Akhir yang Menjadi Awal
Ruang sidang telah sepi. Erika tinggal sendirian, masih setia di tempat duduknya, ia menghela napas berkali-kali. Akhirnya, waktu-waktu yang melelahkan telah berlalu. Hampir tiga bulan belakangan ini ia kesulitan tidur. Berat badannya bahkan menurun drastis, membuat beberapa tulang di tubuhnya tampak lebih menonjol.
Wanita itu kembali menatap map hitam di tangannya. Lagi, ia menghela napas. Ada rasa lega yang menyusup, meskipun hati kecilnya ada secuil rasa hampa. Ia menggeleng pelan. Tidak! Ini sudah ujung dari perjuangannya selama ini, hal yang ia nanti-nantikan. Sebuah kebebasan dari hubungan yang tak seharusnya terjalin.
Sesungguhnya Erika tak dendam. Ada kalanya nasib manusia memang tak berjalan sesuai keinginan. Segaris senyum dipaksanya untuk menghiasi bibir. Sekali lagi napas berat keluar dari mulutnya, ia segera berdiri dan keluar dari ruang sidang.
Langkah Erika tertahan tepat di halaman gedung pengadilan tersebut. Sebab matanya menangkap dua sosok laki-laki menggunakan jas rapi dan seorang wanita paruh baya yang dandanannya ala-ala sosialita, tengah berdiri di depan mobil Erika. Seketika wanita itu bingung antara memilih melanjutkan langkah dan bertemu mereka setelah putusan sidang tadi, atau menghindar saja entah ke mana. Masa iya, dia harus kembali ke ruangan sidang yang kemungkinan sudah dihuni oleh orang selanjutnya?
Belum sampai kepalanya menentukan keputusan, wanita paruh baya yang dilihatnya tadi malah mendekat dengan langkah terburu-buru, seolah memprediksi apa isi kepala Erika. Lalu, yang ia rasakan selanjutnya adalah tubuhnya ditarik lembut, kemudian kehangatan melingkupi. Rambutnya dielus pelan, dan telinganya mendengarkan kata maaf yang digumamkan berkali-kali.
"Ma, sudah. Semua sudah di titik baik-baik saja, Mama nggak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan Mama." Erika melerai pelukan. Ditatapnya sang mantan mertua dengan raut ikhlas, agar paruh baya itu tak bisa melihat sedikit pun celah luka di wajahnya. Erika tak ingin akhir yang ia pilih menjadi beban bagi orang lain, terutama keluarganya atau keluarga mantan suaminya.
Paruh baya itu tak bersuara. Namun, siapa pun yang melihat tatapan sayu itu pasti paham bahwa ia belum ikhlas menerima keputusan Erika dan anaknya.
"Ma." Sebuah panggilan dari arah belakang lantas memecah hening yang sempat singgah. Sekarang mantan papa mertua Erika yang mendekat. Pria paruh baya itu tak banyak cakap. Ia hanya menepuk kepala Erika dengan lembut. Tatapannya seolah menyiratkan bahwa ia akan mendukung apapun keputusan yang dibuat Erika.
"Kita harus pulang, Ma. Erika juga pasti capek hari ini."
Mendengar namanya disebut, Erika segera mengangguk berkali-kali. Papa mertuanya, ah, tidak! Mantan papa mertuanya begitu pengertian. Sangat disayangkan, di antara kata "mertua" pada dua paruh baya itu malah tersemat kata "mantan". Dalam hati Erika mencibir pikirannya yang busuk tersebut. Sepertinya dia benar-benar butuh istrahat.
"Ya sudah, kamu hati-hati, ya, Nak. Sampai di rumah jangan lupa kabarin mama!"
Erika mengangguk saja akan perintah itu agar drama mellow ini segera berakhir. Ia butuh bantal sesegera mungkin, untuk mengistirahatkan pikirannya yang sedang mengawang antara kebahagiaan dan kehampaan baru.
Setelah dua paruh baya itu berlalu, Erika tak langsung melanjutkan langkah. Ia menatap keduanya yang mendekat pada satu pria lagi yang keberadaannya sempat terlupakan sejenak. Dilihatnya sang papa mertua berbicara sebentar. Pria itu kemudian melihat ke arah Erika. Tatapan keduanya bertemu beberapa detik, sebelum Erika sendiri yang memutus. Ada baiknya ia menatap ujung hilsnya saja dibanding wajah itu. Ketika ia kembali mengangkat pandangan, tiga orang tersebut sudah berlalu, menjauh dari mobil milik Erika.
"Apa aku harus berfoto di depan sini, ya, sambil liatin map ini. Biar jadi kenangan suatu hari nanti?" Erika bergumam sendirian. Ia sering melihat seliweran di beranda salah satu aplikasi, di mana banyak wanita memposting surat cerai mereka dengan bangga, memakai caption "kebebasan".
Sekali lagi Erika menggeleng. Banyak hal nyeleneh yang mampir di kepalanya di saat lelah seperti ini. Lihat saja, sejak tadi kerjanya hanya menghela napas, mengangguk, menggeleng, sudah mirip sama orang gangguan jiwa. Dari pada pikirannya semakin liar, lebih baik ia memutuskan untuk segera pergi dari sana. Masa bodoh soal kenangan. Yang ada ia trauma kalau mengingat masa-masa berjuang di gedung ini.
***
Sejak palu diketuk tiga kali, Baskara memilih meninggalkan ruangan lebih cepat tanpa basa-basi. Langkahnya tak tentu, tau-tau tanpa sadar ia sudah berada di depan gedung pengadilan, tepatnya di depan mobil yang terparkir—yang begitu ia kenali siapa pemiliknya.
