiri barisan depan dan berlutut di hadapan Oliver.
“Oliver, ini Aunty Jova,” ucap Jova lembut. Ia tidak mencoba menggantikan panggilan itu, ia hanya mengulurkan kedua tangannya dengan sabar.
Oliver menatap Jova dengan mata basah. Tangisannya pelan-pelan mereda menjadi isakan kecil. Anak itu menatap wajah Jova beberapa saat sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh kecilnya ke pelukan Jova. Jova langsung merengkuh balita itu ke dalam gendongannya, menepuk-nepuk punggungnya penuh ketenangan.
Ibu Marisa menghela napas lega, sementara Alaric hanya berdiri terpaku beberapa langkah di belakang mereka. Pria itu memperhatikan bagaimana anaknya bersandar di bahu Jova tanpa penolakan berarti. Ada selapis emosi yang sulit diartikan melintas di wajah Alaric, sebelum akhirnya kembali tertutup oleh raut dingin yang biasa.
Prosesi pernikahan itu selesai begitu saja, tanpa pesta meriah, tanpa jamuan makan besar, dan tanpa ucapan selamat yang riuh dari kerabat. Hanya ada beberapa foto formal keluarga yang diambil dalam waktu singkat sebelum mereka semua bersiap meninggalkan gereja.
Langkah kaki mereka bergema di pelataran gereja saat berjalan menuju area parkir. Sebuah mobil sedan hitam sudah menanti di depan tangga utama. Supir pribadi keluarga Adichandra berdiri di samping mobil, namun Alaric memintanya untuk mundur.
Alaric melangkah lebih dulu dan membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk Jova. Gesturnya sangat kaku, begitu formal dan berjarak, persis seperti seorang pria asing yang sedang menjalankan tugas protokol.
“Silakan masuk, Jova,” kata Alaric datar, tanpa menatap langsung ke matanya.
“Terima kasih, Mas,” jawab Jova singkat.
Jova duduk di kursi belakang sambil memangku Oliver yang mulai mengantuk karena lelah menangis. Alaric memutar mengitari kap mobil, lalu duduk di kursi kemudi. Ia memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin, dan mulai menjalankan kendaraan meninggalkan halaman gereja.
Perjalanan menuju rumah keluarga Adichandra dipenuhi keheningan yang tebal. Tidak ada musik yang mengalun dari radio, tidak ada pula percakapan hangat antarpasangan pengantin baru. Hanya ada suara dengkur halus Oliver yang tertidur lelap di pangkuan Jova. Alaric sesekali melirik melalui kaca spion tengah, memastikan anaknya aman, sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalan raya di depannya.
Jova memilih menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pohon dan gedung yang bergerak mundur. Ia tahu perjalanan hidupnya setelah hari ini tidak akan pernah sama lagi. Ia memasuki sebuah rumah yang dibayangi oleh kenangan orang lain, sebuah ruang yang dibangun dari ketidakberdayaan masa lalu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil hitam itu berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan tenang dan berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah berarsitektur modern minimalis. Pagar besi hitam itu terbuka otomatis, memberi jalan bagi mobil untuk masuk ke dalam garasi.
Mesin mobil dimatikan. Suasana di dalam kabin kembali hening seketika. Alaric tidak langsung turun. Ia terdiam selama beberapa detik, memegang kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Oliver tertidur nyenyak?” tanya Alaric tanpa menoleh ke belakang.
“Iya, dia tertidur lelap,” balas Jova pelan. “Mungkin dia lelah.”
Alaric mengangguk singkat. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Jova. Ia mengulurkan tangan untuk membantu memegang tubuh Oliver agar Jova bisa keluar dengan mudah dari dalam mobil.
Mereka berdua berjalan menuju pintu utama rumah. Lampu teras sudah menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, namun atmosfer di sekitar bangunan itu terasa begitu dingin dan sepi. Tidak ada hiasan ucapan selamat datang, tidak ada pita merah, atau tanda-tanda keberadaan pengantin baru di rumah itu.
Alaric merogoh saku jasnya, mengeluarkan setangkai kunci kuningan bersalut perak. Ia membuka slot kunci pintu utama, lalu mendorong pintunya hingga terbuka lebar. Bau kayu dan aroma pembersih lantai yang khas langsung menyergap indra penciuman mereka.
Alaric balik memutar tubuhnya menghadap Jova. Ia mengulurkan kunci tersebut, meletakkannya dengan hati-hati di atas telapak tangan Jova yang bebas.
“Selamat datang di rumahku, Jova. Maaf ... rumah ini mungkin belum punya ruang untuk rasa bahagia.”