BAB 9

1258 Kata
Hari-hari berlalu dengan pola yang menyakitkan. Setiap kali Rania bersama Kenzy, teman-temannya — Sari, Dinda, dan Maya — selalu punya komentar tajam. Cukup pelan agar Kenzy tidak mendengar, tapi cukup keras untuk menusuk hati Rania. "Lihat deh, dia selalu menunduk kayak orang takut dilihat," bisik Sari suatu siang saat Kenzy berjalan mendekat. "Pasti di balik rambut itu ada sesuatu yang mengerikan," tambah Dinda sambil tertawa sinis. "Ran, kamu serius sama dia? Nanti kalau dia buka rambutnya ternyata wajahnya cacat, jangan kaget ya," timpal Maya. Rania menggenggam tangannya erat-erat, menahan amarah yang meluap. Ia ingin berteriak, ingin membela Kenzy sampai habis. Tapi ia tahu — belum waktunya. Kenzy belum siap. Dan ia tidak akan mengkhianati kepercayaan pemuda itu demi memuaskan rasa ingin tahu mereka. "Kalian akan menyesal pernah berkata begitu," ucap Rania dingin, lalu berjalan meninggalkan mereka menuju Kenzy. Sari dan yang lainnya saling pandang, lalu tertawa meremehkan. "Lihat saja nanti. Dia akan kecewa juga pada akhirnya." Sore itu, di bangku taman, Rania duduk di samping Kenzy dalam diam. Kenzy menyadari perubahan suasana segera. "Mereka lagi, kan?" tanyanya lembut, tidak menatap Rania. Rania mengangguk pelan. "Mereka tidak tahu apa-apa. Dan mereka berani menilai." "Biarkan saja," kata Kenzy tenang, namun ada kesedihan di matanya. "Aku sudah terbiasa. Sejak di kotaku dulu. Orang melihat apa yang terlihat — pakaian sederhana, rambut yang menutupi sisi wajah, sikap yang pendiam. Dan mereka langsung menyimpulkan semuanya. Bahwa aku cupu. Bahwa aku lemah. Bahwa aku jelek. Tidak ada yang pernah bertanya kenapa. Tidak ada yang pernah peduli." Rania menatapnya lekat-lekat. "Aku peduli." Kenzy menoleh, dan tatapannya begitu dalam seakan ingin menghafal setiap inci wajah Rania. "Aku tahu. Dan itu sebabnya aku masih bertahan. Karena ada satu orang yang melihatku, bukan apa yang terlihat." Hati Rania berdebar kencang. Kata-kata itu begitu tulus, begitu murni. Dan di saat itu, ia tahu — ia harus mencoba. Harus menanyakan sesuatu yang selama ini tertahan di tenggorokannya. Tidak langsung, tidak menakutkan, tapi cukup untuk melihat reaksinya. "Kenzy..." mulainya pelan, berhati-hati. "Pernahkah kau melakukan sesuatu yang berani? Sesuatu yang kau tidak pernah ceritakan pada siapa pun? Mungkin... menolong seseorang saat tidak ada orang lain yang berani?" Kenzy terdiam. Ia menatap Rania dengan bingung, seakan pertanyaan itu datang dari mana saja. "Menolong?" ulangnya pelan. "Maksudmu bagaimana?" "Misalnya... seseorang dalam bahaya," jawab Rania, jantungnya berdegup kencang. "Dan kau sendirian. Tidak ada yang tahu. Dan kau tidak pernah menceritakannya pada siapa pun setelah itu." Kenzy diam sejenak, berpikir. Lalu ia menggeleng perlahan. "Sejujurnya... tidak. Setidaknya tidak yang kau maksud. Aku bukan pahlawan, Rania. Aku hanya pemuda yang berusaha tidak menyakiti siapa pun. Kadang aku berharap bisa menjadi pahlawan untuk seseorang... tapi kenyataannya, aku justru yang selalu disalahkan." Rania menelan ludah. Hatinya terasa berat. Apakah dia benar-benar tidak tahu? Atau apakah kejadian itu begitu biasa baginya sehingga ia tidak menganggapnya sesuatu yang istimewa? Atau... apakah ia salah orang setelah semua ini? "Maaf," ucap Kenzy lembut, melihat wajah Rania yang berubah kecewa. "Apakah kau berharap aku pernah melakukan hal seperti itu?" "Tidak... bukan begitu," jawab Rania buru-buru. "Aku hanya... bertanya saja. Terkadang kita tidak tahu seberapa berani seseorang sampai kita melihatnya." Kenzy tersenyum sedih. "Kalau begitu, mungkin aku belum cukup berani. Setidaknya belum saat ini. Aku masih berusaha berani untuk hal-hal kecil — seperti duduk di sini bersamamu, seperti tidak peduli pada tatapan mereka. Itu sudah cukup sulit bagiku." Rania merasa bersalah. Ia seharusnya tidak menekannya. Kenzy sedang berjuang dengan masa lalunya sendiri — pengusiran, tuduhan, rasa bersalah pada orang tuanya. Dan ia justru menambah beban dengan pertanyaan yang belum siap ia jawab. "Maaf," bisik Rania. "Aku tidak bermaksud menekanmu. Lupakan saja pertanyaanku." "Tidak apa-apa," jawab Kenzy lembut. "Aku hanya... tidak punya cerita hebat untuk diceritakan. Ceritaku penuh dengan kesalahan dan penyesalan, bukan dengan keberanian." Malam itu, Rania menulis di buku hariannya: Hari ini aku bertanya. Secara halus, tanpa menyebutkan