Baru kali ini Arunika duduk cukup lama di satu tempat bersama Mahadewan tanpa perdebatan yang meledak-ledak. Bangku taman di bawah pohon itu terasa asing baginya, terlebih dengan suasana malam yang lembap dan sunyi. Lampu taman memantulkan cahaya kekuningan yang lembut, membuat bayangan mereka jatuh samar di atas tanah. Mahadewan yang biasanya berdiri atau berjalan dengan tegas, kini duduk diam di sampingnya. Rokok di tangannya sudah tidak ada lagi, digantikan permen yang ia kunyah pelan, seolah mencoba menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kebiasaan. “Dulu… saya punya seseorang,” ucap Mahadewan tiba-tiba, tanpa menoleh. Arunika sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria itu akan membuka percakapan seperti ini. Ia hanya diam, menunggu. Mahadewan melanjutkan dengan suara yang tetap data

