Bab.1 Desahan Malam Yang Meresahkan
Malam itu, rumah besar yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang gema bagi bisikan dan rahasia. Dinding-dindingnya tipis oleh perasaan yang terlalu lama dipendam, dan udara terasa lebih hangat dari biasanya, seolah malam ikut menyimpan napas mereka.
"Ohh Beby....hmmm...aaahhh." Desahan Lidia terdengar samar, terputus-putus, seperti angin yang menyentuh tirai. Tidak keras, tapi cukup jelas untuk merambat ke kamar sebelah.
Laura terdiam.
Ia duduk di tepi ranjangnya, punggung bersandar pada kepala tempat tidur, lampu kamar diredupkan hingga hanya menyisakan cahaya kekuningan yang lembut. Layar ponselnya menyala, sembari menonton film dewasa, namun pandangannya tak sepenuhnya tertuju ke sana. Yang memenuhi kepalanya justru bayangan lain, sesuatu yang selama ini ia coba tepis, tapi selalu kembali dengan cara yang paling tidak terduga.
Nama itu. Bagas - Suami tantenya.
Pria yang seharusnya hanya menjadi figur keluarga, namun entah sejak kapan kehadirannya terasa berbeda bagi Laura. Cara Bagas berbicara yang tenang, tatapannya yang dewasa, sikapnya yang selalu tahu kapan harus diam dan kapan harus mendekat, semuanya perlahan membangun ruang rahasia di benak Laura.
Ia menggigit bibirnya pelan, memejamkan mata, membiarkan imajinasinya mengalir liar. Bukan tentang apa yang terjadi, melainkan bagaimana rasanya jika semua batas itu lenyap. Jika malam memberi mereka izin untuk jujur, meski hanya sebentar.
“Om…” gumamnya lirih, hampir seperti doa yang tak seharusnya terucap.
Waktu berjalan lambat, seperti sengaja mempermainkan perasaan. Dua jam berlalu tanpa ia sadari, hingga akhirnya suara ketukan terdengar di pintu kamarnya begitu pelan dan ragu.
Laura membuka mata. Jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya. Ia bangkit, merapikan rambutnya dengan gerakan refleks, lalu melangkah menuju pintu. Ada getaran aneh di jemarinya saat ia memutar kenop.
Begitu pintu terbuka, dunia seakan berhenti berputar.
Bagas berdiri di sana.
Kemeja rumah yang dikenakannya tampak sederhana, tapi caranya berdiri, tenang, tegap, dengan sorot mata yang seolah menyimpan pertanyaan dan jawaban sekaligus, membuat Laura sulit bernapas. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap. Tak ada kata, tapi terlalu banyak makna di udara.
“Om…” suara Laura hampir bergetar.
Bagas menarik napas dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. “Kamu belum tidur?” tanyanya pelan, nada suaranya berusaha netral, meski matanya mengkhianati kegelisahan.
Laura menggeleng. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan memeluknya. Gerakan itu spontan, jujur, dan penuh kerinduan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Bagas terdiam. Tangannya sempat menggantung di udara sebelum akhirnya membalas pelukan itu, begitu ringan, seolah takut melangkah terlalu jauh. Tapi kehangatan itu nyata, dan bagi Laura, itu sudah cukup membuat lututnya melemas.
"Om...lama banget, nggak masuk kamarku sih, dari tadi nungguin juga."
Bagas menggendong Laura, membawanya ke ranjang dengan hati-hati, seolah Laura adalah sesuatu yang rapuh dan berharga sekaligus. Ia meletakkannya dengan lembut, tatapannya mencari kepastian di wajah Laura. "Sabar, sayang, nunggu Lidia, tidur dulu."
"Cepetan ih, nggak sabar aku."
"Kamu belum pernah kan? Yakin kamu mau?" Tanya Bagas lembut dengan mencubit manja dagunya Laura
Laura mengangguk tanpa ragu. Matanya menatap Bagas dengan keberanian yang mengejutkan bahkan dirinya sendiri. “Mau banget, Om.”
Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, menyisakan dunia luar bersama semua aturan yang seharusnya mengikat mereka. Di dalam kamar itu, hanya ada dua jiwa dewasa yang bergulat dengan keinginan dan logika.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih padat. Nafas mereka bersatu dalam ritme yang sama, jarak di antara mereka semakin menipis, hingga batas itu tak lagi terasa jelas.
Bagas mengusap pipi Laura, sentuhannya hangat dan penuh kendali. “Kamu masih Virgin, Laura,"kalimatnya menggantung, tak perlu dilanjutkan.
Laura tersenyum kecil. “Ya, Om, jawabnya jujur. “Tapi tepatin janji Om, buat nikahin aku.”
"Ya, sayang, tenang aja, secepatnya yah."
"Tapi, hmm, pelan - pelan ya, Om." Ucap Laura sembari merasakan sentuhan Bagas
"Ya, honey, kamu ...sexy banget sih, cantik sempurna, udah nggak sabar, aku, hmm."
"Ya udah...cepetan, aku udah nggak tahan, Om."
Kepercayaan itu menghantam Bagas lebih keras dari godaan apa pun. Ia memejamkan mata sejenak, seolah berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Saat ia membukanya kembali, ada keputusan di sana, bukan keputusan sembrono, melainkan pilihan sadar yang tetap dibungkus kehati-hatian.
Malam itu, menjadi malam pertama bagi Laura, merebut hati suami tantenya, dan mereka berdua berpeluh asmara dengan panasnya di atas ranjang, dengan desahan halus yang mengisi malam yang dingin. Kecantikan Laura sungguh menggoda hasrat Bagas, keimanan dia runtuh seketika, disaat Laura memperlakukannya sebagai laki - laki yang begitu diinginkan.
"Om....kenapa nggak dari dulu, sih... sumpah....surga banget, Om." Ucap Laura saat dalam rengkuhan pelukan erat Bagas
"Ya, dari dulu, aku juga udah pengen cepet-cepet, masuk kamar kamu, Laura."
"Masa....."
"Ya....kamu hot banget sih...., kamu abis nonton film...."
"Abis bikin nagih, tapi setiap nonton, pikiranku mikirin Om."
"Mikirin apa?"
"Bayangin, Om masuk ke kamar aku, tiap malem, ngasih....."
Kalimat itu enggan dilanjutkan, Bagas seketika menggendong Laura, menuju kamar mandi, dengan pancuran air yang deras, membuat siapapun tidak bisa mendengar setiap inci desahan mereka.
Di luar kamar, rumah tetap sunyi. Lidia tertidur tanpa mengetahui apa yang terjadi di balik dinding lain. Jam terus berdetak, tapi bagi Laura, waktu seolah berhenti di satu titik yang tak ingin ia lepaskan.
Ketika akhirnya kelelahan menyapa dan dunia kembali menuntut kesadaran, Laura bersandar di bahu Bagas, dengan perasaan yang campur aduk, antara puas, takut, dan bahagia yang samar. Bagas duduk di tepi ranjang sejenak, menatap wajah Laura yang damai.
Bagas menghela napas sejenak. "Sayang, besok minta rekening kamu, nanti Mas transfer, mulai sekarang panggil Mas aja, tetapi kalau depan Lidia, kamu boleh panggil Om."
Laura memeluk erat. "Mas...aku nggak nyaman kalau satu rumah sama Tante Lidia, nanti kalau kita mau mesra - mesraan gimana?"
"Ya, tunggu sampai Lidia, berangkat ke Milan ya, nanti kita cari rumah, kamu yang pilih sendiri."
"Serius...Mas, kamu mau beliin aku rumah?"
"Ya, bahkan jauh lebih besar dari ini, yang penting, kamu jangan nakal, Mas nggak suka ya."
"ih, apaan sih, Mas, ngapain aku nakal, aku cuma mau nakalnya sama kamu aja, Mas kan tahu, segini sayangnya aku sama kamu, apa yang udah aku jaga selama dua puluh tahun ini, hanya kamu yang dapetin mahkota kesucian aku."
"Ya...Mas hanya pesen, Mas sayang banget sama kamu, sejak awal Mas nikah sama Tante Lidia, Mas udah mendem rasa sama kamu."
Mereka tahu, pagi akan membawa konsekuensi. Namun malam ini, mereka memilih untuk jujur pada diri sendiri, meski hanya sekali, meski hanya sebentar.
Dan di rumah itu, rahasia baru pun lahir, diam-diam tumbuh di antara desir napas dan detak jantung yang masih saling mengingat.