Bab 1.Menolak Tapi Tak Rela
"Kak Leo … aku menyukaimu." Rahang Leonardi mengeras saat Amelia mengatakan itu.
"Jangan membuatku tertawa dengan lelucon konyolmu itu, Amelia. Bagiku kamu itu tidak lebih dari sebatas adik, meskipun kita berdua tidak ada ikatan darah," ucap Leonardi dengan nada dingin.
Amelia menunduk sejenak saat mendengarnya, setelah menghembuskan napas berkali-kali dia mendongak. Dengan menahan sesak yang ada di dalam d**a gadis itu berkata. "Aku tahu ini salah, tapi aku menyukaimu, Kak."
Leonardi terdiam sembari menatap tajam Amelia, keduanya larut dalam keheningan. Beberapa saat kemudian Leonardi meledakkan tawanya. Tawa yang terkesan dingin dan sinis.
"Kamu serius mengatakan itu? Kamu pikir aku akan tertarik denganmu, Amelia? Jangan pernah bermimpi!"
"Kak Leo, aku … aku hanya ingin Kakak tahu perasaanku, Hanya itu." Amelia berbicara dengan suara bergetar bahkan matanya mulai berkaca-kaca.
"Dengar Amelia! Jangan pernah mengatakan hal konyol seperti ini lagi. Aku tidak pernah melihatmu sebagai seorang wanita. Bagiku kamu hanya adik kecil. Camkan itu! Tapi sayangnya adik kecil yang dulu manis sekarang mulai merepotkanku," ucap Leonardi, masih memasang wajah dengan dingin.
Amelia hanya terdiam, dia tak sanggup untuk bersuara. Tenggorokannya terasa tercekat. Menghadapi Leonardi yang sinis tak pernah ada di dalam agenda Amelia selama hidupnya.
"Lagipula kamu itu bukan tipe wanita yang kuinginkan. Kamu tidak seseksi para wanita yang aku kencani selama ini," ucap Leonardi tanpa perasaan.
Jantung Amelia serasa ditikam sembilu saat mendengar penghinaan dari mulut pria yang dia cintai. Sakit tapi tak berdarah! Itulah gambaran perasaan Amelia saat ini.
"Cukup, Kak. Kakak tidak perlu menghinaku seperti ini kalau tidak menyukaiku," sahut Amelia dengan air mata yang menetes deras.
"Aku sengaja mengatakan itu supaya kamu tidak bermimpi terlalu jauh."
Setelah mengatakan kalimat kejam itu Leonardi berlalu meninggalkan Amelia yang terpaku, hatinya begitu sakit dan hancur berkeping-keping.
Untung saja kedua orang tua mereka sedang berada di Jepang dan baru akan pulang sekitar 5 minggu kemudian, jadi Amelia tidak perlu menjelaskan suasana canggung yang mungkin terjadi di antara dirinya dan Leonardi.
Dengan langkah gontai Amelia melangkah ke lantai 2, di mana kamarnya dan Leonardi bersebelahan. Amelia mengunci pintu kamar dan langsung menuju ke balkon. Tangisnya pun pecah tak lama kemudian.
Seandainya bisa memilih, Amelia pasti akan memilih untuk jatuh cinta dengan pria lain dan melupakan rasa cintanya kepada Leonardi selama 10 tahun terakhir.
Tanpa Amelia tahu, Leonardi berdiri di balik dinding yang memisahkan balkon kamarnya dan Amelia. Sembari mendengarkan raungan Amelia sembari menatap langit yang semakin diselimuti awan gelap yang pekat.
Raut wajahnya minim ekspresi sehingga tidak ada orang yang dapat menebak jalan pikirannya.
***
Setelah malam itu hubungan Amelia dan Leonardi menjadi semakin canggung serta renggang. Amelia menyadari meskipun sakit, dia harus dapat mengubur perasaannya kepada Leonardi dalam-dalam.
Seakan ingin menegaskan jarak antara dirinya dan Amelia, Leonardi kerap membawa wanita yang berbeda setiap bulannya. Pria itu seolah sengaja menunjukkan kepada Amelia bahwa Leonardi bisa memiliki siapa saja, kecuali dirinya.
Sore itu Amelia baru saja pulang kerja saat melihat Leonardi berada di ruang tamu bersama seorang wanita cantik. Wanita itu tertawa kecil, tangan Leonardi bahkan dengan santai melingkar di pundaknya dan mereka terlihat sangat dekat.
Amelia berdiri sebentar, menyaksikan kemesraan itu dari balik pintu sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang hancur.
Di kamarnya Amelia merenungkan semua yang telah terjadi. Dia menyadari, jika terus seperti ini hanya akan membuatnya semakin terluka semakin dalam. Akhirnya Amelia memutuskan untuk mulai membuka hati dan mengenal pria lain. Hidupnya tidak terfokus dengan Leonardi saja, Bukan?"
Tak lama kemudian bunyi notifikasi pesan membuat Amelia mengalihkan perhatiannya kepada benda pipih itu. Senyumnya melebar saat mengetahui siapa sang pengirim pesan itu. Masih tersenyum lebar Amelia membalas pesan itu dan tidak menyadari jika waktu sudah bergulir dengan cepat.
Rina-ibu Amelia yang baru saja pulang dari kantor memanggil sang putri untuk makan malam bersama. Gadis itu meletakkan ponselnya ke atas nakas lalu keluar kamar menyusul Rina.
Saat makan malam, Amelia tak melihat sesosok wanita cantik yang tadi bersama dengan Leonardi. Tak lama Amelia menyadari jika itu bukan urusannya.
Gadis itu kembali menyunggingkan senyum saat mengingat obrolannya melalui pesan dengan salah seorang rekan pria dikantornya.
"Amelia, kamu kelihatan ceria malam ini. Ada kabar baik apa?" tanya Rina saat melihat Amelia tersenyum sumringah.
"Sebenarnya, aku lagi dekat dengan teman kantor aku, Mah," jawab Amelia dengan nada antusias.
"Jadi kamu sedang dekat dengan pria dan itu teman kantormu?" tanya Leonardi dengan nada datar.
Amelia mengangguk. "Ya, kurasa tidak ada salahnya dekat dengannya."
"Itu kabar baik, Sayang. Siapa pria itu? Kenalin ke Mama, dong."
Selama ini dia khawatir jika Amelia tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Di saat usia remaja yang seharusnya diwarnai dengan cinta monyet, Amelia sama sekali tidak tertarik dengan hal itu dan memilih untuk belajar dan mengurung diri dari dunia luar.
"Namanya Raka. Dia rekan kantor aku cuma beda bagian, Mah. Raka itu staff marketing." Amelia tersipu malu saat menjawab pertanyaan Rina.
"Kapan-kapan ajak dia kemari ya. Mama mau kenalan sama yang namanya Raka itu," ucap Rina dengan nada riang.
Sementara itu di bagian meja lainnya, Leonardi terlihat tidak senang. Tanpa sepatah kata pun, dia menatap Amelia dengan tatapan dingin dan rahang yang mengeras.
Amelia yang tak sengaja bertatapan mata dengan Leonardi merasa merinding saat sorot mata pria itu seakan menembus jantungnya. Dadanya seketika terasa sesak dan gadis itu memaksakan diri untuk memutuskan kontak mata keduanya.
"Seperti apa pemuda itu?" tanya Rina yang masih membayangkan sosok pria yang akhirnya dapat membuat sang putri berpikir tentang romantisme masa muda.
"Raka itu orang yang menyenangkan, Mah. Dia bisa menghidupkan suasana. Dia juga ramah dan memiliki pergaulan yang cukup luas," ujar Amelia mendeskripsikan secara mendetail mengenai pemuda yang sedang mendekatinya.
Leonardi yang berada di bagian meja yang lain hanya dapat mengepalkan tangannya dengan erat, dia merasa kesal karena mendengar Amelia yang ternyata sedang dekat dengan pria lain. Tanpa banyak bicara dia menghabiskan makanannya lalu beranjak menuju kamarnya.
"Mah. Pah. Aku ke kamar dulu mau istirahat," ucap Amelia yang lalu tergesa menuju kamarnya.
Sementara itu Leonardi berbaring di kamarnya. Namun, pikirannya dipenuh dengan kecemburuan yang tiba-tiba muncul. Dia tidak suka membayangkan Amelia berdekatan dengan pria lain.
Leonardi tak lama menertawakan dirinya, dia sendiri yang mendorong Amelia menjauh darinya, tapi sekarang merasa kalang kabut saat mengetahui jika gadis itu sedang dekat dengan pria lain.
Dalam hati Leonardi bertekad untuk memastikan pria bernama Raka itu tidak akan pernah mendapatkan Amelia. Tidak ada yang boleh mendekati Amelia, meskipun dia tahu tidak akan dapat memiliki gadis itu.
Suara langkah kaki yang terdengar membuat Leonardi bangkit dari posisi tidurnya dia bergegas keluar dari kamarnya dan melihat Amelia yang bersiap untuk membuka pintu kamar.
"Jadi kamu menyukai pria itu?" tanya Leonardi yang membuat Amelia melepaskan tangannya dari handle pintu.
"Memangnya ada yang salah kalau aku menyukainya?" tanya Amelia yang menatap mata Leonardi dengan menantang.
Leonardi lalu mencondongkan tubuhnya hingga kedua wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Tatapan Leonardi menjadi tajam, suaranya rendah tapi penuh tekanan.
"Iya, salah. Karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu jatuh ke pelukan pria lain, Amel."