Banyak perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Marah, sedih, pasrah, semua menyatu menjelma api, membakar hampir seluruh sisa kewarasan yang ia punya. Kepalanya serasa mau pecah setelah tiga bulan dikerumuni tuntutan-tuntutan yang menyakitkan, akan tetapi tak bisa ia bantah pula.
Andai mulutnya tak memilih bungkam, dan andai dengan bersuara api masalah akan segera padam, pria yang kerap disapa Kara itu pasti sudah mengungkapkan semua hal yang ia pendam. Sayangnya, jika ia berbicara maka semua akan berakhir runyam. Namun, perpisahan ini sama sekali tak terpikir oleh Kara di awal pertengkaran.
"Kara!" Tepukan di pundaknya menyadarkan Baskara. Ia menoleh, kaget karena orang tuanya datang menyusul.
"Ma, Pa, kalian kok ninggalin Lika di dalam?" Panggilan spesial itu dengan ringan keluar dari bibirnya, padahal ada sebagian dari hati Kara yang membenci keputusan wanita itu.
"Dia tampak baik-baik saja, Kara. Erika perempuan kuat. Sedangkan kamu? Kamu kacau, Kara."
Kara tahu itu. Itulah hal yang ia benci. Likanya tampak lebih bahagia saat ia tak lagi berlaku melawan. Seolah keputusan cerai adalah sebuah kemenangan yang telah lama ditunggu wanita itu. Sungguh, Kara benar-benar membenci kenyataan itu.
"Aku...." Ia bingung mau berucap apa. Haruskah ia mengatakan, "Ya. aku lihat, Ma, Pa"? Atau ia harus bilang, "Enggak. Dia pasti hanya pura-pura"? Ah. Rasanya Kara berharap hal kedua benar-benar terjadi pada Erika.
"Papa paham." Ya, papanya pasti paham. Namun, ibunya jelas tak senang. Sejak tadi wanita itu melayangkan tatapan tajam padanya. Ah, tidak. Tapi semenjak dua Minggu yang lalu, saat hal besar perihal urusan perceraian ini sampai ke telinganya. Kara diomeli habis-habisan, bahkan ia didesak agar menjelaskan titik permasalahan mereka. Sayangnya, Kara hanya punya satu pilihan. Bungkam.
"Kamu nggak berpamitan ke is ... mantan istrimu maksudnya." Kara diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. Jujur saja, ia kesal saat paruh baya itu meralat kalimat terakhir tadi. Kara belum ikhlas, Tuhan! Rasanya ia ingin menjerit andai tak malu pada badannya yang gagah perkasa.
Tapi kalau dipikir-pikir, ucapan papanya membuat Kara termotivasi. Seharusnya ia modus berpamitan pada mantan istrinya itu, sembari memeluk sejenak, menghirup aroma tubuhnya, dan ... stop! Pikiran Kara teramat liar. Ia menggelengkan kepala berkali-kali agar pikirannya waras, dan malah disalahtanggapi oleh papanya.
"Ya sudah kalau nggak mau. Papa sama Mama mau ke dalam, mau pamitan."
Kara seketika tersadar. Ia menatap papanya tak ikhlas. Tatapannya kemudian ia lemparkan ke arah gedung pengadilan, berharap bisa menembus dinding dan melihat Erika dengan leluasa. Eh, kali ini keberuntungan lagi berpihak padanya. Ia melihat wanita itu berdiri berjarak beberapa meter darinya.
"Kara, Ayo. Sana Erika." Keberadaan Erika ternyata disadari kedua orang tua Kara juga. Papanya memberi kode dengan menyenggol siku Kara, sementara sang mama sudah berjalan mendekat ke Erika tanpa berpamitan.
Kara menghela napas. "Papa saja yang ke sana." Seketika rasa sadar diri memukul telak isi pikiran Kara. Wanita itu pasti tak ingin bertemu dengannya.
"Ya sudah. Papa ke sana dulu bentar. Kamu tunggu sini. Pulang barenga aja, mobilmu minta tolong ke Pak Sobri aja buat bawa balik. Takutnya bukannya pulang kamu malah singgah di jembatan." Kara berdecak pelan mendengar ucapan papanya.
Beberapa waktu Kara hanya melihat interaksi antara orang tuanya dan juga Erika. Kedua paruh baya itu sangat menyayangi Erika. Kara paham, besar rasa kecewa yang mereka rasakan karena rumah tangganya berakhir seperti ini. Bedanya, sang papa bisa menyembunyikan hal itu karena paham bahwa apa yang ia lakukan pasti sudah dengan pertimbangan matang. Sementara sang ibu, lihat saja sana, ia bahkan hanya menyemangati Erika yang tengah bahagia dibandingkan anaknya yang tengah nelangsa ini.
Hampir lima belas menit menunggu, dua paruh baya itu akhirnya kembali. Sekali lagi matanya menatap ke arah Erika, dan ... kali ini mata mereka bertemu. Jantungnya masih berdebar sama kencangnya seperti saat ia memandang Erika pertama kali. Kenangan itu terputar otomatis di kepala Kara. Namun, menghilang seketika saat Erika malah memutus tatap dan memilih menunduk. Kara kecewa. Ternyata wanita itu benar-benar tak Sudi lagi menatapnya. Bahkan mungkin ujung sepatu itu lebih bermakna dibanding wajahnya yang bikin muak, begitulah pemikiran pria itu.