Chapter 15 Mata Luna perlahan terbuka. Aroma obat langsung menusuk hidungnya. Matanya disambut dengan pemandangan serba putih. Anak perempuan itu mengernyit, berusaha mengumpulkan ingatannya. “Lo udah bangun?” “Gue di mana?” Luna menoleh ke samping kirinya dan menemukan tabung cairan infus tergantung di sana. “Rumah sakit. Ini di ruang inap.” “Ru-rumah sakit?” “Iya.” Ryuu mendaratkan pantatnya di kursi sebelah tempat tidur Luna. “Udah berapa lama?” “Lo udah pingsan sekitar 3 jam.” Bola mata Luna membesar seketika. “Lun, jawab pertanyaan gue dengan jujur. Kenapa rusuk lo bisa patah?” Luna terdiam beku mendengar pertanyaan Ryuu. “Patah?” “Iya. Jangan bilang lo nggak tau kalau rusuk lo patah?” Luna menggeleng. “Lo sejak kapan sakit kayak gini?” Luna diam, men

