Tak lama acara pun digelar. Ruangan ballroom itu dipenuhi dengan kemewahan dan gemerlap lampu kristal yang memantulkan kilau elegan.
Para tamu berpakaian rapi, berbincang-bincang santai yang diselipi oleh pertemuan bisnis, memperluas koneksi dan semacamnya.
Di tengah panggung yang gemerlap, sepasang insan berdiri dan menjadi pusat perhatian malam ini.
Sang pria, Leonardi mengenakan jas hitam yang membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna. Ekspresinya datar, seolah semua kemeriahan di sekitarnya hanyalah latar belakang yang tak berarti.
Namun di balik sikapnya yang dingin, ada daya tarik yang tak terbantahkan, membuat semua mata tak bisa lepas darinya. Sementara di sampingnya Alena yang adalah calon tunangannya, menyunggingkan senyum lebar.
Gaun putih panjangnya semakin berkilauan ditimpa oleh cahaya lampu, tatapan matanya pun penuh kebanggaan saat tangannya menggenggam lengan Leonardi.
Tapi tatapan Leonardi tidak beralih padanya, pria itu hanya memandang lurus ke depan, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Di sudut ruangan tampak seorang gadis berdiri, dia mengenakan gaun biru malam yang sederhana. Tatapannya sayu dan menyimpan rasa sakit yang tak mampu disembunyikan.
Pandangannya terkunci pada Leonardi, pria yang mengisi relung hatinya selama 10 tahun terakhir. Hatinya berteriak, namun bibirnya membisu.
Seorang MC pria membuka acara dengan suara riang dan penuh semangat.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut pasangan yang berbahagia malam ini! Leonardi dan Alena, selamat atas kebahagiaan kalian!"
Leonardi tersenyum tipis, sementara Alena memeluk lengannya lebih erat.
Alena berbisik kepada Leonardi. "Semua orang melihat kita, Leo. Bisakah kamu tersenyum sedikit lebih lebar?"
"Aku sudah tersenyum. Itu sudah cukup bagiku, jadi terserah apa penilaian orang-orang kepadaku," ucap Leonardi dengan berbisik dan tatapan matanya seperti ingin menikam orang dengan pisau.
Alena tersenyum canggung pada tamu-tamu di sekitarnya, sementara Leonardi tetap memandang lurus tanpa ekspresi.
Sang MC segera menangani suasana canggung itu dengan melontarkan lelucon konyol yang untung saja tak membuat Leonardi mengernyit.
Amelia yang melihat Alena berbisik kepada Leonardi, mengira wanita itu mencium pria itu. Air matanya hampir jatuh, tapi dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba terlihat tegar.
Jangan sampai dia membuat malu dengan menangis meraung-raung di tengah pesta yang meriah ini. Apalagi jika tangisannya terlihat oleh Raka. Pasti akan sangat memalukan!
"Amelia, untung saja aku ketemu kamu. Aku mau ajak kamu hunting makanan."
Tepukan pelan pada pundak Amelia, membuat gadis itu terkejut dan batal menangis. Gadis itu tersenyum saat melihat Raka, lalu mengikuti ke mana pria itu akan membawanya.
Amelia kembali memandang Leonardi, berharap pria itu akan menoleh ke arahnya. Tapi Leonardi tetap seperti patung hidup, indah namun tak terjangkau olehnya.
"Semua orang bilang kita pasangan yang sempurna. Apa kamu mendengarnya, Leo?" ucap Alena memecah kesunyian.
Leonardi sebenarnya tak melepaskan tatapan matanya pada Amelia yang sedang bersenda gurau dengan Raka. Dia bahkan memegang sebuah sendok hingga benda yang terbuat dari stainless itu sedikit bengkok.
Alena yang merasa aneh dengan tindakan Leonardi, lebih memilih untuk diam. Dia tak mungkin mengacaukan pesta pertunangannya dengan berdebat dengan Leonardi.
Malam terus berlanjut, namun bagi Amelia, waktu terasa berhenti. Seiring pesta pertunangan yang masih berlangsung, Amelia sadar jika sebagian dari dirinya juga hancur malam ini.
Amelia meminta izin kepada Raka untuk ke toilet, yang sebenarnya adalah pengalihan gadis itu akan rasa sakitnya. Raka yang terbuai akan makanan enak, akhirnya lalai dan membiarkan gadis itu untuk pergi.
