Amelia menatap langit-langit kamar, air matanya mengalir deras tanpa suara. Di tengah kehancuran hatinya, rasa marah dan putus asa bercampur menjadi satu. Perasaan yang begitu kompleks ini membuatnya merasa terperangkap tanpa jalan keluar. Leonardi yang berdiri di dekat ranjang memandang Amelia dengan ekspresi tak terbaca. Dia akhirnya berkata dengan suara dingin, "Amel, kamu milikku. Tidak peduli apa yang terjadi, kamu tetap milikku. Aku nggak peduli dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Cepat atau lambat, kamu akan menerima itu." Amelia menoleh perlahan, tatapannya penuh kepedihan dan penyesalan. Pedih karena Leonardi hanya menganggapnya sebagai b***k untuk melampiaskan hasratnya. Menyesal karena ternyata begitu mendambakan sentuhan Leonardi kepada tubuhnya. Akan tetapi, Amelia masih

