bc

CINTA vs TAKDIR

book_age12+
70
IKUTI
1K
BACA
HE
friends to lovers
drama
bxg
lighthearted
brilliant
campus
city
highschool
like
intro-logo
Uraian

Kenzy — remaja tampan berwajah tegas, tinggi tegap, tubuh berotot terlatih sempurna. Ia adalah atlet MMA juara bertahan tingkat nasional, rambutnya terpotong gaya serigala yang menjadi ciri khasnya. Di pelipis kirinya, ada bekas luka berbentuk BINTANG — unik, tak seperti luka biasa, dan selalu terlihat jelas saat rambutnya terurai bebas. Punggungnya pun tegap dan berotot, dengan sikap tubuh yang khas dan tak dapat disamakan.

Suatu hari, ia membela seorang gadis yang dibully. Gadis itu gemuk, wajahnya penuh jerawat, tampilannya memprihatinkan. Kenzy datang menolong dengan wajah tertutup masker. Gadis itu tak sempat melihat wajahnya — yang ia ingat hanyalah rambut serigala, sekelebat luka berbentuk bintang di pelipis kiri, serta punggung tegap dan kokohnya saat Kenzy berdiri membelanya. Sebelum gadis sempat bersyukur, Kenzy telah pergi.

Karena kejadian itu, Kenzy diusir dari sekolah. Sadar tak ingin lagi membuat orang tuanya sedih, ia pindah ke kota lain dan bertobat. Ia membiarkan rambutnya tumbuh berponi rapi — menutupi sempurna luka berbentuk bintang itu — memakai kacamata tebal, dan menyamar menjadi pemuda culun yang pendiam. Selama satu tahun penuh ia menahan amarah, belajar dengan tekun demi masa depan yang lebih baik.

Tak disangka, saat masuk universitas, mereka kembali bertemu. Gadis yang dulu ia tolong kini telah berubah luar biasa — langsing, cantik jelita, bersinar. Namun rambut poni yang menutupi lukanya dan kacamata tebal membuat Kenzy tak dikenali.

Namun saat gadis itu melihat punggung Kenzy — ia tertegun. Postur tubuh, tegap dan kokohnya punggung itu... persis seperti orang yang menolongnya dulu! Hatinya berdebar, namun saat Kenzy berbalik — rambut poni, kacamata tebal, penampilan yang sederhana... gadis itu menggeleng pelan. "Tidak mungkin... orang itu tidak berkacamata, tidak berambut poni..."

Meski begitu, gadis itu tetap merasa tertarik dan ingin berterima kasih. Ia tetap mendekati Kenzy, tetap bersikap baik dan ramah — bahkan saat teman-temannya menghina dan merendahkan Kenzy, gadis itu tak ikut serta. Ia tetap berdiri di sampingnya, menjadi teman yang tulus, meski dalam hatinya terus bingung: mengapa punggung pemuda culun ini begitu mirip dengan pahlawan yang menyelamatkannya dulu?

