Dara terbangun begitu celah matahari masuk menerobos ke gorden, menyilaukan matanya yang masih terasa berat. Tubuhnya terasa remuk, setiap inci ototnya menjerit sakit. Saat mencoba menggerakkan tangan, pergelangannya terasa nyeri, seolah ada bekas cengkeraman yang terlalu kuat. Bibirnya kering, ada rasa perih di sudutnya—mungkin karena terbentur sesuatu saat dirinya tersungkur. “Nona, Anda baik-baik saja?” Dara mengerjap pelan, matanya mengitari kamar yang tetap tertata rapi, tidak ada tanda-tanda kekacauan seperti yang terjadi tadi malam. “Apa yang terjadi?” suaranya serak, hampir tak bisa dikenali. “Anda pingsan, Nona.” Dara terdiam. Perlahan, ingatannya kembali, seperti kilatan gambar yang menghantamnya bertubi-tubi. Dia ingat bagaimana Zarin menamparnya dengan brutal, bagaimana dir