Amelia melangkahkan kakinya menuju parkiran hotel untuk mengambil udara segar, di dalam sana dia merasa sangat sesak. Entah pengaruh banyak orang ataukah hatinya yang sedang sakit, Amelia juga tidak tahu.
"Aku mau keluar sebentar, mulutku asam mau merokok," ucap Leonardi yang segera melangkah keluar.
Alena yang meski merasa dongkol, tak dapat berbuat banyak. Dia membiarkan Leonardi untuk meninggalkan pesta ini tanpa tahu kapan pria itu kembali.
Amelia sedang memandang langit malam yang pekat tanpa adanya bintang yang bertaburan di atas sana dengan hati yang gundah.
Terlalu larut dalam lamunannya, membuat Amelia tidak sadar jika ada sepasang tangan kekar menariknya agar lebih berada di bagian dalam parkiran ini.
Amelia terkejut dan hampir saja berteriak. Aroma parfum Leonardi yang khas pada penciumannya, membuat Amelia sedikit lebih tenang.
"Kak Leo ...," panggil Amelia dengan sendu.
Leonardi menarik napas panjang, matanya menyipit saat menatap Amelia.
"Iya Amel," sahut Leonardi sembari menjulurkan tangannya, menyentuh pipi Amelia dengan lembut.
"Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Amelia dengan bingung.
"Karena aku ingin berduaan denganmu," jawab Leonardi dengan nada datar.
Amelia menggigit bibir, matanya mulai berkaca-kaca. Dia sungguh bingung dengan sikap Leonardi yang berubah-rubah. Sebentar baik, sebentar ketus kepada dirinya.
"Tapi, Kak Leo ... Alena itu tunanganmu. Bagaimana mungkin Kakak dapat melakukan hal ini."
Leonardi menarik Amelia ke dalam pelukannya, berbisik di dekat telinganya.
"Dengar, Mel. Pertunangan ini nggak ada artinya untuk aku. Aku hanya membutuhkan investasi itu," sahut Leonardi dengan seringai sinisnya.
Dia lalu mengecup puncak kepala Amelia, membuat gadis itu melemah di pelukannya.
"Tapi Alena jauh lebih cantik dan seksi daripada aku," ucap Amelia dengan lirih.
"Kamu cemburu?" tanya Leonardi sembari menatap Amelia dalam-dalam, nada suaranya berubah lebih serius.
Amelia menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Cemburu pun aku tidak punya hak untuk itu. Sebenarnya kita ini apa?" Leonardi tersenyum miring lalu mengecup bibir Amelia sekilas, enggan menjawab pertanyaan gadis itu.
Sementara itu, Alena berdiri sendiri ditengah pesta. Tangannya menggenggam ponsel yang memperlihatkan foto Leonardi dan Amelia sedang berbicara dengan serius.
Foto yang didapatkan secara tak sengaja dari salah satu temannya yang menghadiri pesta ini.
Jantungnya berdegup kencang, tapi ia menenangkan diri. Dia yakin semua ini hanya kekhawatirannya semata.
Lagi pula Leonardi dan Amelia adalah kakak dan adik, jadi tak mungkin mereka akan melakukan hal yang melanggar norma masyarakat.
Namun, senyuman tipis di wajah Leonardi saat bersama Amelia membuat hatinya sedikit terusik. Leonardi tak pernah tersenyum seperti itu kepada dirinya.
'Dia akan mencintaiku. Cepat atau lambat, dia pasti akan mencintaiku,' gumam Alena dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Alena akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya, lalu berjalan memecahkan kerumunan tamu pesta yang sebagian sudah pulang. Dia berniat untuk merebahkan tubuhnya yang lelah pada kamar hotel yang telah disewa oleh sang ayah.
Mata Alena memindai keadaan sekitar, mencari di mana keberadaan orang tuanya. Setelah 5 menit mencari, akhirnya dia menemukan mereka dan melangkahkan kaki menuju tempat orang tuanya berada.
Namun baru setengah jalan, langkahnya harus berhenti karena dia mendengar sekelompok wanita muda, sedang membicarakan mengenai acara malam ini. Mengambil jarak aman, tapi tak terlalu jauh. Karena dia memutuskan untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh para wanita itu.
"Gua nggak percaya kalau Alena akhirnya bisa bertunangan juga sama Leonardi, si cowok dingin itu. Dia pakai pelet apa sampai bisa menaklukkan cowok itu."
Matanya terbelalak saat mendengar apa yang dikatakan para wanita itu mengenai dirinya. Tangannya pun mengepal dengan kuat sampai membuat urat-urat tangannya menonjol.