Satu kampus, satu jurusan, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun keduanya tak tahu — bahwa di balik rambut poni itu tersembunyi luka berbentuk bintang yang kelak akan membongkar seluruh rahasia takdir mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Langit sore itu tampak kelabu, seolah turut merasakan getirnya kenyataan yang sedang menimpa seorang gadis di sudut halaman belakang sekolah. Di sana, di antara tumpukan sampah dan dahan kering, Rania duduk meringkuk. Tubuhnya yang gemuk terasa semakin berat menahan rasa sakit — bukan hanya di kulit, melainkan jauh lebih dalam, di hatinya. Wajahnya yang kemerahan penuh jerawat kini basah oleh air mata, membuat kulitnya terasa perih dan panas. Di hadapannya berdiri tiga orang siswi, tertawa lepas seolah melihat penderitaan orang lain adalah hiburan termanis bagi mereka. Salah seorang dari mereka maju, mengangkat tangan hendak mendorong Rania jatuh ke tanah yang kotor. Tepat saat itu, sebuah suara berat terdengar — tenang namun penuh tekanan, seketika membekukan suasana. "Jangan sentuh dia." Di sana, berdiri seorang pemuda yang tingginya menjulang, tubuh tegap berbalut seragam yang tampak sedikit kekecilan. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan lengan yang terlihat mengencang memperlihatkan otot-otot terlatih dengan sempurna. Wajahnya tegas, rahangnya tegas, sepasang mata yang tajam menatap tajam ke arah ketiga siswi itu. Namun yang paling menarik perhatian adalah rambutnya — terpotong gaya serigala, ujung-ujungnya meruncing dan berantakan namun tampak gagah, membingkai wajahnya yang tampan namun dingin. Di pelipis kirinya, terlihat jelas seberkas bekas luka berbentuk bintang — unik, tak seperti luka biasa yang acak bentuknya. Garis-garis halus itu menyatu membentuk bintang ber segi lima, tampak samar namun tak mungkin terlupakan oleh siapa pun yang melihatnya. Pemuda itu melangkah maju, berdiri di antara ketiga siswi dan Rania. Wajahnya tertutup sebagian oleh masker kain yang ia pakai, hanya menyisakan sepasang mata tajam dan bagian dahi serta pelipisnya yang terlihat jelas. "Pergi dari sini. Sebelum aku kehilangan kesabaran." ucapnya lagi. Kali ini nada suaranya sedikit lebih rendah, namun tegas dan menggetarkan. Ketiga siswi itu mundur perlahan, ngeri menatap mata pemuda itu yang menyala dingin. Namun salah satu dari mereka yang berbadan besar dan berani, bukannya takut, malah mencengkeram kerikil tajam dan berlari menerjang Kenzy hendak melukainya. Kenzy mengelak sekejap mata, lalu dengan satu gerakan tangan — ia menepis pelan bahu siswi itu. Hanya satu tepisan. Tidak penuh amarah. Tidak bermaksud melukai. Namun tenaga di tangannya adalah tenaga atlet MMA tingkat nasional. Siswi itu terpelanting sekuat tenaga, jatuh membentur tumpukan batu bata di pinggir halaman. Suara benturan itu nyaring dan mengerikan. Darah seketika mengucur deras dari kepalanya. Segalanya terjadi dalam sekejap mata. Kenzy tertegun. Ia tidak bermaksud sekeras itu. Namun terlambat. Siswi itu terbaring tak sadarkan diri. Keributan itu didengar guru yang lewat. Tak lama kemudian, ambulans datang. Siswi itu harus dibawa ke rumah sakit dan menjalani jahitan di kepala. Rania perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap punggung pemuda itu — lebar, kokoh, tegap dan gagah. Punggung yang tampak begitu kuat, seolah mampu menahan segala beban dunia sekalipun. Postur tubuhnya begitu khas, begitu tegap, tak akan terlupakan begitu saja oleh siapa pun yang melihatnya. Rania menatap lekat-lekat punggung itu, menyimpannya dalam ingatannya sekuat tenaga. Lalu pandangannya beralih ke samping, saat pemuda itu sedikit menoleh... dan sekelebat rambut serigala serta bekas luka berbentuk bintang di pelipis kirinya terlihat sejenak. Itu saja. Hanya itu yang Rania sempat lihat. Wajahnya tertutup masker, dan sebelum Rania sempat membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, pemuda itu berbalik perlahan. Langkah kakinya mantap, menjauh... dan tak lama kemudian ia telah hilang dari pandangan. "Tunggu..." panggil Rania lemah, suaranya nyaris tak terdengar. Ia hendak berdiri, hendak mengejar, namun kakinya terasa lemas. Dan pemuda itu telah pergi. Hanya punggung tegapnya, rambut serigalanya, serta seberkas luka berbentuk bintang di pelipis kirinya... itulah satu-satunya hal yang tersisa dalam ingatan Rania. Satu-satunya jejak dari pahlawan yang entah dari mana datangnya, dan entah ke mana perginya. Hari itu juga, Kenzy dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Suasana di sana dingin dan penuh kemarahan. "Kenzy! Kau tahu siapa ayah siswi yang kau pukul itu?!" Kepala Sekolah menatapnya gemetar. "Dia pengusaha paling berpengaruh di kota ini! Ia menuntut pengusulanmu keluar dari sekolah! Bahkan menyebarkan berita ke semua SMA di kota ini agar tidak ada yang menerimamu!" Kenzy mengatupkan rahang. Ia diam. Ia tidak bermaksud melukai seberat itu. Namun kenyataannya, tangannya yang terlatih MMA telah melukai orang lain hingga berdarah. "Kami tidak bisa melindungimu lagi!" lanjut Kepala Sekolah dengan nada kecewa. "Seluruh sekolah di kota ini sudah menerima peringatan. Tidak ada yang berani menerimamu. Kau harus pergi hari ini!" Saat pulang membawa surat keputusan pengusiran, wajah kedua orang tuanya pucat pasi. Ayahnya mendatangi sekolah demi sekolah memohon agar putranya diberi kesempatan. Namun setiap pintu tertutup rapat. Nama Kenzy sudah tercatat sebagai siswa yang "berbahaya" dan "diburu pihak berwenang". Tidak ada kepala sekolah yang berani mengambil risiko menentang kekuasaan ayah siswi itu. Melihat ayahnya pulang dengan wajah lelah dan mata merah menahan tangis... melihat ibunya duduk termenung sambil menyeka air mata... hati Kenzy terasa seperti diremas hancur. Cukup, batinnya bergetar. Cukup sudah mereka menderita karena aku. Malam itu Kenzy duduk sendirian di tepi tempat tidurnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut serigalanya yang menjadi kebanggaannya... bekas luka berbentuk bintang di pelipis kirinya... tubuh atletis yang ia bangun dengan keringat dan latihan keras demi MMA... Namun semua itu... ternyata hanya menyakiti orang-orang yang dicintainya. Ia memutuskan untuk pergi. Pindah ke kota lain. Tempat di mana tak ada yang mengenalnya. Tempat di mana nama keluarganya tidak tercemar. Tempat di mana ia bisa memulai hidup baru — bukan sebagai atlet MMA yang jago berkelahi, melainkan sebagai pemuda biasa yang belajar tekun demi membanggakan kedua orang tuanya. Esok harinya, sebelum berangkat ke kota yang jauh itu, Kenzy mengambil keputusan yang mengubah segalanya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, lalu merapikannya berponi tebal — menutupi sempurna pelipis kirinya beserta bekas luka berbentuk bintang itu. Lalu ia membeli sepasang kacamata bingkai tebal berwarna hitam, memakainya hingga menutupi sebagian wajahnya. Saat ia kembali menatap cermin... yang terpantul bukan lagi pemuda gagah berambut serigala dengan tatapan tajam. Yang terlihat adalah seorang pemuda berpenampilan sederhana, berkacamata tebal, berambut poni yang menutupi sebagian dahi. Tampak biasa saja. Bahkan terlihat agak culun dan tertutup. "Mulai hari ini... aku bukan lagi Kenzy yang dulu," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Aku akan belajar. Aku akan diam. Aku tidak akan berkelahi, apa pun yang terjadi. Demi Ayah dan Ibu." Dan dengan tekad yang membaja di dadanya, Kenzy berangkat meninggalkan kotanya. Meninggalkan masa lalunya. Menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya. Satu tahun berlalu begitu cepat. Hari itu adalah hari pertama mereka memasuki gerbang Universitas Negeri Mahardika — salah satu perguruan tinggi terbaik di kota itu. Ribuan mahasiswa baru berdatangan, tampak bersemangat dan penuh harapan. Di antara kerumunan itu, ada dua sosok yang tak disangka-sangka akan kembali bertemu di tempat yang sama. Yang pertama adalah Kenzy. Rambutnya kini tumbuh berponi rapi menutupi pelipis kirinya, kacamata tebal masih bertengger di hidungnya. Ia mengenakan pakaian sederhana, tas punggung yang tak terlalu besar tersampir di bahunya. Langkah kakinya tenang, pandangannya tertunduk sedikit. Selama satu tahun penuh di kota ini, ia telah menahan diri. Tak sekali pun ia mengangkat tangan kepada siapa pun. Sekalipun sering dihina, didorong, diperlakukan kasar... ia tetap menunduk, tetap diam, tetap bersabar. Demi janjinya. Demi kedua orang tuanya. Demi masa depan. Namun di balik penampilan sederhana itu, tubuhnya tetap tegap dan kokoh. Postur tubuhnya yang tinggi dan bahunya yang lebar tak bisa sepenuhnya disembunyikan, sekalipun ia berusaha berdiri sedatar mungkin dengan orang lain. Dan yang kedua adalah Rania. Tak ada yang akan menyangka bahwa gadis cantik jelita yang melanggar anggun di antara kerumunan itu adalah gadis yang dulu gemuk dan penuh jerawat. Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah seseorang secara menyeluruh. Tubuhnya kini langsing proporsional, wajahnya bersih bersinar, kulitnya halus dan cerah. Senyumnya tulus dan manis, matanya bersinar lembut. Namun yang paling berharga dari perubahan itu bukanlah kecantikannya — melainkan hatinya yang tetap sama. Tetap tulus. Tetap baik. Tetap lembut. Langkah kakinya terhenti seketika. Dari kejauhan, di antara lautan mahasiswa baru, pandangan Rania tertuju pada satu sosok yang berdiri sendirian di bawah pohon rindang. Punggungnya... postur tubuhnya... bahunya yang lebar dan tegap... Jantung Rania seketika berdegup kencang. Punggung itu... kokoh, tegap, gagah... persis seperti punggung yang ia lihat hari itu! Persis seperti punggung orang yang berdiri membelanya saat semua orang menghinanya! Punggung yang begitu kuat, begitu aman, begitu tak terlupakan! Rania melangkah mendekat, napasnya sedikit tertahan. Hatinya berdebar semakin kencang seiring semakin dekat ia berdiri dengan pemuda itu. "Permisi..." panggilnya pelan. Kenzy berbalik perlahan. Wajahnya tampak jelas di hadapan Rania... secercah harapan yang tadi sempat menyala di hatinya seketika meredup. Pemuda itu mengenakan kacamata tebal yang membuat matanya tampak kecil. Rambutnya berponi rapi menutupi dahi dan pelipisnya. Penampilannya sederhana, bahkan terlihat agak culun dan tertutup. Tatapannya tenang namun tak memiliki ketajaman yang Rania ingat. Bukan dia, batinnya kecewa. Pahlawannya tak berkacamata. Tak berambut poni. Wajahnya... pahlawannya tampan dan gagah, bukan pemuda sederhana yang tampak sepi dan tertutup seperti ini. Namun punggungnya... postur tubuhnya... persis sama. "Ada yang bisa dibantu?" suara Kenzy lembut, tak seberat suara yang masih tersimpan dalam ingatan Rania. "Maaf... sepertinya salah orang," Rania tersenyum tulus. "Namun kita ternyata satu jurusan. Namaku Rania." "Kenzy." jawabnya singkat, lalu sedikit menunduk. Sejak hari itu, Rania selalu mendekati Kenzy. Entah mengapa hatinya terus tertarik pada pemuda itu. Ia ingin berterima kasih kepada orang yang telah menolongnya dulu, dan sekalipun ia yakin Kenzy bukan orang itu... ia tetap merasa ingin berbuat baik kepadanya. Ingin menemaninya. Ingin membalas kebaikan yang pernah diterimanya, meskipun kepada orang yang salah — atau mungkin belum pasti benar. Namun orang-orang di sekitar Rania tak memahami hal itu. "Hei Rania! Mengapa kau terus bersama pemuda culun itu?" tanya teman-temannya suatu hari saat mereka berjalan bersama menuju perpustakaan. "Lihat penampilannya! Berponi, berkacamata tebal, diam saja... tidak ada apa-apanya! Kau cantik dan pintar, jangan dirusak pergaulanmu dengan dia!" Rania berhenti melangkah. Ia menatap teman-temannya dengan pandangan tenang namun tegas. "Kalian tidak boleh menghinanya," ucap Rania lembut namun mantap. "Penampilan bukan segalanya. Selama dia baik dan tidak menyakiti siapa pun, dia pantas dihargai seperti kita semua." "Tapi dia..." "Cukup," potong Rania. "Jika kalian tidak mau berteman dengannya, silakan pergi. Tapi aku akan tetap berjalan bersamanya." Dan dengan begitu, Rania kembali melangkah di samping Kenzy. Di samping pemuda yang diam saja, tak bersuara, tak membela diri saat dihina. Rania menatapnya sekilas dan tersenyum lembut. "Jangan dipikirkan," ucap Rania pelan. "Bagiku, kau tetap teman yang baik." Kenzy menatap gadis itu. Di dalam hatinya, ada rasa hangat yang perlahan menjalar. Selama satu tahun menyamar, selama ia dihina dan diabaikan... belum pernah ada orang yang berdiri di sisinya dan membela seperti ini. Belum pernah ada yang tersenyum tulus kepadanya sekalipun semua orang menjauh. Dan di sisi lain, setiap kali melihat punggung Kenzy... setiap kali melihat cara ia berjalan, cara ia berdiri... hati Rania kembali berdebar. Sekilas terbayang rambut serigala dan seberkas luka berbentuk bintang itu. Namun saat Kenzy berbalik... hanya poni dan kacamata yang tampak. Tidak mungkin, batin Rania. Itu bukan dia. Namun mengapa hatinya merasa begitu dekat? Mengapa punggung itu begitu tak terlupakan? Mengapa setiap kali melihat punggungnya, ia merasa aman... seolah-olah pahlawannya itu sedang berjalan di sampingnya? Satu kampus, satu jurusan, dan kini mulai berjalan berdampingan. Mereka belum tahu. Bahwa di balik rambut poni yang menutupi pelipis itu... tersembunyi luka berbentuk bintang yang kelak akan membongkar seluruh rahasia takdir mereka. Bahwa punggung yang dikenali Rania... adalah punggung yang sama yang membelanya hari itu. Bahwa pemuda culun yang berjalan di sampingnya... adalah pahlawan yang selama ini ia cari dan ingin ucapkan terima kasih. Dan benih cinta itu... perlahan tumbuh, tanpa mereka sadari, di antara rahasia yang masih tersembunyi di balik sepasang kacamata tebal dan sehelai rambut poni yang menutupi bintang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook