Arga tidak tahu harus bagaimana, dia akan pergi makan malam dengan istri dan anaknya atau dia akan pergi ke apartemen Aina. Dari tadi ponsel Arga terus berdering. Nama Yungki muncul dengan jelas dilayar ponsel Arga. Arga semakin kalut. Apalagi melihat Sovia yang semakin dingin tatapannya saat melihat nama Yungki di layar ponselnya. “Sana pergi, aku bisa membahasiakan anak-anakku tanpa kamu, Mas!” Sovia mengambil tasnya lalu keluar dari kamarnya. “Sovia tunggu!” Arga mencekal tangan Sovia yang sudah di ambang pintu. Sovia kembali masuk, menutup pintunya, lalu berjalan menjauhi pintu dengan menarik tangan Arga. Sovia benar-benar kesal, marah, muak, pada suaminya. Tidak pernah Sovia sangka kalau Arga akan bermain api di belakangnya, setelah Sovia sudah sangat mencintainya. Mungkin ini kar