detail apa pun. Dan Kenzy sepenuhnya tidak mengerti. Dia bilang dia bukan pahlawan. Dia bilang dia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Apakah dia berbohong? Atau apakah dia benar-benar tidak tahu? Apakah dia tidak menyadari bahwa kejadian itu adalah hal yang paling berani yang pernah seseorang lakukan? Atau... apakah aku salah? Apakah tanda bintang itu kebetulan? Apakah aku mencari di tempat yang salah? Tapi bagaimana mungkin kebetulan? Bentuk itu, letak itu, ukuran itu — terlalu spesifik. Dan tatapan Kenzy saat aku bertanya... sungguh bingung. Tidak pura-pura. Dia benar-benar tidak tahu. Tapi tidak tahu apa-apa? Tidak tahu bahwa aku gadis itu? Atau tidak tahu bahwa tindakannya itu berarti bagiku? Mungkin dia memang tidak tahu siapa yang dia tolong. Mungkin dia tidak pernah melihat wajahku. Mungkin baginya itu sekadar kejadian lewat — sesuatu yang dia lakukan tanpa berpikir dua kali. Dan sekarang, saat aku bertanya tanpa detail, dia tidak menyambungkan keduanya. Lalu bagaimana caranya agar dia tahu tanpa menakutinya? Bagaimana caranya menyatukan dua potong teka-teki ini tanpa merusak apa yang sudah kita bangun? Beberapa hari kemudian, ejekan teman-temannya mencapai puncaknya. Saat Rania berjalan menuju gerbang kampus bersama Kenzy, Sari, Dinda, dan Maya berdiri di dekat sana, cukup jelas terlihat. "Ayo lah Ran, jangan malu-malu," seru Sari dengan nada sarkas. "Perkenalkan pacarmu pada kami! Atau dia terlalu malu menunjukkan wajahnya yang utuh?" Dinda tertawa keras. "Mungkin dia takut kalau buka rambutnya, kamu akan lari ketakutan! Kan banyak orang menyembunyikan cacat karena tidak mau ditinggalkan!" Rania berhenti berjalan. Wajahnya memerah karena marah. Ia hendak membalas tajam, namun Kenzy menahan lengannya. "Jangan," bisik Kenzy pelan. "Tidak sepadan." "Tapi mereka berlebihan!" desis Rania. "Aku tahu," jawab Kenzy tenang, namun ada getaran di suaranya. "Tapi marah hanya membuat mereka makin senang. Biarkan mereka bicara. Suatu hari nanti... kebenaran akan bicara sendiri." Kenzy menatap ketiga gadis itu dengan tenang — tidak merendah, tidak menantang, hanya tenang. Namun di kedalaman matanya, ada sesuatu yang membuat mereka terdiam sejenak. Sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan, tapi membuat mereka merasa kecil. "Ayo pergi," kata Kenzy lembut pada Rania, lalu berjalan tenang melewati mereka. Sari, Dinda, dan Maya terdiam, menatap punggung Kenzy yang berjalan tegak. Untuk sesaat, mereka merasa seakan mereka yang sedang dihakimi. Tapi perasaan itu cepat hilang, digantikan oleh ketidaksukaan yang semakin dalam. "Lihat saja nanti," gumam Dinda. "Suatu hari nanti dia akan jatuh. Dan saat itu terjadi, Rania akan tahu siapa dia sebenarnya." Saat mereka sudah jauh dari gerbang, Rania menatap Kenzy dengan kagum. "Kau begitu tenang," ucapnya pelan. "Padahal mereka menghina habis-habisan." Kenzy menghela napas panjang. "Aku sudah belajar satu hal, Rania. Ketenangan adalah s*****a terbaik mereka tidak bisa melawannya. Dan... aku tahu sesuatu yang mereka tidak tahu." "Apa itu?" tanya Rania penasaran. Bahwa suatu hari nanti, aku akan cukup berani untuk membuka segalanya. Dan saat itu tiba... mereka akan melihat siapa aku sebenarnya. Dan aku tidak perlu berkata apa pun. Tatapan mereka akan menjawab semuanya. Rania menatapnya, jantungnya berdebar kencang. Dia tidak menyebutkan pahlawan. Tidak menyebutkan kejadian menolong itu. Tapi dia menyebutkan sesuatu yang lain — pembukaan. Saat dia siap membuka segalanya. Dan Rania tahu — saat hari itu datang, bukan hanya teman-temannya yang akan melongo. Rania juga akan tahu jawaban atas semua pertanyaannya. "Tunggu saja sampai hari itu," bisik Rania pada dirinya sendiri. "Tunggu saja." Ia baru saja hendak berbalik pergi, ketika Kenzy tiba-tiba berhenti melangkah. Tubuhnya menegang. Di kejauhan, di balik deretan pohon di pinggir jalan, ada sesosok bayangan yang berdiri diam — menatap tepat ke arah mereka. Kenzy tidak menoleh ke Rania. Suaranya berat, hampir berbisik. "Rania... sebaiknya kamu pulang sekarang." "Kenapa? Siapa itu?" tanya Rania, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Kenzy melangkah maju, memisahkan diri dari Rania. Punggungnya terlihat kaku, siap menghadapi apa pun yang datang. "Karena orang yang datang ini..." suara Kenzy terdengar bergetar, "...dia tahu siapa aku sebenarnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN