bc

Menjerat Kekasih Kakakku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
forbidden
love-triangle
one-night stand
family
forced
friends to lovers
arranged marriage
heir/heiress
drama
secrets
affair
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Letta menjebak Deen, calon suami kakak tirinya, dan membuat mereka melewati malam yang sangat panas. Letta ingin membalas perbuatan ibu dan kakak tirinya yang begitu jahat dan manipulatif.

Apa yang terjadi setelah one night stand yang mereka lakukan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Letta menghadiri sebuah pesta yang diadakan keluarganya di sebuah tempat mewah dengan pencahayaan yang memukau, dan musik yang menggema di seluruh ruangan. Itu adalah pesta pertunangan Cassie, anak dari istri kedua ayahnya. Setelah ibunya meninggal, segalanya berubah. Bahkan dia diperlakukan dengan tidak adil di rumahnya sendiri. Di rumah peninggalan ibunya. Apalagi saudara tirinya Cassie. Wanita menyebalkan dan manipulatif itu suka sekali merebut apapun yang Letta punya sejak dulu. Dia dan ibunya memang parasit tidak tahu diri. Letta mengambil segelas wine dan memandang Cassie dengan penuh dendam. Ia juga mengamati pria yang ada di sampingnya. Deen Garrix. Pria tampan yang terkenal pendiam dan sangat dingin. Wajah pria itu terukir dengan baik. Garis rahangnya tegas dan simetris. Kulitnya terlihat halus dan bersinar, seolah-olah mencerminkan cahaya yang memancar dari dalam dirinya. Deen memang telah menjadi incaran para orangtua untuk dinikahkan dengan putri mereka. Karena selain rupanya yang menawan, harta kekayaanya juga tak kalah menawan. Dia adalah pengusaha berlian dan teknologi paling sukses di Asia. Cassie bisa dibilang beruntung dapat memilikinya. Pesona Deen benar-benar kuat. Wanita manapun akan langsung terhipnotis ketampanan dewanya. Letta yakin, Deen pasti tertipu dengan sikap manipulasinya. Sama seperti ayahnya, yang tak percaya jika sikap asli wanita itu dan juga ibunya. "Kamu merebut semua yang aku miliki. Ayah, kamarku, posisiku, kamu juga pernah merebut pacarku saat masih sekolah. Aku bahkan dituntut mengalah kepada parasit yang menumpang di rumahku sendiri. Kamu dan ibumu selalu menindasku. Lihat saja apa yang akan aku rebut darimu, untuk membalas semuanya!" Letta tersenyum smirk. "Kapan kamu juga mengenalkan seseorang. Lihat, Cassie sebentar lagi akan menikah." Joey, ayah Letta mengusap pundak putrinya dengan lembut. "Kenapa Papa peduli? Pedulikan saja anak tirimu itu." "Letta... " "Bukankah aku harus mengalah? Memberi princess mu itu segala yang dia mau?" "Letta!" "Ingat Pa, semua yang Papa miliki saat ini adalah milik Mama. Dan hak waris semua itu adalah Shaletta Cullen! Aku! Suatu saat aku akan menendang dua gembel itu dari rumahku!" Joey terkekeh lalu mengangguk. "Iya Sayang, itu semua milikmu." Joey mengecup kening putrinya. "Papa tahu, pernikahan Papa masih membuatmu sangat marah. Tapi saat itu kamu masih kecil, kamu butuh sosok ibu. Papa lakukan demi kamu." "Papa tidak membuatku bahagia! Aku tidak butuh sosok ibu sepertinya!" Mata Letta bekaca-kaca. Andai papanya tahu kelakuan ibu dan suadara tirinya, yang selalu memperlakukannya dengan buruk jika dia pergi. Mereka telah memanipulasi ayahnya. "Setelah kamu juga menikah, Papa akan sendirian. Papa juga butuh seseorang bukan?" Joey memeluk Letta dengan erat. "Kamu juga akan segera memiliki keluarga." Letta membalas pelukan ayahnya. Ia tidak pernah masalah jika ayahnya menikah. Letta tahu dia butuh seseorang. Tapi kenapa harus orang jahat seperti Kylie? Untunglah semua harta warisan sang ibu di atasnamakan dirinya. Jadi mau Kylie memanipulasi ayahnya seperti apapun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tunggulah sampai Letta bisa membuka topeng mereka. Karena saat itu tiba, Letta akan menendang mereka seperti sampah. Kylie, ibu tiri Letta, menatap ayah dan anak itu penuh kebencian. Setelah putrinya menikah dengan Deen, Kylie akan menyingkirkan Letta. Anak itu sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan warisan sebanyak ini. Dia harus mati menyusul ibunya. Letta adalah penghalangnya untuk menjadi penguasa harta kekayaan suaminya. Untung saja Cassie berhasil memikat konglomerat tampan itu. Dia memang sangat pintar mencari mangsa. Kylie sangat bangga padanya. "Sebentar lagi Cassie akan menjadi nyonya Garrix dan disegani banyak orang. Dia memang anakku! Sangat pintar!" Gumamnya. **** Setelah pesta selesai, dua keluarga itu saling berpamitan. Mereka saling menebar senyuman ketika melihat Cassie dan Deen saling berpelukan untuk mengungkapkan salam perpisahan. "Letta, kamu kapan menyusul? Mau tante kenalin ke ponakan tante? Ganteng loh!" Paula, ibu dari Deen menyapa dengan ramah. Ia terus memandangi Letta dengan penuh arti. Mungkin batinnya terus bertanya-tanya, apa itu anak kandung Joey Cullen? Letta menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum. Sejujurnya ia benci di jodoh-jodohkan. Tapi karena yang bertanya calon mertuanya, ia harus bersikap sopan. Benar, Letta memang berencana akan merebut Deen dari Cassie. Dia akan membalaskan dendam atas apa yang mereka lakukan. Segala manipulasinya! "Kenalkan saja, dia ini memang sudah lama jomblo. Setiap hari kerjaanya hanya menggambar terus!" Joey memeluk Letta dengan senyumannya. "Hasil gambarannya juga jadi karya yang luar biasa. Lihat, aku adalah penggemarnua!" Paula menunjukkan tas hasil karya Letta dengan bangga. Cassie diam-diam menatap Letta dengan sebal. Bisa-bisanya calon mertuanya memuji Letta di hadapannya. Itu seperti sebuah penghinaan. Sedangkan Deen, menatap semua orang dengan senyuman tipisnya. Ia tidak begitu suka bersosialisasi. Itu sangat menguras tenaga. Tetapi ia harus tetap bersikap ramah karena mereka semua calon keluarganya. "Terimakasih." Letta hanya tersenyum malu-malu. "Kedua anakmu memang sangat hebat. Yang satu model terkenal, yang satu designer hebat." Kali ini Xander yang berbicara. Ayah Deen turut menyapa. "Terimakasih. Putramu juga sangat hebat. Dia bahkan menjadi buruan para orangtua untuk dijadikan menantu. Kami sangat tersanjung bisa menjadi besanmu." "Kita sama-sama beruntung." Xander menyalami Joey dengan bersahabat. "Pa, aku harus segera kembali ke kantor. Ada beberapa berkas harus aku urus." Deen memotong ucapan mereka dengan sopan. "Lihat anak itu, di hari pertunangan masih memikirkan pekerjaan." Xander memukul punggung putranya. "Tidak apa, itu tandanya dia pekerja keras!" Joey menyahut. "Aku pergi dulu Sayang, kamu mengobrollah dengan Mama dan Papa." Deen berkata dengan lembut kepada Cassie yang hanya mengangguk manja. Letta memandangi Cassie dan Deen yang terlihat berpelukan sekali lagi sebelum berpisah. Deen mengecup keningnya mesra dengan senyuman yang sangat tulus. Huhhh, Letta kasihan sekali dengan Deen. Dia pasti tidak tahu bagaimana sikap asli Cassie. "Letta juga pamit. Letta ada janji dengan Carla." "Hati-hati Sayang!" Joey mengusap puncak kepala putrinya. Cassie dan ibunya mendengus kesal. Memang seharusnya dia pergi sejak tadi. Keberadaanya tidak penting dan tak diinginkan. Letta pun meninggalkan dua keluarga yang masih asyik mengobrol itu. Ia mengejar Deen hingga parkiran hotel. Ia telah menyiapkan rencana untuk menjebak pria itu. Setelah sampai parkiran, Letta segera beraksi. Ia berpura-pura kesusahan memencet remot mobilnya. Memancing perhatian pria yang sedang akan menaiki moilnya. Tidak mungkin menyueki calon iparnya bukan? "Ada yang bisa saya bantu? Kamu saudara Cassie bukan?" Perfect! Semua berjalan sesuai rencananya. Letta lalu menoleh dan memasang tampang yang tak enak. Letta tidak mau modusnya terendus, sebelum ia berhasil menjalankan rencananya. "Remote mobilku memang suka eror." Letta masih berusaha. "Biar aku coba." Deen mengambil remote itu dan mencoba memencetnya, namun tetap tidak bisa. Jelas itu terjadi, Letta sudah mengatur semuanya. "Kamu mau kemana?" "Ke apartemen, pulang." Letta menjawab singkat. "Mau aku antar?" "Tidak merepotkan?" Deen hanya tersenyum lalu menjawabnya dengan membukakan pintu mobil. Sepertinya ia harus belajar bersosialisasi dengan calon keluarga baru. Termasuk calon iparnya yang satu ini. Setelah keduanya memasuki mobil, Letta langsung memberinya minuman. "Nih..." "Untukku?" "Sebagai tanda terimakasih. Maaf merepotkan." Deen tersenyum ramah dan meminumnya tanpa basa-basi. Deen memang haus dan belum sempat minum disepanjang acara. Tapi setelah cairan itu ia tenggak, mendadak Deen merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya. "Sudah siap, Sayang?" Letta terkekeh melihat Deen sempoyongan dan tak sadar. "Kamu harus bersyukur karena aku menyelamatkanmu dari jebakan ular!" Gerutunya seraya menukar posisi duduk mereka dengan senyuman smirknya. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
659.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
897.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
317.0K
bc

Not just, the Beta

read
322.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook